The Man Behind

Dari Kedai Mie Jadi Tempat Nongkrong dan Event Space!

Kesukaan pada makanan dan senang berkumpul dengan teman-teman unutk bertukar pikiran atau bercerita tentang hidup bisa juga untuk menjadi mulanya sebuah bisnis F&B. Angga, merupakan Co-owner dari Twin House. Angga, istri dari Angga, dan teman-temannya adalah salah satu contoh pertemanan yang menghasilkan suatu usaha. Tidak hanya sebagai Co-owner, Angga juga memiliki kewajiban untuk mengkontrol dari Twin House perharinya dan mencari peluang baru untuk Twin House. 

Angga mempunya latar belakang  tehnik industri dan bekerja dibidang telekomunikasi. Sebelum mempunyai Twin House, Angga  bekerja kantoran dan mempunyai pekerjaan atau role sebagai Company Strategy and Business Development. Pada waktu itu Angga bekerja selama delapan tahun dan pada saat itu juga Angga, sang istri dan teman-temannya mempunyai suatu ide untuk membuka suaatu tempat makan atau restoran karena kegemarannya untuk berkumpul dengan temannya. 

“Sebenernya founder Twin House ini berempat, gue, istri gua, partner gue dua, emang temen kuliah gue di tehnik industri, istri gue sendiri hukum. Jadi sebenernya kita bener-bener belajar F&B secara autodidak, bener-bener dari kecil, dulu gak ada yang tau Twin House gimana kan. Kalo scroll Instagram Twin House paling bawah kita tempatnya gak ada ac, jualan cuma yamin, roti bakar, es teh gitu. Pasti gak nyangka deh gitu, pegawai cuma 4. Gue terapin apa yang gue bisa terapin sih. Baby step banget sih, dari kecil sampe sekarang udah 4 cabang.” 

– ANGGA | TWIN HOUSE

Beberapa pengunjung Twin House berfikir bahwa asal nama tersebut menupakan dari bangunan dari restoran Twin House sendiri yang memang terdiri dari dua bangunan rumah yang kurang lebih sama. Padahal, asal nama Twin House karena Angga mempunyai anak kembar yang menjadi inpsirasinya. Pada awalnya, menu yang disajikan hanya ada mie yamin saja, karena Angga dan teman-temannya besar di Bandung. Tahun 2014 merupakan tahun awal dimana mereka membuat menu sendiri yang memang rasa sesuai dengan selera mereka dan membuat tempat untuk menjualnya. Nama pertama dari usaha Angga dan Teman-temannya adalah Twin House Noodle. Pada waktu itu, tidak ada niatan untuk membuat coffee shop seperti Twin House pada saat ini. Tetapi, Angga mengatakan bahwa awal mula membuka usaha ini memang menggunakan modal yang seadanya dan tidak melebihi Rp 50.000.000-, karena, menggunakan bahan seadanya dan tidak membayar sewa tempat. 

Seiring berjalannya waktu, Twin House  ini menambahkan pilihan menu. Seperti Somay, Roti Bakar, Es Teh dan Es Jeruk. Dengan menambah pilihan menu, banyak booking an tempat untuk acara seperti acara ulang tahun bahkan pernikahan. Setahun berjalan, Angga dan teman-temannya pun berfikir untuk menutup Twin House karena memang membutuh uang untuk menghasilkan uang, dan halsilnya pun tidak menutupi oprasional. Akan tetapi, Angga percaya masih ada kesempatan dan harapan untuk Twin House kedepannya, karena masih jarang restoran yang menawarkan konsep outdoor atau garden. Karena merasa adanya peluang, Angga dan teman-temannya pun membulatkan niatnya untuk menambah ruangan indoor , adanya AC dan memperluas dapur dan menambah karyawan. Tetapi, barang-barang seperti interior, Twin House menggunakan barang bekas pakai dan tentu masih layak pakai dan sedikit dimodivikasi.

“Ya alhamdulillah dari situ animonya besar dan muncul lah si trademark kita yaitu pintu kuning. Itu juga pintu kuning gak by design. Jadi awalnya, si renald punya restoran harus tutup lah, didalem ada pintu kuning, sekat antara smoking no smoking. Terus pas kita test food disana kan, bro ini kayanya buat kita aja, kita lagi nyari pintu, tapi ukurannya pas gak nih, udah lah bawa aja. Pas dibawa nih, dibongkar, bawa ke Cipete, gak muat. Jadi kita tambahin bata terus pas tuh di tengah. Tadinya tuh kita mau chat putih, cuma pas liat kaya jangan deh, malah jadi trademark gitu. Makanya sampe sekarang di semua outlet ya itu jadi ciri khas.”

– ANGGA | TWIN HOUSE

Makanan yang disajikan Twin House merupakan makanan comfort food yang sederhana. Penjelasan didalam menu sama persis dengan apa yang pengunjung pilih. Memiliki rasa yang mudah diterima oleh lidah, tetapi tetap ada keunikannya. Untuk keluruhan, Twin House menjual 60% makanan indonesia, menu lain pun terdapat fusion food dan ada standard brunch. Sekarang, Twin House sudah menyediakan makanan yang bisa dikatakan sedikit sehat. Semua menu yang menggunakan nasi, sekarang mempunyai pilihan pengganti yaitu shirataki rice dan shirataki noodles. Ada alasan tersendiri mengapa Twin House mempunyai tembok warna putih didalam ruangan, alasannya adalah agar tamu yang datang dengan mempunyai suatu acara, bisa mendekorasi tanpa adanya penabrakan warna dekorasi dan warna tembok, tentu dengan syarat tidak merusak properti dari Twin House. 

Tahun 2017, kopi mulai menjadi satu trend dari banyaknya masyarkat. Angga dan teman-temannya pun penyuka kopi. Dari itu lah Angga mengulik untuk membuat kopi berstandart specialty coffee untuk Twin House. Kopi yang khas dan berbeda dari yang lain milik Twin House Bernama Nakula Sadewa, terbuat dari Americano Coffee Base yang dibuat menjadi es dan dicambur susu yang sudah diberi perasa. Nakula Sadewa ini juma merupakan menu kopi yang banyak penggemarnya hingga sekarang. 

Tidak hanya mempertikan makanan dan minuman yang akan disajikan atau yang akan diadakan pada menu Twin House, Angga tidak asal untuk memilih tempat jika Twin House ingin membuka cabang. 

“ Twin House ini konsepnya rumah dengan garden space dan kita bisa buat event. Itu kaya parameter prioritas utama yang membedakan dari tempat lain. Jadi, jadi gue nge balance sih, makanan enak, kopi enak, tempat enak. Plus nawarin tempat event, lo akan senyaman itu bikin event dari mulai party sampe big wedding kita bisa. Bahkan kita pernah wedding 700 orang, itu yang di cipete.”

– ANGGA | TWIN HOUSE

Angga mengatakan bahwa dari segi marketing dari Twin House, harus seimbang antara marketing online dan offline. Tetapi Angga lebih milih untuk mendakatan diri dengan sekeliling atau dengan community. Mempunyai target market keluarga dan mendekatan Twin House dengan komunitas ibu-ibu muda, ibu-ibu arisan yang menjadi salah satu  strategi marketing dari Twin House. Menurut Angga, tidak harus untuk membayar food blogger atau influenser dan semacamnya, karena Angga percaya hanya dengan mengundang mereka untuk datang dan memberikan pelayanan baik dan makanan, minuman yang enak mereka akan mem posting dengan sendirinya.  

“ Nomer satu put your heart sih, paling penting, jangan setengah-setengah, kalo emang udah yakin dengan bisnis lo, produk lo,go for it. Yang kedua, find uniqueness. Dalam arti di F&B bisa dibilang apa ya, keras banget sih, dalam artian semua orang bisa bikin, semua orang bisa masak, semua orang suka makan, semua orang bisa jadi food blogger, semua orang bisa jadi chef. Lo perlu ngeliat market, kompetitor, lu mau main dimana. Itu yang harus lo set dari awal, dan lo harus divine dari awal. Dan yang terakhir yang penting baik-baik sama customer dan pegawai. Bagaimana pun juga pegawai lo yang ada didepan. Baik-baik sama tetangga kalian, kolaborasi. Walaupun jualan samasama kopi, sama-sama jual nasi goreng, tapi disini kita bertemen dan bersistem yang positif buat semuanya. Bisnis lo harus ber impact yang bagus ke sekitar lo. Itu sih.”

– ANGGA | TWIN HOUSE

Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Leave a Reply

Discover more from Tworubber

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading