Terinspiarsi dari restoran internasional bernama Wok to Walk, Frenki yang kini menginjakan umur 27 tahun membuka Wok Eat Out pada tanggal 18 July 2020 di Indonesia, tepatnya di Cipete, sebagai comfort food yang to-go dan diharapkan menjadi destinasi customer ketika ingin makanan yang cepat saji, namun sehat dan lezat.
Memliki background studi Sekolah Menengah Atas di Lodge International School di Kuching, Sarawak Malaysia, berkuliah 3 tahun di Taylor’s University Kuala Lumpur dengan jurusan marketing, 1 tahun transfer pelajar ke Australia di University of South Australia (UNISA) dan mengambil bahasa Cina langsung di Guangzou selama 1 tahun, menjadi pondasi Frenki untuk mebuka kedai makan impiannya.
“Gue udah jalan di F&B dari 2016. Sempet jualan fashion juga. 2016 mulai F&B sampai sekarang, Wok Eat Out,” tambah Frenki. Kalau ditanya Frenki menyukai makanan apa, ia menyukai makanan yang disajikan dengan cara digoreng. Gorengan pada siang hari dan nasi goreng pada malam hari setelah pulang kerja.
Dibuka dibilangan Cipete, Wok Eat Out sudah mendapatkan tempat di hati para customer. “Kita pengen coba nge-grab market selatan sih, karena selama ini memang kita di daerah utara. Kita buka bisnis kita di daerah utara, dan kita udah tau nih daerah utara begini orangnya. Nah pengen coba ke daerah selatan seperti apa sih orang-orangnya?” Ucap Frenki. Sudah kurang lebih setahun, Frenki dan tim melakukan research & development (R&D). Mulai dari makanan, saus yang selalu diberikan kepada teman-teman untuk memberikan feedback. Baru akhirnya setelah rampung, Frenki mencari tempat dimana Wok Eat Out sekarang berdiri.
Pencarian tempat menjadi salah satu faktor kesulitan bagi Frenki dan tim karena harus bolak-balik utara ke selatan untuk mencari lokasi di Cipete yang selalu penuh. “Sampai akhirnya ada palang sewa langsung disikat. Jadi lumayan balap-bapalan, karena waktu itu ada yang mau sewa juga. Setelah dapet tempat, mulai lagi ‘kapan nihtanggal bukanya, design-nya, kontraktornya.’ Karena ini kan kita baru buka restoran yang bener-bener retoran. Karena sebelumnya, kita bergerak dibidang yang street food. Jadi ini bener-bener baru, anggapannya zero experience, kalau dibagian restoran. Setelah itu baru deh mulai cari barang, design-nya mau gimana. Nah yang paling parah adalah ya corona itu guys. Corona itu yang bener-bener bikin kita jadi lebih down lagi. Karena kita harusnya udah mulai. Itu targetnya April udah buka, kita sampe delay ke bulan July, ditambah PSBB lagi,” keluh Frenki.
“Pas dulu kita cari nama itu, apa ya yang berhubungan sama wok. Karena kita masaknya pake wok. Nah kita mikir supaya orang tau, makanan kita tuh masaknya pake wok, supaya orang ngerti langsung nih. Makanan wok, Chinese food gitu. Nah kita bikinnya Wok Eat Out supaya ada sedikit puns. Jadi sebenernya akhirnya work eat out, kayak we can always work it out gitu kan. Jadi dibalik nama Wok Eat Out itu ada puns-nya di belakang. Itu yang kita ambil intinya kita mau kasih tau orang bahwa kita selalu bisa work something out, segala sesuatu bisa kita kerjakan lah, dan just never give up.”
Jelas Frenki tentang nama kedainya. Nama Wok Eat Out juga mewakilkan konsep makanan yang to-go. Bukan hanya cepat saji yang lezat, customer yang memesan bisa langsung memakan dimana saja dan kapan saja, karena Wok Eat Out menggunakan take out box yang tidak ribet dan bisa langsung disantap.
Melalui menu Wok Eat Out, Frenki dan tim ingin menonjolkan rasa Chinese stir fried atau fried wok yang smokey. Perpaduan rasa gurih, manis dan cita rasa Asian fusion yang dikedepankan. Menu makanan Wok Eat Out menggunakan nama dari tools legend Chinese martials art supaya terlihat unik. Signature dish Wok Eat Out adalah Nunchaku Noodle. Muhroom noodle, yang disiram dengan teriyaki sauce. Dimana customer Wok Eat Out mengatakan bahwa makanan yang Frenki buat sangat enak dan memenuhi ekspektasi customer, yang mengingatkan mereka pada rasa yang sangat mirip dengan Wok to Walk di luar negri. Prinsipnya, Frenki ingin memudahkan customer pada saat memilih makanan di Grabfood dan Gofood. Ia ingin Wok Eat Out menjadi tujuan orang-orang ketika mereka sedang lapar dan memilih makanan yang hendak mereka santap.
Dari segi interior, aksen Chinese ditonjolkan melalui idiom atau peribahasa Cina yang ditonjolkan melalui neon-sign serta kaligrafi yang menghiasi tembok Wok Eat Out.
“Puns juga, kita ambil dari wok eat out, Wo artinya saya, Yi artinya remember, Ao itu endure. Endure hard times. Jadi remember bahwa kita bisa endure hard times, relate ke wok eat out. Kalau ini Artinya mendatangkan customer sebanyak-banyaknya, dan orang-orang terhormat dan keluarga, jadi lebih ke peribahasa chinese. Dan yang di atas香飘十里 xiang piao shi li artinya itu, aroma yang bisa dicium atau dihirup dari 10 miles,” tutur Frenki.
Belum lagi dengan perpaduan warna merah dan hijau yang mewakili pengharapan serta pedamaian dan kehidupan. Maskot yang tadinya ingin seperti barongsai diibaratkan sebagai macan gahar yang sedang mangaum. Menunjukan attitude dan energi yang dipancarkan.
