Lady Apron

Reality-nya, itu (Kitchen) Memang Dunia yang Keras, Tapi Its fun.

Dibuka pada tanggal 7 Mei 2020, pada awalnya Sharon Agustine (27 tahun) atau yang kerap disapa Sharon hanya iseng-iseng saja. Namun seiring berjalannya waktu, ternyata respon dari para customer bagus, sehingga Sharong dan tim berusaha menari tempat dimana mereka bisa explore lebih lagi dan bisa memproduksi dalam jumlah yang banyak. “Shuga itu basically Bahasa Jepang dari gula. Sugar ke Shuga. Kebetulan depannya s belakangnya a, kebetulan juga nama gua Sharon Agustine, jadi s nya Sharon, A nya Agustine, gitu, di sambung-sambungin aja,” tambah Sharon.

Journey Sharon dimulai ketika ia lulus SMA. Sebenarnya, ia ingin masuk jurusan DKV ataupun mengambil perfileman. Namun karena ia mengaku tidak bisa menggambar, akhirnya ia mengambil jurusan culinary art. Ia jatuh cinta kepada culinary art yang berfokus kepada pastry karena dirinya yang menggemari makanan manis. Menurutnya pastry itu lebih complicated dan lebih banyak yang bisa di explore lebih jauh lagi. Setelah menamatkan studinya di Bina Nusantara University, Sharon memutuskan untuk bekerja di Koultoura Coffee Shop, kemudian Akira Back sebagai pastry chef dan melanjutkan perjalanannya ke Macau untuk bekerja di Janice Wong MGM, sebelum akhirnya membuka Shuga.

Basically, gue adalah orang yang sedikit adventurous. Gue suka nyoba hal baru, tapi bukan berarti kayak lebih bereksperimen. Gue sukanya men-develop makanan yang udah ada, yang gue suka, dan di elevate lagi aja, biar lebih menarik dan enak.” Tutur Sharon.

Konsep Shuga sendiri adalah comfort food, dimana ada sweet dan savory yang seimbang. Sharon senang membuat makanan yang light bite, dan selalu mencari cara agar ia membuat makanan yang bisa di enjoy oleh semua orang. Dari anak kecil sampai usia tua, diharapkan bisa menikmati hidangan suguhan Shuga. Ia tidak ingin orang hanya ingin mencicipi ketika Shuga sedang hits atau hanya karena lucu. Tetapi ia ingin agar customer kembali lagi karena ada memori yang ketika setiap mereka memakan makanannya, mereka merasa harus kembali lagi untuk menikmatinya lagi. Frozen Smores dan Fuji Apple Pie menjadi 2 signature dish Shuga yang sangat laku di pasaran. Untuk minuman, Shuga menyediakan tea, biscoff milk,dan juga jamu yang diharapkan sebagai support pedagang jamu lokal Indonesia. Yang dicari adalah rasa balancedari makanan dan minuman yang disuguhkan oleh Shuga. Disitulah rasa yang ingin ditonjolkan Sharon melalui Shuga. Rasa homey, flashback dan memorable. “Jadi itu selalu kita inspirasinya, dari misalnya perjalanan gue, gue makan dimana, dan gue merasa itu enak. Atau masakan dari nyokap gue, oma gue, semua kayak gitu. Jadi lebih ke homey biar ada memorable experience-nya setiap kamu mencoba kreasi dari Shuga.” Tambah Sharon.

Ia melihat dirinya sebagai Fuji Apple Pie buatannya yang tersedia di Shuga, karena it looks simple on the outside, tetapi bisa dinikmati oleh semua orang. Fuji Apple Pie buatan Sharon, warm, dan akan langsung membuat ketagihan dan ingin kembali lagi, “karena gue orangnya kayak gitu. Mungkin pertama sebelum kenal keliatannya kayak judes gitu. Tapi sebenernya pas udah kenal gue seru juga orangnya.” Sharon sangat gemar baking karena ia merasa ia bisa banyak sekali eksplorasi, ia sangat senang ketika orang yang memakan makanannya terlihat happy. 

Passion gue menjadi baker itu karena yang pertama, gue pengen share, jadi apa yang gue suka, gue pengen sharedengan orang lain. Meskipun kadang preferences orang beda-bedabalik lagi, tapi gue mau mencoba melihat mereka saat mencoba kreasi gue tuh gimana sih. Dari situ juga setiap kreasi kita harus ada ceritanya. Lalu kita juga bisa tambah teman baru, jadi lebih kayak begitu sihbiar share experience-nya.” Tutur Sharon.

Ketika ditanyakan apa yang seru dari baking, Sharon berkata hal yang menarik adalah ketika sedang rush hour, “itu seru banget. Kalau lo pernah main game yang namanya Dinner Dash, dapur tuh kayak gitu kalau lagi rush hour. Kacau. Even gue kerja di dunia pastry/dessert waktu gue kerja di Janice wong MGM Macau itu, itu kayak lo harus kerjain semua dalam waktu yang singkat, tapi kadang meskipun ada berantem sama server, kadang managerdateng, tapi lo harus tetep fun karena itu open kitchen. Jadi serunya itu sih, atau ketemu customer yang permintaannya aneh-aneh, lucu dan seru, dan ketemu temen-temen baru pastinya. Apalagi kalau bisa dapetkesempatan belajar di restoran yang ngikut chef yang udah kebukti lah namanya, karena lo bisa tambah pengalaman lagi dan tambah experience yang lebih gak ada nilainya lah itu.”

Menjadi cita-citanya sejak dirinya masih kecil, Sharon yang kini menjadi seorang chef berharap di masa depan, ia bisa mengikuti jejak salah satu chef favorite-nya, Janice Wong, untuk menjadi the best pastry chef in Asia.Selain itu ia juga melihat Shuga di masa depan tidak hanya berhenti sampai disini, ia berharap dapat melebarkan sayap dan bisa memiliki dessert bar sendiri, dimana Sharon dapat plating dessert langsung di hadapan para tamu. Jika tidak menjadi chef, ia melihat dirinya menjadi dokter hewan karena ia sangat suka dengan hewan dan anjing. Menjadi seorang perempuan yang berkecimpung di dunia chef, ini menurut Sharon.

“Hati mesti kuat banget. Jangan gampang baper. Karena, namanya cowo biasanya lebih logic,  kalau cewe lebih pake perasaan. Ada sometimes, kalau gue kesel ya gue bilang gue kesel. Tapi sometimes, lo jangan cepet emosi dulu, tapi ngerti dulu nih kondisinya seperti apa. Karena kalau di dunia dapur, kalau mereka ngomong kasar itu, either bercanda, atau memang ada maksudnya. Jadi lo harus menyerap dulu. Lama-lama pasti lo terbiasa sih.”

Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Leave a Reply

Discover more from Tworubber

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading