The Man Behind

Intimate Experiences Untuk Customer Pizza Place.

Sudah banyak sekali brand Pizza yang menawarkan berbagai macam kreasi dan pilihan dalam segi rasa, bentuk, variasi, topping dan ukuran. Namun, satu dengan yang lainnya selalu mencari cara untuk lebih menonjol daripada yang lainnya agar lebih menarik di mata para customer. Gebrakan-gebrakan canggih hasil adaptasi atau benar-benar pemikiran baru terpampang nyata menjadi prestasi para chef tanah air. Pizza Place salah satunya. Berhasil memiliki 5 outlet Pizza Place di bilangan Jakarta dan Bandung, Yogo selaku salah satu founder dari Pizza Place, adalah pizza maker yang sudah berkecimpung di dunianya sejak tahun 2012.

“Belajarnya dari kitchen gue sendiri, dari rumah, belajarnya dari rumah. Beberapa kali gue exchange knowledge sama temen-temen yang ada di states sana, Amerika. Jadi ya berkembang-berkembang jadi bisa bikin pizza,” ungkap Yogo yang mengaku tidak pernah memiliki background culinary school.

Ia mengambil banyak referensi dari luar Indonesia sebagaimana halnya ia bersekolah di Negri Kanguru serta Paman Sam. Disana ia mengembangkan knowledge­-nya tentang pizza, western culture dan food scenery.

Sebelum menjalankan bisnis Pizza Place pada tahun 2013 melalui school to school event, Yogo sebelumnya bekerja di perusahaan bidang kontraktor. Disini ia menjelaskan bahwa membuat pizza adalah hobinya yang tersalurkan menjadi bisnis. “Jadi pertama, gue musti tau dulu ya, apa sih yang sebenarnya orang indonesia suka gitu ya. Percaya sih beberapa tahun sebelum Pizza Place ada, sudah ada beberapa American style pizza yang sudah exist di Jakarta. Tapi habis itu kita coba ikut event di sekolah-sekolah anak-anak, pada suka New York style pizza. Jadi yasudah kenapa gak kita bikin suatu produk yang baru. Jadi waktu itu gue mau bikin pizza sebesar ban becak gitu loh. Jadi gue bilang wow itu selling point yang bagus ya, kenapa gak dilakukan aja. Kita lahirkan produk yang seperti itu, dan voila! Pizza Place terlahir.” Tutur Yogo.

Nama Pizza Place sendiri didapatkan melalui statement yang mau dijelaskan Yogo, jelas dan tidak ribet, bahwa dirinya hanya ingin menjual pizza. Kenapa tidak call it Pizza Place saja? Konsep yang dibangun dari awal tidak terlalu banyak. Yogo ingin menjual, men-display pizza,  dan mau menjadikan pizza itself, serta proses pembuatan pizza-nya menjadi center of attention. Ia ingin orang bisa melihat proses produksinya, baking process-nya,

“jadi kita pengen konsepnya simple, terang dan orang bisa liat attraction-nya, making pizza. Jadi ya, seperti mana, apa reference point gue waktu ada di negri Paman Sam, ya, by the slice pizza joint ya, seperti ini, jadi ya gue bisa figure out seperti Pizza Place saat ini lah.”

Dari segi menu dan rasa, Yogo berkiblat ke Italian pizza yang tidak terlalu banyak enhancement rasa di sausnya. Lebih kepada plain tomato sauce, mozzarella cheese and that’s it! Mungkin sedikit dried oregano untuk elevate rasanya. Tanpa menambah rasa yang terlalu kompleks. Sama seperti menu dan rasa, interior dari Pizza Place juga dibuat apa adanya. “Sebenernya sih gue cuma provide blank canvas ya, kepada customer walk in, jadi mereka pengen seperti apa, ya disitulah mereka mulai tulis-tulis ornamen, seperti menulis di kertas paper plate, dll. Itu kita tempelin. Beberapa atribut ada yang disumbangin dari customer ya. Jadi mereka ada yang kira-kira cocok di Pizza Place, mereka kasih. Ya kita pajang lah kayak gitu. Kalau mau nyumbang bisa langsung drop by aja.” Jelas Yogo.

Lalu apa yang membuat mereka berbeda dengan tempat pizza lainnya? Dari segi strategi, Yogo dan tim menggunakan cara yang seefektif mungkin, seefisien mungkin, untuk manajemen yang simple namun cocok dengan model usaha slice shop seperti Pizza Place. Untuk strategi marketing, Yogo mengaku semuanya organik. Dari customer to customer. Selama dapat memberikan produk yang baik dan service yang maksimal, itu menjadi program utamanya. Selain itu yang menonjol adalah obviously dari segi ukuran dan penjualan per-slice.

Orang bisa punya kesempatan memilih pizza, membeli pizza, dan mencoba beberapa topping dalam beberapa slice. Jadi instead of dapet 8 slice dengan rasa yang sama, di Pizza Place mereka bisa memilih 8 slice yang berbeda. Jadi kategori pizza kita thin and crispy. Jadi karakter crust-nya itu crispybottom-nya moist dan fluffy di dough dan  cheese-nya, dan si besarnya. Obviously size bisa bisa tell the different lah.” Terang Yogo.

Bersinggungan dengan branding yang ingin dibuat, karena Pizza Place menawarkan pizza yang dekat dengan jalanan, maka Yogo ingin memperkenalkan suatu brand pizza yang dekat dengan anak muda. Tidak mengurangi fans Pizza Place yang adalah orangtua dan seniors, Yogo ingin menggapai semua kalangan. Brand simple yang bisa memberikan kesan yang baik terhadap customer-nya.

“Menurut gue sih, dari apa yang gue lihat sekarang, perkembangan variety pizza di Jakarta dan Indonesia pada umumnya itu berkembang. Variety-nya semakin banyak dan style-nya juga semakin banyak. Ada New York style, ada Chicago style, ada wood fire oven pizza, ada yang dibakar pizza-nya. Jadi menurut gue semua berkembang sesuai dengan seleranya masing-masing. Which is good. Jadi orang punya enough dictionary untuk mencoba beberapa tipe pizza, growing-nya pretty good yah.” Jelas Yogo ketika ditanyakan mengenai perkembangan Pizza. Signature flavor dari Pizza Place adalah Pepperoni dan Ricotta White Pizza. Semua rasa dan topping yang dibuat pretty basic. Maksudnya adalah untuk memberikan suatu rasa yang tidak neko-neko dan semua orang bisa suka dengan rasa tersebut, baik regularly dan bisa bergantian mencoba berbagai rasa yang tersedia.

Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Leave a Reply

Discover more from Tworubber

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading