The Man Behind

Word of Mouth, Jurus Jitu Po Noodle Bar Untuk Tetap Eksis

Menjamurnya kedai bakmi di Jakarta, memberikan banyak sekali opsi bagi pecinta bakmi. Mulai dari bakmi tradisional Indonesia, hingga bakmi yang terinspirasi dengan Chinese cuisine. Belum lagi interior yang bervariasi dan instagramable yang menjadi daya tarik tersendiri untuk para pengunjung foto OOTD sambil menikmati hidangan yang disuguhkan. Trend bakmi di Indonesia semakin mencuat setelah munculnya Demie Bakmie sebagai pioneer. Belum lagi karena munculnya virus COVID-19 di Indonesia, membuat usaha rumahan di bidang bakmi semakin beranak pinak.

Salah satu kedai bakmi yang mengawinkan produk yang menonjol dan interior yang menyegarkan mata adalah Po Noodle Bar. Selain  menonjolkan cita rasa yang balance, antara manis dan asin, sudut-sudut Po dihiasi dengan ornamen  moderen cina dengan ruangan yang dibuat sedikit remang. Terletak di daerah Gunawarwan, Po bisa menjadi tujuan bagi mereka pekerja kantoran dan anak muda yang hilir mudik. Po berdiri sejak September 2019 dan terus berkembang. Banjo Tasning dan Widarta Rian Permadi atau yang akrab dipanggil Babas, selaku owner dari Po Noodle Bar menjelaskan konsep dari Po sendiri. Pilar utama dari Po adalah produk bakmi mereka. Mengingat sudah banyak sekali kedai bakmi di daerah Jakarta, mereka ingin membuat sesuatu yang berbeda. 

Semua berawal dari pertemuan Banjo dan Babas di Bintan pada tahun 2017. Keduanya pada saat itu memiliki rencana untuk segera balik ke jakarta, membangun bisnis F&B mereka sendiri. Setelah proses pencarian tempat, sepertinya keberuntungan belum berada di pihak keduanya. Tempat yang awalnya sudah disepakati tiba-tiba diambil alih oleh orang lain sehingga mereka harus mengurungkan kembali niat mereka dan menjadi food consultant selama kurang lebih dua tahun. Belum lagi tawaran untuk menjadi managing partner di salah satu restoran di gunawarman yang menggiurkan. Namun ternyata keduanya tetap kekeuh untuk menjalankan ide awal mereka.

Berangkat dari konsep chinese inspired, Banjo dan Babas akhirnya membuka Po Noodle Bar. Dalam bahasa mandarin, Po artinya soul “apapun yang dibuat pake soul dan beneran put everything into your food” jelas Banjo.

Keduanya mencari nama yang catchy dan pendek agar gampang disebut dan diingat. Banjo dan Babas juga memasukan menu seperti rice bowl, beef brisket dan suikiaw. Po selalu mencoba untuk out of the box dari segi topping dan bumbu. Acuan dari Po Noodle Bar sangat beragam, mereka mengambil ide-ide pada saat Banjo dan Babas traveling. Mereka rajin untuk mengunjungi restoran-restoran sekaligus studi banding dan brainsromingkemudian mereka elevate lagi untuk menciptakan sesuatu yang worth to try. Po Noodle Bar juga membuat semua dari scratch, “semuanya crafted. Dari signature, broth, suikiaw” jelas keduanya.

Banjo dan Babas juga membagikan strategi yang mereka lakukan sehingga Po bisa seperti sekarang. “Harus percaya sama produknya, make sure lo udah put everything to the product,” ungkap Banjo. Filosofi yang di anut Po Noodle Bar adalah untuk melakukan kolaborasi dan itu adalah kunci utama Po untuk bisa sampai sekarang. Kolaborasi terkini Po Noodle Bar adalah dengan BBQ Mountain Boys melalui merchandise dan menu spesial serta seasonal menu yang tersedia untuk para pengunjung. Untuk markteting tools yang digunakan Po sampai saat ini adalah instagram dan word of mouth. Sampai saat ini justru word of mouth adalah tools yang paling membantu

the only way to achieve that, di saat hype dapet tapi pas dateng productnya juga harus sesuai. Kalo pas dateng gak sesuai ekspektasi pada produknya sama aja boong,” tambah Banjo.

Po ingin dikenal sebagai brand dan resto yang melampaui ekspektasi pengunjung dari segi harga, produk, serta bahan-bahan. Banjo dan Babas ingin ketika orang makan di Po merasa bahwa segalanya sepadan, “wah gue gak nyangka makanannya begini dengan harga segini” tiru Banjo. Walaupun pasti ada plus dan minus nya ketika ngomongin soal hubungan dengan customer, Banjo dan Babas pun mengaku sempat berargumen dengan beberapa tamu. Yang menyulitkan bagi mereka adalah tamu yang tidak kooperatif.  Mengingat Po Noodle Bar yang tidak terlalu luas mengharuskan para tamu untuk sedikit mengantri untuk menikmati hidangan menarik dari Po. Terkadang bahkan sampai waiting list. Customer yang datang diharapkan untuk strict mengenai jumlah orang di dalam suatu grup, sehingga tidak menyulitkan untuk pengaturan pembagian tempat duduk. Tidak jarang customer yang awalnya bilang datang berdua, beranak pinak menjadi 6 orang. Bukan hanya itu, beberapa customer juga kadang sulit untuk diatur, apabila ditegur, beberapa balik marah dengan alasan yang tidak masuk akal “di waiting list berdua. Eh datengnya ber 6. Dateng awal sih berdua, ais itu temennya nyusul ber 4. Pas ditegur gabisa duduk, customer-nya malah ngomong ‘oh kalo gitu kasih tau dong dari awal’ dan ngotot mau dapet kursinya sekarang. Akhirnya manfaatin kursi tamu yang baru aja cabut,” curhat Babas. Sepertinya disini customer juga harus sedikit banyak mengerti peraturan yang dibuat. Semuanya bertujuan untuk terciptanya sinergi. Semua customer senang, bisnis pun lancar. Sehingga tidak ada yang saling merugikan satu sama lain. 

Banjo dan Babas sangat menghargai tipe customer yang personally ajak ngobrol owner langsung. Karena mereka appreciate apa yang owner lakukan. Kalaupun ada kekurangan dan kesalahan lebih baik kasih feedback yang constructive. Bukan lewat sosial media dan malah menjatuhkan. “Betul tamu penting untuk kelangsungan bisnis kita, cuma at the end of the day, lo sebagai tamu juga harus punya etika, yaaa, bukan berati kata-kata ‘tamu adalah raja’ terus lo salah gunakan gitu loh. Kita pun tetep manusia kitapun juga berusaha sebaik kita setiap hari, tim juga sudah berusaha sebaik mungkin, ya tolong di hargain juga dari sisi itunya,” jelas Banjo. Selain itu, untuk merangkul business owner lainnya adalah hal yang penting untuk bisa berkembang dan membantu satu sama lain.

Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Leave a Reply

Discover more from Tworubber

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading