Putri Halim, selaku owner dan chef dari Blooms Doughnut and Bakery. Selain memasak dan baking, Putri juga berkecimpung di bisnis keluarganya dalam bidang pabrik ban dan hotel. Fakta menarik lainnya adalah Putri adalah seorang lulusan jurusan Economic and Finance di United Kingdom. Ia juga lulusan dari Le Cordon Bleu, London.
“For me baking is more of a… it’s a job sih. I mean honestly i am not being like oh it’s something that i like, it’s a calling of mine and stuff. Engga. Saya butuh duit kak. Essentially why do i go in a path of baking karena in restaurant business cost-nya is really high, with baking you just need a couple of ingredients and that’s it gitu loh.”
– Putri Halim | Blooms Doughnut and Bakery
Menjadi seorang baker bukan merupakan cita-citanya sejak kecil. Pada saat SMP, ia sangat gemar main basket sehingga ia mencita-citakan dirinya sebagai pemain basket. Ia juga pernah ingin menjadi musisi namun merasa dirinya tak bisa menyanyi. Sampai pada akhirnya, Putri menyadari bahwa ia sangat mahir menggunakan tangannya. Maka ia memilih untuk memasak. Sebenarnya memasak sudah mendarah daging karena bapak dan ibu Putri juga gemar memasak. Akhirnya terciptalah Blooms Doughnut and Bakery yang menyajikan berbagai jenis dessert yang dibuat dari hati.
“we experiment food a lot. Karena aku juga dulu pernah kerja di gastronomy, molecular gastronomy. Jadi aku pas ngajarin mereka full 1 tahun setiap hari. Bener-bener kayak sekolah. Karena kalau orang sini, dari restoran lain gak dikasih ilmu sama sekali. Recipe boro-boro, ilmu juga boro-boro. Jadi aku, i have to like, polesmereka from a to z kayak gitu. Jadi aku introduce dari very basic knowledge of French cooking. Karena aku emang tradisionalnya dilatihnya french cuisine. Terus sudah deh aku latih terus basic cuisine, basic pastries, baru aku move on to molecular. Mereka bikin edible balon, banyak deh yang mereka udah bikin-bikin.”
– PUTRI HALIM | BLOOMS DOUGHNUT AND BAKERY
Apabila ditanya mengapa donat yang menjadi menu andalan utamanya, jawaban Putri adalah karena ia tumbuh dan besar dengan brand Dunkin Donuts. Ia juga menyadari bahwa orang indonesia tidak bisa memakan makanan yang terlalu mousse atau terlalu berat seperti contohnya yang cream based dan sesuatu yang kental. Menurutnya di Indonesia orang juga belum banyak yang mau mengeluarkan uang Rp.40.000,- untuk sebuah croissant. Kebanyakan akan memilih nasi padang yang akan mengenyangkan. Sehingga hal tersebut juga membuat culture clash untuk berbisnis. Menurutnya, ia tidak perlu dengan susah payah menjelaskan lagi apa itu donat, karena di Indonesia, bahkan di minimaret pun menjual donat. Belum lagi donat pasar.
” Konsep Blooms it’s more of an artisan basically everything, i only have kayak staff-nya dikit banget, yang kerja buat baking it’s only 3. Kalau mereka bikin donat and stuff ya of course kayak ada yang berbeda ada yang tidak. Because it’s artisan, it’s not pabrik. Kalo pabrik kan apa-apa semua secara otomatis sama, dan aku lebih suka kayak gitu karena ada sisi, it’s a human yang bikin. Jadi you guys are experiencing what they are making gitu juga loh.”
– Putri Halim | Blooms Doughnut and Bakery
Staff baginya adalah adalah keluarga keduanya. Tapi Putri selalu mendidik mereka dengan keras. Tujuannya untuk meningkatkan kualitas pribadi para pekerja. Karena Putri sendiri sudah pernah merasakan bekerja di luar negeri. Menurutnya sangatlah berbeda kualitas pekerja Indonesia dan luar negeri.
“Sorry ya buruh disini tuh sangatlah manja. Manja sampe greget bangetkadang-kadang. Malahan cowo-cowo lebih manja daripada cewe-cewe. Aku disini maunya cewe sama cowo harus bisa semuanya, gak terkecuali lu cewe. Misalkan kayak dulu staff aku suka telat. Aku konci gerbang, lo sit up dulu. Lo telat 5 menit, 500 sit up. 10 menit 1000. Yaudah i tungguin, ada kali setengah jam sampe 45 menit, beresin sampe lo selesai, gak mau tau. Gue udah bilang sama lo gak mau lo telat. Eh lo telat-telat lagi yanot my fault. Lo udah tua bangka, masih gak bisa atur waktu, yah yasudah lah bye, do the sit up please.”
– Putri Halim | Blooms Doughnut and Bakery
Untuk kesetaraan gender sendiri, Putri menganggap untuk zaman sekarang lebih baik. Namun ia masih melihat banyaknya celebrity chef yang menjual looks ketimbang dengan skill-nya. Tetapi ia menganjurkan untuk para perempuan dalam ranah bisnis F&B, harus bisa lebih greget lagi. Tidak boleh kalah dengan laki-laki. Harus tahan banting dan melebihi standard laki-laki.
“Kalo cowo standar-nya segini kalo cewek harus lebih. Kalau cuma standar-standar juga nanti dibilanginnya ‘ah gue juga bisa.’ Jadi harus lebih. Ya you live in Indo, you can’t deny, orang-orangnya kayak apa.”
– Putri Halim | Blooms Doughnut and Bakery
