Articlefeatured

Laper dan Mager? Jastipin aja!

source : instagram account @duniakulinerbdg

Oleh Ammarsha Rewindra Ridwan

Pandemi COVID-19 adalah petaka bagi pelaku bisnis F&B. Protokol kesehatan yang ketat, anjuran physical distancing, serta ketakutan masyarakat atas virus yang telah memakan banyak korban jiwa ini secara otomatis menutup sumber pemasukan lewat dine-in. Restoran harus putar otak untuk mencari cara terbaik menjalankan bisnis dalam keadaan yang serba terbatas ini.

Contohnya Lawless Burgerbar, yang kehilangan 80% omset dari dine-in sejak Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) berlangsung. Sedangkan hak karyawan seperti gaji dan THR, biaya operasional seperti sewa gedung, dan biaya lainnya tetap harus dibayar. Pemilik bisnis tetap harus bisa menjaga pondasi bisnisnya berdiri tegak walau dalam keadaan babak-belur. Adaptasi, atau tereliminasi. Sadis, bukan?

Sebagai solusi, Lawless Burgerbar menawarkan jasa dropship, di mana tim Lawless Burgerbar membawa burger andalan mereka ke titik jemput di berbagai daerah Jabodetabek. Customer akan memesan burger terlebih dahulu, untuk kemudian dijemput di titik yang telah ditentukan. Customer titip pesan dan masakan, Lawless antarkan. Ini mah namanya jastip!

Jastip atau jasa titip, bukanlah bisnis baru. Sudah banyak penyedia jastip yang umumnya melayani titipan barang dari luar negeri, mulai dari branded apparels hingga jajanan khas daerah asal. Namun beberapa bulan terakhir, jastip yang dibuka khusus untuk makanan pun mulai marak bermunculan.

Salah satunya @jajanbarengan, yang muncul dari keisengan mencari pemasukan tambahan selama PSBB. Jajan Barengan memulai bisnisnya dengan membuka jasa titip untuk kuliner khas Bandung ke Jabodetabek, seperti Kupat Tahu Gempol, Batagor Kingsley, dan Sate Jando Cimandiri. Memasuki minggu kelima beroperasi, Jajan Barengan kini melayani jasa titip jajanan untuk Jabodetabek, Bandung, Yogyakarta, dan Semarang.

Untuk bisnis yang masih seumur jagung, Jajan Barengan mendapatkan antusiasme yang cukup baik dari khalayak luas. Setiap batch PO, Jajan Barengan melayani sekitar 40 customer yang rata-rata rela merogoh kocek sekitar Rp. 300.000,- untuk titipannya. Bahkan ada satu pelanggan yang bisa menghabiskan sampai lebih dari Rp. 1.000.000,- dalam sekali transaksi, dan selalu ikut di setiap batch-nya. Gokil!

Namun, bukan berarti bisnis jastip ini berjalan lancar tanpa kendala. Masih terdapat beberapa jajanan yang memiliki demand tinggi namun belum siap untuk memenuhinya dari segi jumlah dan pengemasan. Dengan tidak adanya produk siap kemas, Jajan Barengan harus mengemas sendiri beberapa jajanan sesuai dengan permintaan customer dan ini menimbulkan risiko human error yang cukup tinggi. Penyedia jastip pun harus mencari cara bagaimana agar makanan yang rentan basi agar bisa sampai ke tangan customer dengan aman dan terjaga secara kualitas. Kompetisi pun semakin marak, dengan penyedia jasa titip lain yang memiliki competitive advantage berbeda kerap bermunculan setiap harinya.
Dari sisi customer, jelas kita diuntungkan. Dengan banyaknya penyedia jastip, kita bisa tetap memenuhi ngidam atau ke-BM-an yang sulit tercapai karena pandemi. Semua bisa dilakukan dengan mudah dan praktis, dan tetap mengikuti protokol physical distancing dengan tetap #dirumahaja. Jadi, kalau laper dan mager, jastipin aja!

Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Leave a Reply

Discover more from Tworubber

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading