Street Food

NASI UDUK LEGENDARIS JAKARTA!

Nasi uduk menupakan makanan khas betawi yang memang tidak perlu di ragukan lagi rasanya. Dibuat dari bahan dasar nasi putih yang diaron dan dikukus dengan santan, serta dibumbui dengan pala, kayu manis, jahe, daun serai dan merica. Emping goreng, tahu goreng, telur dadar / telur goreng yang teriris, dan abon kering, tempe, bawang goreng, ayam goreng, timun serta sambal kacang biasa menjadi lauk atau pelengkap nasi uduk agar rasa semakin nikmat.

Banyak tempat makan yang menjual nasi uduk dan hingga sekarang banyak variasi baru sebagai daya tarik penjualan. Tapi kadang kita melupakan tempat yang menjual nasi uduk yang sudah bertahun-tahun jualan nasi uduk. 

Berikut beberapa tempat makan legendaris yang menjual nasi uduk;

Nasi Uduk Bu Sum  (Jakarta Barat)

Seperti nama tempat makannya, sang pemilik ibu Sum menjual nasi uduk dari tahun 1981. Awalnya ibu Sum menjual nasi uduk di daerah Pasar Baru. Pada tahun 2008, ibu Sum pindah ke daerah Manga Dua yang lebih tepatnya ada di jalan Jl. Mangga Dua Raya No.55, Pinangsia, Kec. Taman Sari, Kota Jakarta Barat. Disini, bu Sum menjual lebih dari 40 varian lauk untuk menemani nasi uduk yang gurih. Lauk seperti orek tempe, bihun goreng, pete goreng, ayam goreng dan masih banyak lagi. Nasi Uduk Bu Sum juga mempunyai sambail kacang yang mempunyai rasa kacang yang kuat dan tidak telalu pedas untuk rasa yang lebih komplit.

Untuk jam buka, dahulu, ketika masih di pasar baru, Nasi Uduk Bu Sum baru  mulai buka jam 12 malam sampe jam 5 pagi. Setelah pindah ke Magga Dua, jam buka berubah menjadi jam 10 malam sampai jam 3 pagi. Namun ada permintaan dari pelanggan setia Nasi Uduk Bu Sum untuk membuka tempat makan tidak terlalu malam. Mendengar permintaan tersebut, bu Sum lalu mengubah jam bukanya menjadi jam 8 malam sampai jam 1 pagi. Tetapi, setelah adanya pandemi, bu Sum dan seluruh karyawan harus mematuhi peraturan dan berfikir bagaimana agar tetap ada pemasukan dan tidak merugi. Maka dari itu, Nasi Uduk Bu Sum buka pada sore hari yaitu pada pukul 5 sore hingga jam 7 malam untuk makan ditempat, setelah itu hanya boleh untuk take away

Laku atau tidak setiap harinya bukan berdasarkan porsi yang terjual, melainkan habisnya semua lauk yang tersedia. Dari dulu, lauk yang dibuat oleh bu Sum sendiri memang selalu habis, karena ternyata memang banyak penggemar yang datang malam hari untuk menyantap nasi uduk buatan bu Sum ini. Tetapi, selama pandemi ini, tentu terasa pengurangan pelanggan yang datang. Oleh karena itu untuk saat ini, bu Sum mengurangi porsi pembikinan lauk agar bisa tetap bertahan. 

“Bener bener ngaruh ini psbb, ya mau gimana lagi? Yang penting kita bisa jualan lah gak kaya bulan maret kemaren kita gak bisa jualan, gak bisa ngapa-ngapain. Ya begitu dah yang penting kita bisa muter, anak anak bisa kerja, kasian kalo kita tutup, anak anak gak punya kerja iya kan? Ya yang penting ada jalan dan sebisanya aja” kata pak Muslihan, keponakan dari bu Sum.

Harga perporsinya memang tergantung lauk apa yang kita pilih. Semakin kita menambah menu lauk, semakin harganya tinggi. Paling standard  harga perporsi adalah Rp 15.000 sampai Rp 20.000 dengan dua sampai tiga lauk pilihan. Yang menjadi lauk favorit tentu ayam goreng ciri khas bu Sum, pete goreng dan sambal kacang yang menggugah selera pengunjung. 

 



Kota Intan (Jakarta Pusat)

Berawal dari menjual kerang kiloan di daerah Lokasari. Ibu meimei mulai jualan dari tahun 1972. selama sepuluh tahun ibu Meimei menjual kerang, lalu dengan ada penggusuran tempat di daerah Lokasari, ibu meimei menemukan tempat untuk meneruskan jualan di daerah Gambir, di Jl. Kyai Haji Samanhudi, Gambir, Ps. Baru, Kecamatan Sawah Besar, Kota Jakarta Pusat. Setelah pindah, ibu Meimei dan keluarga yang membantu tidak hanya menjual kerang kiloan saja, tetapi menjual nasi uduk dan berbagai macam lauk.sudah bertahun-tahun ibu Meimei dibantu dengan adiknya lalu dengan istri dari adiknya dan beberapa pekerja yang membantu ibu Meimei stiap harinya.

Kota Intan adalah nama tempat makan yang dibuat oleh ibu Meimei dan keluarga. Ibu Meimei memang orang sunda yang besar di Bandung. Dahulu, ibu meimei mempunyai seseorang yang membantunya masak dirumah yang memang orang kota Garut.

“Dia bilang, dari garut ke bandung kan Cuma setengah jam, digarut itu ada kota intan. Jadi kota intan dia yang namain. Kita sama-sama sunda, jadi dia yang namain kota intan ini”

Kota Intan ini memang terkenal dengan nasi uduk yang gurih, lauk yang mempunyai rasa yang sangat nikmat. Tidak melupakan kerang yang dari dulu memang menjadi makanan awal yang dijual. Kota Intan juga dikel dengan nasi uduk dan lauk yang tidak pernah habis. Karena rumah dari ibu Meimei dekat dengan tempat jualannya, ibu Meimei bisa membuat kembali nasi uduk dan lauk yang habis. Lauk yang disediakan berbagai macam, seperti kerang, ayam goreng, bebek goreng, tahu tempe dan masih banyak lagi. Tentu yang menjadi pilihan banyak orang yaitu ayam kerang dan ayam gorengnya. Sambal khas Kota intan juga harus dicoba, dengan rasa pedas gurih yang tertu membuat nagih.  

Harga yang diberikan mengikuti zaman dan berfariasi. Jika harga bahan pangan sedang turun, maka harga jual pun turun. Begitupun sebaliknya, jika bahan pangan sedang naik, maka harga jual pun naik. Harga mulai dari  tempe Rp 2.500, ayam goreng, bebek goreng dan lain lain memiliki harga Rp 10.000 sampai Rp 40.000, dan kerang dengan harga Rp 5.000. Harga dari nasi uduk nya sendiri adalah Rp 10.000 dan tidak akan menyesal dan tidak cukup membeli hanya satu porsi. 

Kota Intan buka pada jam 5 sore sampai jam 2 pagi pada waktu itu. Sekarang, setelah adanya pandemi, Kota Intan buka pada jam 5 sore sampai jam 8 malam untuk makan ditempat, jika datang lebih dari jam 8, pengunjung boleh makan dimobil atau membawa pulang makanan yang sudah dibeli. 


Nasi Uduk Kebon Kacang Zainal Fanani (Jakarta Pusat)

Sudah sejak lama daerah Kebon Kacang terkenal dengan nasi uduk. Karena daerah Kebon Kacang sangat luas, dan uniknya nasi uduk pada zaman itu, membuat banyak yang menjual nasi uduk dengan nama Nasi Uduk Kebon Kacang. Tentu dengan nama yang sama bukan berarti rasa dan cara penyajiannya juga sama. Kita tidak bisa berbicara nasi uduk di daerah Kebon Kacang tanpa berbicara tentang Nasi Uduk Kebon Kacang Zainal Fanani. Pada awalnya, tidak ada nama sang pemilik, tetapi banyak yang mau mengikuti dan mengaku-ngaku. Kerena memang Nasi Uduk Kebon Kacang Zainal Fanani yang paling terkenal dan paling banyak pembeli dari dulu hingga sekarang. Berawal pada tahun 1967 Nasi Uduk Kebon Kacang Zainal Fanani ini mulai menjual nasi uduk. 

“Sebelum pandemic banyak porsi yang terjual dan banyak juga yang niru tapi yang pertama yang ini. Kenapa ditiru? Karena dulu kan banyak yang ngambil nama nasi uduk kebon kacang gitu. Ini kenapa kita kasih nama, kalo pake nama gini kan gak bisa ditiru. Soalnya kebon kacang luas dari 1 sampai 40, jadi banyak yang pake nama nasi uduk kebon kacang. Nah makanya sekarang pake nama, udah nama paten gitu”

Salah satu yang menjadi ciri khas dan membuat berbeda adalah, Nasi Uduk Kebon Kacang Zainal membungkus  nasi uduk dengan daun yang berukuran kecil, lipatan daun yang tidak semua orang bisa lakuk. Harga perbungkus kecil nasi uduk ini hanya Rp 3.000 saja, dan pasti tidak bisa hanya makan satu bungkus. Rasa gurih dari nasi uduk ini tidak bisa ditemukan ditempat lain. Menu lauk sebagai pelengkap tentu ada, ayam goreng, tahu dan tempe goreng, pete goreng sampai sate udang pun ada. Dengan harga yang berbeda-beda mulai dari Rp 3.000 an sampai Rp 20.000 an. Tidak lupa dengan sambal kacang yang asin, manis, pedas berpadu jadi satu dan membuat makanan semakin nikmat. Dan lauk yang paling banyak dipilih oleh pelanggan tentu ayam gorengnya. Hadulu, ayam goreng ini bisa terjual sampai 150 ekor. Karena adanya pandemi, sekarang terjual hanya 50 sampai 70 ekor. 

Awalnya, Nasi Uduk Kebon Kacang Zainal Fanani menjual nasi uduk sangat sederhana dan dipinggir jalan. Seiring berjalannya waktu, pak Zainal menyewa tempat yang lumayan besar dan nyaman untuk para tamu. Menyewa tempat sampai tahun 2000 dan akhirnya membeli tempat yang memang letaknya hanya disamping tempat lama. Kebon Kacang Zainal Fanani berada di Jl. Kb. Kacang 8 No.5, Kb. Kacang, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Dan di alamat yang sama sampai sekarang. Dan sekarang, Nasi Uduk Kebon Kacang Zainal Fanani mempunyai tiga cabang yang ada di Radio Dalam, Alam Sutra, dan tentu di Kebon Kacang. 

Sebelum pandemi, Nasi Uduk Kebon Kacang Zainal Fanani mulai beroprasional pada jam 10 pagi sampai 12 malam. Setelah pandemi, Nasi Uduk Kebon Kacang Zainal Fanani tetap buka jam 10 pagi sampai jam 8 malam untuk makan ditempat, dan tutup jam 10 malam. 


Nasi Uduk Gondangdia Cahaya Asli (Jakarta Pusat)

Berawal dari kesepakatan enam saudara, kakak beradik untuk membuka suatu usaha. Membuka usaha tempat makan yang menjadi pilihan ke enam saurada tersebut. Mencari-cari tempat untuk memulai usaha yang akhirnya menemukan tempat di daerah Godangdia pada tahun 1993. Pada waktu itu, Nasi Uduk Gondangdia masih menggunakan tenda sebagai tempat jualan. Setelah sepuluh tahun, Karena beberapa alasan, Nasi Uduk Gondangdia pindah pada tahun 2013 yang memang pemilihan tempat yang tidak terlalu jauh dari Gondangdia. Dari tahun 2013 hingga sekarang, Nasi Uduk Gondangdia berada di Jl. Cikini IV No.12, RT.15/RW.5, Cikini, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat. Tempat baru tersebut sudah berbentuk restoran, banyak tempat duduk tersedia, cukup luas dan nyaman. Kesukaan terhadap nasi uduk juga mendorong enam saurada ini untuk menjual nasi uduk ciri khas mereka yang bisa dinikmati banyak orang. 

Dari jam 10 pagi sampai 10 malam Nasi Uduk Gondangdia Cahaya Asli siap melayani calon pembeli. Disini, menyediakan nasi uduk yang sudah dibungkus daun berbentuk segitiga tinggi. Setiap nasi uduk tentu harus ada lauk yang menemani, ayam goreng, tempe dan tahu goreng pasti ada sebagai pilihan. Nasi Uduk Gondangdia Cahaya Asli juga mempunyai sambal merah yang memberikan sensasi pedas agar makanan terasa lebih nikmat. Kisaran harga untuk satu porsi adalah Rp 40.000 dan ada yang Rp 30.000 sesuai lauk yang dipilih.Harga perlauk ada yang Ro 20.000, ada yang Rp 7.000, Rp 4.000 dan ada yang Rp 10.000 an.

“biasanya 50 porsi sampai 100 porsi kita jual tiap harinya. Tapi karena pandemi berkurang. Dari yang krisis tahun 1998 juga udah krisis banget, semua restoran pada tutup tapi kita bertahan sampe sekarang.” 

Setiap tempat makan memilii rasa yang berbeda-beda, tetapi semua tempat makan menyajikan rasa yang enak dan membuat kita ingin kembali lagi. Jika belum pernah, pasti penasaran akan rasa yang diberikan di tiap-tiap tempat makan nasi uduk ini.

Jadi, mau mencoba yang mana dulu ya?

Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Leave a Reply

Discover more from Tworubber

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading