Sudah tidak asing pada masa sekarang, melihat perempuan sebagai sosok yang bekerja di dunia food & beverage (F&B). Bukan hanya sebagai seorang barista, bartender, chef maupun dari sisi marketing dan branding, wanita kini menjadi owner sebuah restoran atau kedai kopi. Sabrina Alatas atau Sasha adalah salah satunya. Dirinya yang baru menginjakan kaki pada umur 24 tahun sudah mampu membuka kedai makan bernama Manje. Sebagai seorang yang selalu dinilai galak oleh orang banyak, sebenarnya Sasha adalah seseorang yang baik hati dan ramah. Hal yang paling ia tidak sukai adalah kucing, dan yang paling ia sukai adalah kebersamaan.
Cita-cita Sasha sejak kecil adalah menjadi seorang arsitek & interior designer. Pada waktu Sekolah Menengah Akhir (SMA), Sasha mengambil International Baccalaureate (IB). Namun karena dirinya mengakui ia dahulu adalah anak yang sedikit bandel, akhirnya ia keluar dari SMA tempatnya menjalani studinya dan bekerja disebuah restoran di Kemang Village, di Colonial Cuisine & Molecular. Walaupun gaji yang tidak mumpuni dan jatuhnya nombok, tetapi Sasha pantang menyerah. Dari situ ia mulai belajar banyak belajar dan meneruskan studinya dalam memasak di Paris, Le Cordon Bleu selama 1.5 tahun. Ia mengambil jurusan cuisine and pastry dan melakukan internship disana selama 3 bulan. Melihat prestasinya, ia kemudian ditarik untuk menjadi pekerja tetap selama 3 tahun di tempat yang sama, sebelum akhirnya kembali ke Jakarta.
“Food is the way to spread love to people. Dengan makanan, gue merasa gue bisa menyatukan banyak orang dari berbagai background. Dan kenapa gue suka masak, kenapa gue suka makanan, pada saat gue masak, even sebelum gue buka restoran atau sebelum gue kerja di dalem dapur, gua sangat suka perasaan dimana mengumpulkan banyak orang dengan background yang berbeda-beda di suatu meja dan itu menyambungkan mereka semua aja. Ada kepuasaan dari diri gue aja sih.”
Menurutnya, apabila diartikan sebagai makanan, dirinya mirip dengan chilli flakes. Karena kecil-kecil, tapi nendang!
Yang mendorong kemauannya menjadi seorang chef adalah journey-nya. Ia melihat bahwa ada jenjang karier yang bisa diperoleh untuk mereka yang mau berusaha. Mulai dari bawah, internship, cook helper, cook, ia melihat itu semua sebagai achievement. “Karena kita sebagai chef bisa dibilang sebagai pemimpin ya. Kedua, I have control in everything in the kitchen. Ketiga, gue bisa mengkreasikan, maksudnya kalau kita kerja di dapur orang, kankita adalah robot gitu, kita ngerjain apa yang mereka suruh. Sedang gue sebagai chef, gue bisa mengkreasikan dan bisa masak apa yang gue mau masak,” tambah Sasha. Memasak untuknya adalah hobi dan berjalan lama kelamaan sebagai occupation. Terkadang juga bisa berubah menjadi pressure. Tetapi ia tetap bersyukut akan segalanya karena itu semua yang membuatnya bahagia. Ia merasa sangat puas ketika orang yang menyantap makanannya bisa memperlihatkan senyuman di wajahnya. Belum lagi ia bisa membuktikan kepada semua orang yang sudah underestimate Sasha, bahwa ia bisa.
Sebagai pemilik dari Manje, awalnya Sasha membuat sebuah Bao joint yang super duper kecil dan berlokasi di pejaten. Fokusnya awalnya di bao dan bowls. Selain itu di outlet pertamanya, ia juga menjual kopi sebagai boostbagi para customer. Barulah akhirnya ia membuka outlet keduanya di daerah Gandaria. Ide awal Manje, bukan merupakan fine dining ataupun casual fine dining. Manje pertama kali dibuka pada Desember 2018 dan outlet kedua pada 1 July 2020.
“ini lebih tempat dimana lo bisa nongkrong duduk dan ngopi, jatohnya seperti street food tapi di tempat yang lebih decent aja sih, jadi sangat amat casual, “ jelas Sasha.
“Jadi pertama kali gue decide untuk jualan bao itu, karena suka banget makan bakpau yang di depan Rumah Sakit Asih atau depan gereja GBI di Pangpol. Dari situ gue pas mau buka Manje, gue mikir, ‘kenapa gue gak jualan bakpau aja ya?’ Tapi kalo gue jualan bakpau di pinggiran, gue udah pasti kalah dong. Itu udah pasti. Akhirnya guemikir gimana nih gue bikin bakpau moderen yang belom ada. Yang belom familiar sama orang-orang sini, tapi rasanya tetep masuk dengan lidah orang Indonesia.” Rasa yang ingin ditonjolkan oleh Sasha adalah roti kukus itu sendiri. Kedua filling-nya. Sasha menciptakan Classic Beef Bao, yaitu braised beef. Selain itu ada Fried Chicken Bao, Pecking Duck Bao dan Egg Custard Bao. Signature dish dari Manje adalah Beef Belly. Disini Sasha ingin menonjolkan dan memberikan experience kepada mereka yang tidak bisa memakan hidangan berbahan dasar pork. “Jadi pada waktu itu kata orang-orang babi itu enak. Eh gue pengen nyobain juga nih. Akhirnya gue R&D segala macem, gue coba daging a b c d e, gue coba proses a b c d e. Akhirnya gue menemukan, ‘oh ini yang lumayan mendekatkan dengan rasa itu.’ Dan who knows orang-orang sangat suka dan menjadi signature gue,” terang Sasha.
Baginya, menjadi seorang wanita di dunia pekerjaan para lelaki tidak sama sekali mengintimidasinya. Sedari kecil, ia hidup dengan kakak-kakak lakinya dan bapanya yang sedikit pushy pada dirinya. Menurutnya ayahnya memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap dirinya, yang membuat Sasha harus keep up dengan kakak-kakaknya. Ia juga merasa nyaman berada di tengah laki-laki karena keluarganya yang lebih banyak laki-laki.
“Dengan dunia fnb ini yang majority laki, tapi ya mungkin cewe-cewe itu punya perasaan yang sama kayak gue deh, berada ditengah laki-laki. No drama.” Tegas Sasha. Sasha selalu melihat staff-nya adalah keluarganya yang bisa ia ajak curhatmaupun nongkrong bareng. Ia merasakan betapa seru untuk kerja di kitchen ketika ada waktu mengobrol dengan staff-nya, dimana ia bisa bonding.
“Customer gue, mereka mungkin pada awalnya, jadi bao ini bukan sesuatu yang familiar buat mereka. Jadi yang gue liat setelah setahun ini, customer gue adalah orang yang pengen mencoba hal baru. Karena pada saat mereka dateng ke tempat gue, pada saat gue buka, gua yakin mereka juga ‘ini tuh apaan sih.’ Karena pada saat gue buka, belom banyak lah yang jual produk kayak gue. Cuma mereka sangat amat open. Mereka sangat amat menerima rasa-rasa baru, which is good, supaya pengetahuan mereka juga berkembang,” kata Sasha. Market yang selama ini sudah datang, mulai dari umur 20 – 40 tahun, yang menurut Sasha gampang untuk menerima rasa-rasa baru.
Sasha melihat dirinya membuka lebih banyak lagi outlet di masa depan.Ia berharap bisa mengembangkan brand Manje dan ingin membuat merchandise dan kolaborasi dengan brand lain. Untuk dirinya sendiri, ia melihat dirinya yang akan menikah, memiliki anak, dan ikut ambil andil dalam meneruskan bisnis keluarganya.
“Kalau gue gak jadi chef mungkin gue, diluar masak tuh banyak banget hal yang tetep gue suka lakuin sih. Gue suka gambar, gue suka nyanyi, gue suka sports, gue suka banyak hal. Tapi itu gue lakukan untuk diri gue sendiri. Jadi mungkin kalau pas SMA gue gak bandel-bandel banget, mungkin gue udah bisa jadi arsitek gitu atau interior designer atau graphic designer atau visual artist,” tutup Sasha.

Kak sorry, mungkin judulnya lebih tepat “ke dalam” dibandingkan dengan “kedalam*
Hi! thankyou so much untuk masukannya kak. Semoga konten kami selalu menginspirasi!