Berawal dari pengalaman terjun langsung ke dunia kopi sekitar 12 tahun. Membuat Yoshua Tanu belajar mengenai kopi, bagaimana menjadi seorang barista, dan menjadi seorang owner dari sebuah bisnis hingga mengikuti kompetisi di dunia kopi. Itulah yang membuatnya seperti sekarang, sebagai seorang CEO dan Co-Founder dari Jago Kopi yang sudah berdiri sejak akhir 2019.
Memiliki latar belakang dari business economic yang bisa dibilang lumayan jauh dari dunia kopi. Tidak membuat Yoshua berhenti di situ saja, ia sempat masuk ke dunia per-bank an dan bekerja di bank, hingga akhirnya ia terjun langsung pada tahun 2010 dengan membuka café pertama di daerah Kuningan. Di saat itu, sekolah kopi belum ada, karena masih minimnya perhatian jadi, mau tidak mau Yoshua harus turun sendiri.
Pengalaman dari 0 pun, pernah ia lakukan, mulai dari menjadi barista, melayani seorang customer, belajar membuat, belajar cara minum kopi yang benar, karena awalnya Yoshua tidak pernah meminum kopi. Tapi karena ingin membuat bisnis di bidang ini, mau tidak mau proses belajar dari semua aspek pun musti dia lewati dengan waktu yang singkat, karena kalau tidak bisnis ini akan jatuh. Hal ini pun ia lakukan secara autodidak, ia banyak belajar dari barista yang jadi employee di tempat tersebut sekaligus belajar menjadi owner. Jauh sebelum mendirikan Jago Kopi, Yoshua dan partnernya sudah memiliki beberapa brand kopi lain, seperti Common Ground, St. Ali, dan anak kopi.
Walaupun sudah memiliki pengalaman yang terbilang cukup lama, bukan suatu hal yang mudah bagi Yoshua untuk membuat bisnis kopi. Ia memerlukan waktu sekitar 6 bulan hingga setahun kebelakang hanya untuk mengetahui cara membangun bisnis modelnya hingga Jago Kopi benar-benar launching di daerah Jakarta sekitar Desember 2019 – Januari 2020 lalu. Dengan menggunakan konsep beda dari kedai kopi lain, tercetuslah inovasi baru yang bisa terus digunakan kedepannya di Indonesia.
“Apa lagi kalo sekarang kan, kenapa gue mikirin ini tuh, kalau mau ngebangun café tuh mahal, musti rental, dp nya banyak, harga cafenya juga gak murah ya kan, dari interiornya, mesinnya juga mahal, dan banyak banget barista di Indonesia gitu ya dan saya juga sebenernya sama temen-temen bikin organisasi barista.”
– YOSHUA TANU | JAGO COFFEE
Jika seorang barista ditanya “10 tahun ke depan mau apa?”. Mereka semua mungkin memiliki jawaban yang sama, yaitu ingin mempunya kedai sendiri. Tapi balik lagi ke realita yang tidak semudah itu. Kecuali kalian seseorang yang memiliki nama besar, berasal dari keluarga berada, memiliki investor atau menjadi investor.
“Tapi kalo gak ada 2 itu dengan gaji yang UMR, dan dengan nama cafe yang segitu banyaknya, 1 untuk beri oportunitas ke mereka, 2 dengan memberi oportunitas ke mereka dengan harga cafe yang terjangkau banget, dimana kita harganya 10 kali lipat dibawah harga cafe pada umumnya, ke 3 juga sebenernya ini model bisnis traditional Indonesia, bener-bener memajukan pedagang kaki lima gitu kan, tapi gak pernah ada yang modernisasi kan, gak pernah ada yang memajukan dari konsep tersebut, asal kayu asal jalan aja tapi kan sebenernya kita bisa bikin mereka lebih dekat ke customer, lebih gampang untuk jalan, kita punya sepeda cafenya semua full electric, dimana sebagian besar perempuan yang naikin jadi gak cuma buat laki laki karna itu gak perlu tenaga, anybody can be this.”
– YOSHUA TANU | JAGO COFFEE
Pengalamannya pun belum berhenti disitu, pada tahun 2013 Yoshua pun pernah mengikuti championship, tepatnya Indonesia Barista Championship, disaat ia baru mulai membuat café.
“2014 semuanya gue pelajarin, autodidak lebih cepat, karna emang ada time frame kan, kompetisi itu kaya ujian gitu, lo harus belajar semua kalau engga malu-malu in nama cafe gitu kan. Waktu emang lagi pake kopinya enak banget kan dari toraja, menang lah, 2014 menang pertama. Kan biasanya kopetisi ini penting karna setiap pemenang, juara 1, pasti di undang untuk kompit di world barista championship, jadi kejuaraan dunia barista dimana ada 50 sampe 60 orang yang juara 1 dari negara-negaranya.“
– YOSHUA TANU | JAGO COFFEE
Di saat menang juara 1, Indonesia diundang untuk ikut kejuaraan dunia di Italy 2014, dengan level berbeda tentu persiapan yang berbeda pula, hal itu membuat Yoshua lebih mempersiapkan persiapan untuk kejuaraan di tahun berikutnya.
“Tahun 2015 kita compete, menang, masuk ke WBC lagi, untuk kedua kalinya, udah menang tapi masih belum masuk top 12 nih jadi kita ikut lagi tuh tahun berikutnya 2017. Menang di Indonesia terus diundang waktu itu ke Korea, dimana di Korea kita bisa nembus top 12 untuk pertama kalinya, untuk indonesia loh nembus top 12 udah lumayan banget, lumayan ketat lah kompetisinya, dan itu suatu achievement yang lumayan karna bisa menang 3 kali berturut-turut disini, dan gak gampang juga.”
– YOSHUA TANU | JAGO COFFEE
Mobile café, konsep yang dipakai oleh Jago dan bekerjasama dengan kemitraan yang disebut Jagoan ini memakai minimal cost. Mengapa seperti itu? Dengan memakai sepeda yang terpasang 2 batre, listrik yang digunakan akan sangat minim biaya. Jadi, karena tidak ada overhead cost, Yoshua masih bisa mempertahankan kualitas dari produk tersebut. Sebut saja, semua jenis kopi yang dipakai oleh Jago itu berasal dari specialty coffee yang langsung dibeli dari petani.
“Everything we used fresh coffee, fresh milk, fresh cream, fresh mint, semua yang kita pake barangnya asli gak kaleng-kaleng. Bahkan kopi susu kita, semua isinya fresh materials, gulanya juga organic coconut brown sugar, jadi gak ada cutting shortcut lah kalo orang minum tuh mereka harus tau isinya apa gak cuma asal murah atau asal minum aja deh. Kedepannya orang kalo udah minum kopi dari saset terus lu tiba-tiba naik pangkat lo cari yang lebih, ini produk ada tier nya ada rute nya, dimana kita harus menjaga rute tersebut. Kita bisa berikan the real coffee, real costumer that wants to coffee lifestyle bukan cuma menikatkan spending tapi dari pada lo cari coffee di daerah lo coffee yang enak.”
– YOSHUA TANU | JAGO COFFEE
Di Jago Kopi, customer bisa langsung panggil Jagoan kerumah, kedepan kantor, atau menemukannya di tempat umum seperti di stasiun kereta.
“If you want real coffee, if you want affordable coffee yang kualitas yang lebih baik, paling gampang. Ya karna kita ada aplikasi jago kan, kalo lo dirumah males kemana-mana, males bikin kopi pagi, panggil aja Jago Cafe, kita kirim 1 cafe ke rumah lu…Berasal dari community coffee, nama Jago Kopi pun dibuat, mulai dari jagoan komunitas, yang mana ada Jago Kopi, di daerah situ, menjadi daerah sang Jagoan dan bisa disebut dia adalah Jagoan gue.”
– YOSHUA TANU | JAGO COFFEE
Para Jagoan ini pun dipilih berdasarkan training yang lebih dilihat ke personality-nya. Karena training personality akan jauh lebih susah dibandingkan untuk training kopinya sendiri.
“Kita ada training dari 2 sampai 7 hari tergantung dari orangnya sendiri kalo ada basic gak terlalu panjang tapi kalau gak ada basic bisa kita panjangin, dan kita juga ada weekly mockup training. Jadi training kita lebih mengajarkan mereka gimana jadi pembisnis karena ini actually their business kan, jadi gimana mereka bisa meng guide customer, mereka bisa me maintain customer, maintain quality, mencari lokasi yang lebih efisien, gitu sih.”
– YOSHUA TANU | JAGO COFFEE
Menu yang disediakan pun ada dua tipe, fresh brew coffee yang terdiri dari manual brew 360 (which is the best way to brew a coffee) yang mana kita mencari tau karakter dari kopi tersebut dan fresh made coffee. Lalu untuk fresh brewsendiri Jago Kopi selalu menggunakan 100% arabica Indonesia local yang diganti setiap 3 bulan sekali, sebulan dari Toraja, sebulan dari Bali, dan 3 bulan dari Flores. Hal ini lah yang disuguhkan kepada customer yang ingin kopi enak, panas, dan kopi specialty, coffee grate dalam bentuk fresh brew coffee Jago Kopi.
“Kita juga ada fresh made coffee dimana kita udah bikin di pangkalan kami, di pool kami, dimana si jagoannya hanya jobnya untuk menyiapkan coffee tersebut. Salah satu alasan kenapa kita bikin dulu itu karena kebersihan, kedua untuk maintain kualitas sih. Terdiri dari kopi susu, milk chocolate, we used real chocolate with fresh milk, terus kita juga ada Tanah Airku which is cold brew special coffee.”
– YOSHUA TANU | JAGO COFFEE
Tentunya setiap bisnis memiliki tantangan tersendiri untuk menghadapi customer, Yoshua pun sempat mengalaminya bersama para kustomernya.
“Kalo customer palingan kalo dari segi jago coffee, mereka manggil, udah dateng terus mereka sempet keluar, mereka liat, complain nya mereka nunggu kopinya di buatin, jadi mereka mikirnya kaya delivery gitu doang, edukasi juga sih, kita dateng terus mereka ngomong kok masih dibuat sih maunya udah jadi langsung gitu, kan fresh coffee pak, kita emang pengennya ngasih kopi yang bikinnya langsung didepan, experiencenya ada, dan quality basenya. Tapi mereka malah complain males ah nunggunya.”
– YOSHUA TANU | JAGO COFFEE
Para Jagoan yang sudah mulai aktif sekitar 20 orang dari 30 sepeda yang tersedia ini pun sering memberikan report positif kepada Yoshua karena banyak yang memanggil mereka melalui aplikasi, dan karena itu mereka pengalaman yang bagus. Dan tidak sedikit pula appreciate yang di dapat dari para customer.
“Mungkin yang paling gampang mungkin selalu memikiran unique selling point, boleh aja sih kalo ada bisnis yang lagi trend lo coba ikutin tapi itu harus bergerak cepet sekali, kalo udah ketinggalan 3 atau 4 tempat dari pengikut bisnis tersebut mungkin udah ketinggalan.”
– YOSHUA TANU | JAGO COFFEE
