Memiliki hobi makan merupakan hal yang lumrah bagi semua orang. Tapi bagaimana rasanya jika hal itu yang menjadi inspirasi dalam keberhasilan membuka usaha warung makan di tengah-tengah pusat bisnis Jakarta?
Nadya, atau yang dikenal dengan panggilan Nadya Dijut ini adalah seorang pemilik dari warung Nasi Peda Pelangi. Telah memiliki cabang di berbagai daerah, mulai dari Cipete, Cinere, Bintaro hingga Sudirman Central Business Distric (SCBD) yang dikenal sebagai pusat bisnis Ibukota Jakarta. Membuat Nadya berhasil untuk merealisasikan cita-cita sederhana yang terinspirasi dari hobi makan dan masakan sang ibu.
Menjadi seorang lulusan accounting dan bisnis, membuat Nadya tidak pernah berpikiran dapat mencapai titik seperti sekarang ini. Dengan latar belakang yang bisa dibilang bertolak belakang dengan apa yang ia geluti sekarang, Nadya pun merasa senang dapat berbagi kepada customer nya citarasa masakan sang Ibu.
“Karena jujur aku terjun ke bisnis F&B ini juga gakepikiran bakal punya warung karena biasanya berkutit dengan excel, cuman pada satu kesempatan yuk bikin warung kayanya lucu, karena hobi makan itu tadi. Terus kayanya emang nyokap dari dulu seneng banget makanannya dimakan sama temen-temen gitu jadi ketika punya bisnis F&Bdan ada foto nyokap disini kayanya happy banget.”
– NADYA | NASI PEDA PELANGI
Menu yang ditawarkan pun sederhana, yaitu menu masakan yang membuat semua orang yang menyicipinya rindu akan rumah. Mulai dari nasi ayam balado, nasi cumi hitam, hingga signature yang menjadi keunikan dari restoran lain yang mulai menyajikan masakan zaman sekarang, seperti mentai dan makanan fusion lainnya. Nasi Peda Pelangi, berisikan nasi dengan campuran suir ikan peda yang ditumis menggunakan jagung dan tambahan cabai, serta rempah-rempahan dalam bentuk rice bowl. Karena keunikan menu ini Nadya pun sempat mengalami kendala diawal-awal mulai berjualan. Ia menyadari bahwa menjual menu dengan ikan peda pada era mentai bukan menjadi hal yang mudah, Ia harus membutuhkan effort lebih untuk mengedukasi target pasarnya terlebih dahulu.
“Jadi kalo aku runut-runut lagi tuh ikan asin jaman dulu tuh makanan mewah sebenernya cuman entah kenapa, sekarang makan ikan asin tuh gakeren. Makanya jadilah kita tuh pertama kali jualan di Synchronize Fest 2018, nyoba pasar ni dengan market anak muda ni gimana, ga laku sama sekali. Hari pertama tuh ga laku sama sekali akhirnya gue joget-joget depan stage segala macem, sampe ada satu keajaiban didatengin sama mbak Ade food story teller itu, pas sampe rumah mbak ade nge review blablabla inget banget kaya masakan nyokap gue, segala macam.”
– NADYA | NASI PEDA PELANGI
Tetapi selain ketiga menu tersebut, Nadya pun menyediakan menu ibu masak apa hari ini? Untuk mengembangkan menu-menu kedepannya seiring dengan berjalannya waktu. Biasanya menu tersebut akan menampung ide-ide dari pada customer yang datang, lalu para staff sajikan, dan jika mendapatkan respon positif, menu tersebut akan dihidangkan ke dalam menu sesungguhnya di kemudian hari.
Inspirasi yang datang dari sang ibu yang sangat senang jika makanannya di makan oleh orang lainlah yang menjadi salah satu kunci keberhasilannya saat ini. Ia sukses dalam mendatangkan orang-orang yang bekerja di gedung-gedung menjulang tinggi untuk kembali ke rumah saat istirahat makan siang. Selain itu, ternyata ia memiliki goals lain yang ingin dia realisasikan kedepannya bersama para staff dari Nasi Peda Pelangi.
Mulai dari meneruskan Kerjasama dengan para petani untuk distribusi beras yang ia gunakan dalam rice bowl menu Nasi Peda Pelangi. Hingga kerja sama gotong royong dengan UMKM lainnya dalam membuka jalur distribusi sendiri dan mengajak para orang-orang lokal bekerjasama nantinya.
