Menurut Della Mifti (27 tahun) selaku owner dari Libertad Union, Kopi adalah sebuah pelajaran. Ia merasa banyak belajar bukan hanya tentang kopi, tapi tentang pengalaman dan hidup melalui belajar kopi. Dari awal dimulai prosesnya, kemudian sampai menjadi sajian secangkir kopi di hadapan customer. “Prosesnya panjang banget dan disitu akhirnya aku belajar, oke harusnya hidup itu proses, kita gak bisa yang tiba-tiba jadi sesuatu. Jadi enjoy aja. Beruntungnya, bahwa aku berproses dengan sesuatu hal yang paling aku suka, jadi gak ada beban disitu sama sekali,” ungkap Della.
Perjalanan awal Della dimulai dari perjalanan studinya di Universitas Brawijaya, Malang, dengan jurusan food technology. Setelah itu Della mengambil pekerjaan part time, menjadi waitress lebih tepatnya, sambil ia menjalani kuliahnya. Ia mengaku bahwa ketertarikannya pada bidang kopi sudah sejak ia kecil. Hal ini dikarenakan, keluarganya yang adalah penikmat kopi. Sehingga Della sudah tidak asing dengan rasa kopi itu sendiri. Ia bekerja part time sambil kuliah dengan tujuan ingin mencari tambahan sebagai anak kosan, yang berasal dari Surabaya. Sejak saat itu, Della mulai tertarik untuk belajar lebih banyak lagi mengenai kopi.
“Kayak apa sih yang terjadi dari sebuah coffee shop gitu biasanya. Jadi disitu jadi waitress udah lumayan lama, kemudian punya kesempatan untuk megang mesin jadi barista pada saat itu. Gitu nah, dari situ mulai nih kayak ‘wah ternyata dalem banget ya ke-barista-an itu. Gak cuma bikin kopi tapi ternyata tuh ilmunya banyak banget. Jadi disitu aku mulai mendalami dan mendalami lagi sampe sekarang,” terang Della.
Awal terciptanya Libertad adalah dimana Della dan co-owner lainnya memiliki visi dan misi yang sama pada waktu itu. Mereka ingin membuat pabrik kopi dan menghidangkan kopi terbaik untuk masyarakat. Menurutnya, masih banyak di Indonesia yang belum mengkonsumsi kopi, padahal Indonesia memiliki pasar yang besar. Sehingga mereka ingin memperkenalkan bahwa kopi Indonesia itu enak, dan masyarakat juga harus bisa menikmatinya dengan cara yang benar dan baik. Akhirnya pada tahun 2018, sembari mengerjakan proyek lain, Della dan teman-teman membuka Libertad Union. Mereka merasa bahwa mereka akan melalui proses learning by doing sampai akhirnya bisa mature.
“Jadi ini dulu sebener-nya namanya bukan ini. Namanya tuh kalau yang biasanya temen-temen lewat di Antasari tuh Work Coffee. Nah, sebener-nya Wok Coffee dan Libertad itu, kita brother, kita bersaudara. Cuman pada suatu moment gitu, kita akhirnya harus memisahkan brand-nya. Jadi yang Work Coffee sekarang pindah ke Bandung. Itu khusus untuk konsep cafe. Jadi orang-orang nongkrong dan tidak ada proses produksi disana. Nah, sebener-nya Libertad ini lebih ke pabriknya, pabrik kopinya. Tapi disini kita juga bisa bikin showcase atau show room buat temen-temen yang mau nyobain kopi kita. Sebenernya itu doang. Tapi kalau dibilang concern-nya dimana, sebener-nya disini untuk produksi aja,” pungkas Della.
Dorongan Della untuk menjadi seorang barista adalah passion. Tapi passion menurutnya adalah kata kerja. Jadi apabila ada yang bilang ‘iya aku jadi barista tuh passion,’ tetapi mereka tidak bisa menghasilkan sesuatu, tidak bisa bekerja dengan baik disitu, Della menganggap itu adalah ngomong aja. Ia berkata bahwa kalian harus bisa membuktikan bahwa dari dalam diri sendiri memiliki passion. Karena menurutnya, passion tidak bisa dilihat, tidak memiliki bentuk. Tetapi karyanya bisa dirasakan. “Brewing adalah seni buat aku. Passion, terus, apa ya, meditation. Setiap gue brewing tuh kayak namaste gitu loh. Kayak ah minggir lo semua, gue mau bikin kopi nih!” Tegas Della.
Ketika ditanya mengenai konsep dari Libertad Union, ini jawaban Della.
“Lebih ke pabrik kopi sebener-nya. Jadi orang tuh kadang bingung, ini sebener-nya coffee shop atau gimana sih? Kita pabrik kopi yang punya show room kebetulan. Jadi, sebener-nya fokusnya bukan gathering, tapi gimana kita bisa sharing knowledge. Soal kopi tuhgimana sih? Produksinya tuh gimana sih? Disini kita bisa liat, kalau ruang roasting-nya tuh bener-bener terbuka, kaca. Itu sebener-nya supaya orang pas dateng tuh, ‘oh lagi ngapain sih tuh? Oh kopi tuh dipanggan dulu ya? Oh bijinya ijo dulu ya warnanya?’. Hal-hal kayak gitu deh, itu sih sebener-nya konsepnya. Makanya kenapa ruang roasting-nya terbuka. Supaya orang lebih familiar.”
Masih banyak masyarakat yang belum mengetahui bahwa sebelumnya biji kopi itu berwarna hijau. Ruang roasting Libertad Union dibuka untuk umum dan siapa saja boleh melihat prosesnya langsung, hingga bertanya-tanya langsung kepada para roaster. Nama Libertad didapatkan secara random, yang dalam bahasa Latin yang artinya kebebasan. Dari ribuan nama yang tecetus, Libertad dipilih karena Della dan teman-teman ingin sesuatu yang bebas. Keetika berbicara tentang kopi, artinya adalah kebebasan. Semua orang berhak atas preferensinya masing-masing terhadap secangkir kopi. Tidak bisa mengatakan bahwa kopi mana yang lebih enak karena semuanya adalah preferensi masing-masing. Aspek itulah yang ingin dibagikan ke masyarakat bahwa setiap orang bebas menikmati kopi versi mereka masing-masing.
Suka duka yang sudah dilalui Della cukup beragam. Ia berkata bahwa dirinya pasti tidak bisa menyenangkan semua orang walaupun sudah berusaha memberikan yang terbaik. Ia mengaku belajar untuk menerima semua complain yang dilontarkan para customer. Berkaitan dengan lelah, menurutnya lelah itu relatif. Kalau menjalankan semuanya dengan happy, seharusnya semuanya bisa diatasi dengan baik. Berbicara tentang suka,
“Kalau sukanya, yang pertama minum kopi gratis, gak bayar. Itu sebener-nya cita-cita gue. Gue pengen minum kopi yang gue gakbayar. Gimana? Ya gue harus bikin sendiri ya kan. Gimana caranya? Yaudah gue harus bikin toko sendiri supaya gue gak bayar. Tetep cuan ya gitu lah. Abis itu banyak temen, banyak link gitu kalau misalnya kita memang punya purpose, ya jadi barista tuh, customer tuh, bener-bener lo bisa deep relationship banget sama mereka sebener-nya. Sahabat-sahabat saya sekarang tuh customer saya dulu. Dan sekarang kita udah jadi deket banget. Kadang orang ‘jadi barista ngapain sih?’ gitu. Kadang kita melayani mereka tuh bener-bener dari hati. Kadang hubungannya udah gak kayak customer-server aja, udah kayak temen aja. Itu sih yang aku happy.” Tutup Della.
