Uncategorized

Membangun Bisnis Bersama Teman-Teman Memiliki Tantangannya Tersendiri

            Dibangun bersama teman-teman, Mantis Eatery berdiri sejak Agustus 2019. Berletak di kawasan Pondok Indah, Mantis Eatery yang memiliki bangunan yang mungil mengharapkan grup ataupun keluarga sebagai tamu mereka, karena menghadirkan suasanya yang lebih intimate. Suasana yang lebih hidup ketimbang satu-satu sibuk dengan laptopnya masing-masing.

            Diaz, Bobby dan Naldi serta beberapa partner lainnya berteman sudah cukup lama. Masing-masing dari mereka memiliki background yang berbeda-beda. Mereka bersatu dan berkontribusi dibidangnya masing-masing. Diaz bertugas mengurus brand, Bobby yang bekerja di PR agency dan digital agency membantu dalam promosi dan media sosial, sedangkan Naldi lebih involve di dapur untuk pengembangan makanan dan minuman. Naldi adalah lulusan Le Cordon Bleu Amerika, yang sudah 15 tahun terjun ke dunia makanan. Sehingga ia mencoba untuk explore apa yang belum ada di sekitaran untuk Mantis Eatery. Selama kurang lebih 1 minggu, mereka menggarap menu terlebih dahulu, lalu konsep, mereka develop dan akhirnua bisa diterima oleh keluarga dan teman dekat.

            Sempat merasa pressured karena makanan yang sudah jadi dan tempat yang sudah tersedia, namun mereka belum medapatkan nama yang cocok. Makanan yang di develop terinspirasi dari Asia, spirit-nya Asia. Akhirnya Diaz memutar otak, apa yang bisa mewakili tempat yang kecil dengan makanan Asia. Akhirnya ditemukanlah nama Mantis yaitu salah satu karakter yang berada di film Kungfu Panda. Kecil dan hanya ada di Asia. Lalu diberikan functionality ‘Eatery.’ Menu yang disuguhkan dicomot dari semua region Asia Tenggara, seperti Vietnam, Taiwan, Malaysia, dan masih banyak lagi. Signature food  mereka adalah Calamari dan Buttermilk Chicken. Sedangkan untuk minuman adalah Strawberry Basil dan Kopi Soda.

“Gue liat identity kita kuat, produk kita sudah kuat, sudah cukup segmented. Cukup beruntung dengan partner-partner ini, mereka sudah divine si karakternya. Jadi secara angle dan branding di sosmed kita tau arahnya mau kemana. Apa yang mau kita kejar dari sosmed atau promotion lainnya sudah jauh lebih enak. Strateginya organik, karakternya yang kita kuatin, dan kita berjualan produk.”

Jelas mereka bertiga. Hal ini juga diproyeksikan melalui interior mereka yang juga dibuat sendiri oleh partner mereka. Seorang handyman yang membuat seperti meja, hiasan yang berada di Mantis Eatery handcrafted. Karena mereka ingin dikenal sebagai Mantis Eatery yang memiliki karakter tersendiri. Kebebasan, eksplorasi tanpa batasan untuk makanan, minuman serta interior

“Pertama kali sebenarnya keuntungan kita adalah tempat kita gak besar. Tempat kita kecil, kita berangkat dari pertemanan. Terus pertemanan ini punya peer group yang lain jadi kita saatnya disini bisa explore sebenarnya. Kita explore entah diterima atau tidak, menurut gue gak jadi masalah. Kita coba explore, yang menurut kita pas dengan Mantis Eatery dan kita mikir kayak, kalau ngeliat nanti di instagram atau di kemasan take away, kita gitu, banyak gambar yang gak jelas, misalnya pegulet dari Mongolia cuma pake kolor. Orang Tibet main suling. Sebenernya kita cuma pengen expose ke Asiaan-nya mantis. Karena menunya lo gak bisa bilang ini makanan Chinese, gak juga, cuma terinspirasi sedikit.” Tambah Diaz, Bobby dan Naldi.

Menjadi Mantis Eatery yang sudah memiliki customer tersendiri adalah setelah melewati ups & downs. Mereka bahkan ingat sekali bahwa pada awal saat mereka membuka kedainya, botol minuman dengan logo Mantis yang mereka suguhkan, justru berisikan putung rokok serta bungkus rokok, yang menurut mereka sangat disayangkan. Belum lagi masalah complain. Tetapi menurut mereka complain adalah sesuatu yang membangun walaupun mengesalkan. Menurut mereka, mereka harus bisa menerima dan menjadikan bahwa kritik yang diberikan adalah sesuatu yang positif.

“Segmen kita karena kita sudah berkeluarga, kita dari awal bikin Mantis make ruangan dalem dan luar. Banyak bantal, kursi panjang. Gue paling suka kalau datang tamunya sebagai grup. Family, mereka bisa bawa stroller kesini, anak-anak bisa main di depan, bapak-bapak bisa ngerokok dan ngopi di luar, maksud gue karena tempatnya kita juga pesennya semuanya di bar sini, jadi intimate gitu. Soalnya lebih hidupgitu, dibanding laptopan semua satu-satu. Kayak pusing lo liatnya”

Tips & trick  yang diberikan oleh ketiganya ketika ingin membuka bisnis F&B adalah untuk percaya terhadap produk yang dibuat. Selain itu berikan added value seperti tidak menggunakan kemasan berbahan plastik, dan lebih perduli terhadap lingkungan juga bisa membuat tamu merasa lebih nyaman. “Gue bukan expert, gue enthusiast. Gue suka makan, gue suka kumpul, gue suka bikin seseuatu sama temen gue. Kebetulan pada tahun lalu kesempatannya bikin restoran ini. Jadi gue gak sia-siain. Kita ngitung segala macam, kalo ternyata prospeknya bagus, spirit-nya ada di teman-teman, ya bolanya tinggal gue jemput aja kan. Komitmen gue sendiri full. Dan gue selalu percaya ketika lo mau bikin sesuatu harus punya reason why-nya dulu sih. Bukan cuma karena lo pengen invest uang, bukan cuma hanya  lo pengen langsung dapat untung, tapi lo kenapa nih bikin? Nyari untung, nyari temen, nyari project atau apa? Jadi menurut gue itu yang membuat gue menjadi percaya untuk ngejalanin bisnis ini.” Tutup Diaz, Bobby dan Naldi.

Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Leave a Reply

Discover more from Tworubber

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading