The Man Behind

Shoot Me In The Head : Tempat Nongkrong Hits di Duren Tiga!

Siapa yang menyangka bahwa coffee shop di daerah Duren Tiga yang notabene tidak banyak yang nongkrong,  bisa menajdi destinasi baru sebagai titik temuDengan konsep macho dari segi interior, Shoot Me in the Head (SMITH) berhasil menyita perhatian para pria-pria penikmat kopi untuk menghabiskan waktu di ruangan bernuansa industrial ini. Terbagi menjadi beberapa ruangan, pertama kali yang dapat dilihat saat masuk ke coffee shop ini di lantai bawah adalah mesin roaster besar dikelilingi partisi kaca. Nah, masuk ke dalam, kita akan disambut oleh para barista yang berdiri di belakang stationnya. Naik ke lantai dua, ruangan dibagi menjadi non-smoking dan smoking area yang dipercantik dengan trophy di dalam rak.

Aga, Cindy & Rendy sebagai founder dari SMITH resmi membuka coffee shop pertama mereka pada tanggal 15 Juni 2015. Background dari ketiga owner SMITH cukup unik, sebelum menjadi Barista, Aga dulunya anak band. Rendy, freelancer di bidang design dan photography dan Cindy yang menekuni bidang Account Executive (AE), marketing, hingga teater. Pada awalnya Rendy dan Cindy merupakan customer yang sering nongkrong di tempat Aga bekerja sebagai barista. Karena intensitas Rendy yang cukup sering berada di dalam coffee shop, kemudian berpikir bahwa usaha ini bisa menjadi cuan baginya. Rendy memiliki ide untuk membuka coffee truck yang sedang in pada jamannya, bersama dengan Aga. Tetapi pada saat itu, Aga masih menolak mentah-mentah ide Rendy karena pada saat itu Aga masih mengerjakan proyek lain, sembari dirinya menggali lebih dalam ilmu tentang kopi. Akhirnya mereka sepakat untuk mengambil lebih banyak waktu dalam persiapan pembukaan SMITH, agar lebih matang. 

Dua pejantan ini merasa butuh sosok perempuan yang lebih teliti dalam manajerial. Sebagai pelanggan yang dianggap angkuh oleh Aga, Cindy justru ditarik untuk menyokong Shoot Me in The Head di departemen manajemen. Pertemuan mereka yang berawal dari sebuah coffee shop kini menjadi pemilik dari tempat ngopiyang banyak penggemarnya. Dua tahun perjalanan menggodok SMITH, paralel dengan pengasahan lebih dalam ilmu Rendy & Cindy di bidang kopi. Strategi marketing yang dilakukan pada tahap awal adalah dengan menjual merchandise. Pendekatan yang dilakukan mencontoh pada pendekatan band apabila ingin single launchingTeaserSMITH sendiri, dituangkan melalui narasi tentang kopi yang di cetak pada kaos-kaos yang mereka jual. Marketing tools ini digunakan oleh mereka untuk mendapatkan engagement terlebih dahulu. Jadi pada saat SMITH launching, audience yang sudah nyantol, bisa membagikan kabar baik, melalui Word of Mouth kepada teman-temannya. Ketiganya mengaku tidak punya modal yang cukup banyak di awal, maka mereka lebih memanfaatkan komunitas sehingga lebih organik.

Fakta menarik dari coffee shop ini adalah nama mereka yang berubah di tengah jalan. Sebelum berubah menjadi Shoot Me in The Head, nama dari coffee shop titisan Aga, Rendy dan Cindy ini berjudul Coffee Smith. Coffee Smith sendiri didapatkan dari salah satu video yang ditemukan sang empunya, dimana di video tersebut ada seseorang kontraktor yang ahli dalam kayu yang diberi nama Wood Smith. Arti dari Smith itu sendiri adalah seseorang yang handal dan ahli menggunakan suatu material, dalam hal ini kopi. Seiring berjalannya waktu, mereka baru mengetahui bahwa nama Coffee Smith itu sendiri sudah didaftarkan terlebih dahulu dan sudah dipatenkan oleh pihak lain. Sehingga mau tidak mau mereka harus memutar otak kembali untuk mencari nama baru. “Daripada besarin nama yang gak bisa dipatenin, yaudah ganti nama aja sebelum besar-besar amat dan daripada membesarkan nama yang gabisa dipatenin dan supaya gak kena masalah,” jelas mereka bertiga. Akhirnya Cindy tak sengaja menemukan pengganti dari nama Coffee Smith, yaitu Shoot Me in the Head. “Se-simple lagi buka Urban Dictionary ternyata kepanjangan SMITH ya itu. Kayak YOLO, LOL, gitu. Melambangkan situasi kita di saat itu juga, karena kayak gimana, udah di tengah jalan harus ganti nama, karena semua material yang ada musti di ganti, kayak yaudah tembak aja pala gue,” tambah Rendy.

Konsep dari SMITH yang sekarang telah memiliki tiga outlet yakni Duren Tiga, Gandaria dan Bandung dibuat berbeda-beda. Outlet Gandaria dan Bandung sengaja dibuat berbeda untuk mengakomodir tamu-tamu perempuan yang awalnya takut untuk datang berada di dalam kerumunan laki-laki pada outlet terdahulu, Duren Tiga yang berkesan lebih maskulin. SMITH Gandaria dibuat lebih colorful dan instagramable yang surprisingly berhasil menarik market para wanita untuk duduk-duduk cantik sambil menikmati hidangan yang tersedia. Menu yang disediakan juga di upgrade untuk penikmat non-coffee. Beda lagi dengan SMITH Bandung yang di-designsedemikian rupa, menonjolkan identitas coffee bar. Kalau kalian bertanya-tanya ‘apa sih yang spesial dari tempat kopi ini?,’ coffee bar yang hits di Bandung ini, menyuguhkan menu coffee mocktail yang mendapat banyak respon positif dari para pengunjung. “Cukup mengobati rasa kangen, kalo dulu pas awal-awal orang banyak nongkrong di slow bar atau tempat manual brew, banyak tamu ngobrol sama barista untuk ngomongin kopinya. Tapi karena makin kesini tamu udah makin paham tentang kopi, jadi udah gak nanya soal manual brew lagi,” jelas Rendy. Ia menambahkan bahwa dengan adanya signature bar SMITH, banyak yang menanyakan ‘isinya apa sih?,’ ‘cara buatnya gimana sih?” Sehingga lebih banyak interaksi dan atraksinya bergeser ke signature bar. “Pada ngobrol depan situ, ngobrol sama baristanya, jadi ada interkasi dan gak dingin,” tutup Rendy. Ketiga outlet SMITH memiliki top sales menu masing-masing. SMITH Duren Tiga dengan kopi hitamnya, SMITH Gandaria yang lebih laku di bidang non-coffee dan SMITH Bandung dengan signatur beveragenya, coffee mocktail yang nama-nama menunya didapatkan dari judul lagu dan judul film.

Drive-nya by passion, ‘crafted with dedication.’

 Jadi semua yang dilakuin di lini-lini semua divisi ada unsur sentuhan crafted-nya tadi. Karena banyak banget yang ngejual kayak ‘gue tuh passion di sini!’ Tapi orang tuh gakberasa passion-nya dimana,” jelas Cindy. Aspek ini yang membedakan SMITH dengan coffee shop lainnya. Mulai dari menu, desain interior dan merchandise diberi sentuhan personalisasi. Kalau dilihat dari interior SMITH Duren Tiga, banyak yang terbuat dari pandai besi dari berbagai pelosok, sehingga ada sentuhannya yang ingin di tonjolkan. Hal ini juga diintrepertasikan melalui pemilihan biji kopi. SMITH ingin membuat ekosistem yang sehat antara hulu dan hilir. SMITH yang dikenal dengan roastery-nya awalnya mencoba untuk bekerjasama dengan petani lokal. Dari satu petani, hingga sekarang sudah bekerjasama dengan beberapa petani. Sourcing yang dilakukan SMITH melihat dari segi keunikan biji kopi, melihat dari segi rasa dan story telling yang bisa dibagikan. Hal ini memudahkan mereka ketiga mereka berkembang supaya sudah memiliki source yang terpercaya, sehingga bisa konsisten. “Dari awal konsepnya mau menjalin hubungan dengan beberapa pemain kopi di hulu, supaya ekosistemnya kerjasama antara hulu dan hilir. Hulu memproses kopi dengan cara masing-masing yag gak cuma sebentar research & developmentdulu disana, nah hilir men-showcase dengan petaninya ditulis atau nama daerah, supaya mereka merasa menjadi independent. Karena menjadi petani kopi atau produsen itu jaman dulu sulit, karena kopi mungin dikenal cuma sumatra mandeiling, toraja kalosi, papua wena, sangat general. Tapi 5 tahun belakangan lebih banyak yang bermuculan, sumatra hutaraja, dll, jadi udah mulai spesifik desanya di highlight karena buat mereka adalah sebuah penghargaan dan kebanggan karena desanya membuat kopi terbaik,” tutur Aga.

Seluk beluk, pengalamain baik dan buruk yang sudah dilewati Aga, Cindy & Rendy membantu perkembangan SMITH. Mereka memberikan tips & trick bagi kalian yang mau membuka coffee shop baru. Yang pertama adalah, pelajari industrinya sebelum membuka apapun. Selanjutnya, jangan pernah takut untuk mulai dari kecil, karena banyak yang gengsi ingin langsung besar, tapi yang paling penting adalah langkah awal dalam memulai semuanya. Terkahir untuk kerjasama, usahakan bekerjasama dengan pemilik tempat, juga putuskan baik-baik urusan partnership. “Jangan partnership-an sama temen atau kedekatan cuma karena asik. Belum tentu enak jadi partner. Once pilih partner liat dari visi, value. Apakah dia akan melengkapi bisnis gue gak? Jangan cuma karena artis tapi gabisa ngapa-ngapain,” tutup owner dari SMITH.

Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Leave a Reply

Discover more from Tworubber

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading