UMKM

Berfokus pada Take Away dan Delivery, Bearrito Perkenalkan Mexican Street Food

Sejak melandanya pandemi di Indonesia, banyak sekali sektor-sektor yang terdampak. Bukan hanya karyawan, namun juga usaha-usaha besar maupun menengah. Tidak hanya segelintir yang dikurangi pendapatannya untuk penyesuaian keuangan, maupun di PHK. Namun, hidup terus berjalan. Pemasukan tetap harus ada untuk menghidupi keluarga. Tidak sedikit yang akhirnya melihat sisi positifnya dan memanfaatkan peluang yang ada. Seperti pasangan suami isteri Adit dan Alanda contohnya. Mereka terdorong untuk membuka bisnis food & beverage (F&B), untuk mencari tambahan untuk menghidupi keluarga kecilnya, serta membuka lapak kerja untuk mereka yang kehilangan pekerjaannya. 

Adit merupakan salah satu praktisi PR dan latar belakangnya banyak berkecimpung di duna media. Sempat menjadi penyiar radio, kemudian bekerja di Istana Presiden sebagai junior assistant juru biara presiden selama 4 tahun, melanjutkan kariernya dengan berkabung dengan tim kampanye sebagai media public relation, berkiprah ke London untuk bekerja di Indonesia Investment Promotion Centermengurus aset digital PSSI sampai akhirnya bekerja di salah satu e-commerce di Asia Tenggara, Adit kemudian memutuskan untuk membuka Bearrito bersama dengan istrinya. Sebagai Pelengkap, Alanda yang juga sebagai pemilik dari Bearrito lebih banyak berkecimpung di dunia marketing sesuai dengan jurusan kuliahnya. Ia pernah bekerja untuk salah satu perusahaan FMGC di Indonesia dan membuka bisnisnya sendiri berjualan es krim home made.

Bearrito mulai menerima pemesanan pada tanggal 27 Juni 2020. “Awalnya kepikiran buat bikin Bearrito tuh lumayan sederhana. Kita sudah 5 tahun menikah. Awalnya sebenernya tinggalnya di luar negri karena sekolah, kerja, dan lain-lain. Dan dulu tuh kita kalau mau pergi cari makanan Mexico tuh lumayan gampang, dan makanan Mexico tuh harusnya affordable. Di Mexiconya sendiri kan kayak Taco tuh, makanan yang bisa dibeli dengan murah. Rp.10.000,- lah mungkin kalau disini. Nah, di Jakarta tuh susah banget buat nyari makanan Mexico. Ada tapi lumayan jauh, terus mahal dan harganya di atas Rp.70.000,- semua. Pas nyampe, dikit porsinya. Jadi buat kita yang dulu sering makan macem-macem, agak bosan juga ya gak ada makanan Mexico. Paling disini makanannya kanyang banyak kayak makanan Jepang atau Chinese food,” pungkas Adit dan Alanda.

Keduanya mengaku ingin berfokus kepada take away atau delivery. Menurut mereka masih sedikit di Jakarta paling tidak, yang fokus kepada take away. Padahal menurut mereka potensinya cukup besar.

“Zaman generasi ibu kita, tante kita, dirumah masih masak. Tapi kalau di Jabodetabek, sekarang umuran kita kayaknya masak itu sesuatu yang hassle banget gituGak punya waktu buat masak. Gue daripada setengah jam buat masak, mendingangue liat Instagram atau nonton Youtube. Buat makan take away aja lah, dan biar kita yang ngurusin. Pengennya seperti itu. Dan pada saat kita ngomongin take away, bukan berarti kita gak mikirin packaging-nya, gak mikirin kualitas, rasanya, bukan yang penting makanan kejual, enggak. Tapi kita pikirin gimana caranya kalau orang yang terima makanan kita itu tetep enak rasaya. Pasti kualitasnya turun pastilah gamungkin engga karena delivery. Tapi sebisa mungkin kita jaga kualitasnya sampai standard yang kita inginkan.”

Melihat antusiasme masyarakat, Adit dan Alanda cukup kaget karena ternyata banyak yang memesan, padalah rumahnya jauh atau tinggal di luar kota. Banyak yang bertanya apakah bisa dikirim same day atau tidak. Sementara menurut mereka sebenarnya dengan cara seperti itu dapat menurunkan kualitas makanannya, karena berbeda antara pengiriman setengah jam dengan 6 jam perjalanan pengiriman. Dari situ mereka belajar akan perilaku konsumen di Jabodetabek.

Arti kata Bearrito itu sendiri sebenarnya tidak sebegitu filosofisnya. Kedua pasutri ini tinggal di jalan beruang yang notabene gang kecil. “Jadi kita mikirnya ya Sudah dikasih nama Bear, kalau ‘ito’ itu kecil artinya, di bahasa Spanyol. Kalau kita kombinasikan jadi Bearrito, jadi kayak beruang kecil. Kita juga sudah punya anak dan dia kayak beruang gitu perilakunya. Idenya Bearrito kita pengen bikin burrito awalnya,” tambah Adit dan Alanda.

Berkecimpung di dunia F&B bukan sesuatu yang asing untuk mereka berdua. Adit dahulu sempat bekerja part time pada saat kuliah di sekolah masak. Disana ia belajar banyak tentang bumbu-bumbu masakan dan bagaimana bisa mix & match menciptakan rasa yang menggugah selera. Namanya, Spice Bazaar di melbourne. Setelah itu ia juga sempat bekerja di restoran Korea berjudul Kimchi Grandma di Melbourne. Dari situ ia mempelajari ketangkasan dan kecepatan di dalam kitchen. Karena menurutnya restoran Asia itu jauh lebih cepat temponya. Konsep take away sendiri ia pelajari pada saat ia bekerja sambilan sebelum menunggu pekerjaan tetap di Inggris. Bagaimana sebetulnya preparation dari konsep take away itu sendiri, bahkan disana ia mempelajari ada beberapa bahan yang harus disiapkan sebelum hari H. Alanda sendiri juga sempat bekerja di salah satu toko cupcake di London, yang kondisinya selalu ramai. Sehingga ia juga belajar ketangkasan dan kecepatan dalam bekerja di F&B. Sehingga mereka memiliki modal yang cukup untuk menjalankan Bearrito supaya bisa memenuhi keingingan customer.

Konsep menu dari Bearrito adalah Mexican food. Mulai dari Burrito dengan 2 macam yaitu daging ayam dan daging sapi, kemudian ada juga Taco dengan 2 pilihan daging yang sama. Selain itu Bearrito juga menjual Quesadilla dengan isian ground beef dan lelehan keju, serta ayam goreng khas Mexico dengan spices yang berani yang dapat dirasakaan sampai kedalam dagingnya.

“Intinya sebenarnya yang mau kita bawa, street food Mexican. Harus dicobain karena sebenarnya gak jauh beda sama masakan indonesia, dari segi taste. Kita cuma nyediainmenu dengan bahan yang halal, karena biasanya Mexico kan ada babinya,” jelas Adit dan Alanda.

Kedepannya, Adit dan Alanda akan membuka gerai pertamanya di Cipete. Adit yang sudah melakukan research berhubungan dengan creative city pada tahun 2016, mengatakan bahwa Cipete akan menjadi the next big thing.

“Ada yang namanya creative city mata pelajarannya. Pada dasarnya menjelaskan bagaimana sebuah kota bisa hidup dari cultural space. Contoh SOHO, tadinya itu bekas pabrik terus dijadikan tempat karya seni. Display art. Dan yang dipelajari adalah ternyata karena cultural itu flowing, di Jakarta juga seperti itu. Awalnya di Jakarta itu  creative space-nya itu di Cikini karena ada IKJ. Dari Cikini, geser ke Tebet yang ada Ruang Rupa. Dari sana geser ke Kemang, ada Rolling Stone. Dan sekarang geser ke Cipete, dimana 4 tahun yang lalu, udah ada Double Deer. Gue ngeliat itu dari music scene, dan itu bener berkembang, ternyata sekarang momentum-nya dapet. Kopi,  semua ada disana. Tuku, Dua Coffee, Jakarta Coffee House, Chief,” jelas Adit dan Alanda.

Kemudian ketika ditanya mengapa Jakarta Selatan, jawaban Adit dan Alanda sebagai berikut, “Kenapa pengen nyasar ke Jakarta Selatan, kita pengennya, kan kita namanya the south Mexican dealer, jadi setelah Tangerang Selatan, ya Jakarta Selatan. Jadi southdulu, fokusnya Tangsel dan Jaksel,” tutup Adit dan Alanda.

Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Leave a Reply

Discover more from Tworubber

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading