Article

Hampers is the New Parsel

By Ammarsha Rewindra Ridwan

Hari Raya Idulfitri selalu identik dengan silaturahmi, ajang untuk kembali terhubung dengan sanak saudara maupun kerabat terdekat. Namun, kegiatan tersebut tentunya sulit untuk dilakukan di tengah pandemi seperti saat ini. Temu kangen yang awalnya bersifat fisik, kini digantikan dengan yang serba virtual.  Tidak ada lagi kegiatan buka puasa bersama, halal bi halal, atau sekadar kumpul bersama di suatu tempat. Zoom, Google Meet, Skype, dan aplikasi online meeting lainnya menjadi wadah yang mempertemukan antar sesama. Undangan Akad Nikah pun sekarang bentuknya ID meeting dan password. Welcome to the New Normal.

Namun, semangat untuk tetap terhubung dengan satu sama lain terjaga dengan saling berbagi, melalui kiriman Hampers yang kini menjadi fenomena yang marak. Buka Instagram, Twitter, Facebook… Semua post foto Hampers yang mereka terima atau yang akan dikirim. Di mana-mana ada Hampers. Sebenarnya, Hampers ini apa sih?

Menurut kamus Merriam-Webster, “Hamper refers to one of several basket-like items.” Secara definisi, Hamper itu sebenarnya keranjangnya saja. Tapi orang-orang akan isi keranjang ini dengan berbagai macam barang, mulai dari makanan, sampai barang yang tidak terduga tapi sebenarnya butuh juga seperti hand sanitizers untuk kemudian dikirimkan ke teman atau keluarga tersayang. Tunggu dulu… Bukannya ini sama dengan Parsel?

Kalau kita adu lagi dengan definisi di kamus, Parsel (or Parcel in English) sebenarnya lebih dekat dengan apa yang dimaksud dengan apa yang orang-orang selama ini asosiasikan dengan Hampers yaitu “A package bearing the name and address of the recipient to be routed through the services of a postal service or by express package delivery service to the recipient.” Intinya sih, barang yang akan dikirim. Tapi kok rasanya beda ya, Hampers dengan Parsel?

Jujur, apa yang gue asosiasikan dengan Parsel adalah bingkisan dalam keranjang, yang biasanya isinya sembako. Mulai dari sirup, snack, makanan kaleng, atau buah-buahan. Parsel itu bahasa orang tua kita. Sedangkan Hampers, pasti identik dengan kirim-kiriman anak muda yang bingkisannya rapi, kreatif, dan makanan yang lagi ngetop belakangan ini.

Fenomena ini adalah sebuah bentuk akulturasi. Parsel itu merupakan bahasa serapan resmi, jadi memang sedari dulu sudah ada di kamus Bahasa Indonesia dan pastinya umum digunakan di Indonesia. Ide kirim-mengirim bingkisan yang sudah terbentuk sedari dulu adalah sembako yang ditaruh dalam keranjang dan dibingkis balutan plastik, dengan harapan apa yang dikirimkan bisa dinikmati dan berguna bagi si penerima untuk kesehariannya. 

Dengan munculnya social media yang kini semakin mudah diakses, masyarakat terpapar dengan kultur kirim-mengirim di luar sana yang gak selalu bentuknya sembako. Lo bisa kirim makanan jadi, buatan sendiri maupun dari restoran terkenal yang punya paket Hampers dengan gaya bingkisan yang ciamik untuk segera dinikmati oleh si penerima tanpa kehilangan esensi kebermanfaatan dan pesan kasih sayang lo.

Tentunya, hal ini menuai banyak pendapat dari khalayak. Tak sedikit yang merasa persahabatannya diukur dari sebatas Hampers yang dikirim, terlihat dari tweet Mbak ini misalnya:

Tweet yang menuai hampir 4000 likes ini mendapat berbagai respon, mulai dari candaan hingga risauan senada yang merasa insecure karena belum dapat kiriman Hampers. 

Tapi gue pribadi, yang hari-harinya dekat dengan bisnis kuliner justru merasa senang dan beruntung dengan datangnya gelombang budaya Hampers ini. Nyokap, yang kebetulan punya bisnis catering yang menyediakan paket Hampers mengaku telah meraup untung hampir tiga kali lipat dari biasanya. Hampers Ayam Kodok, yang merupakan ayam panggang yang diisi oleh campuran daging, roti, dan telur, ditemani dengan roasted vegetables dan siraman saus coklat manis andalan menjadi pilihan paket yang paling laris selama Ramadan dan jelang Hari Raya Idulfitri.

Mau Hampers, ataupun Parsel, sebenarnya intinya sama. Lo kirim bingkisan kepada seseorang—bisa sahabat, pacar, om, tante, kakek, atau nenek—sebagai bentuk kasih sayang dan perajut tali silaturahmi kepada si penerima dengan harapan mereka bisa menikmati atau bingkisan yang lo kirim berguna bagi mereka. Memang, hubungan lo dengan seseorang tidak bisa serta-merta diukur dari apa yang lo kirim ke mereka. Tapi menurut gue, apalagi di tengah pandemi yang mengharuskan lo untuk tetap di rumah, Hampers jelas bisa jadi solusi terbaik untuk keep in touch.

Jadi gimana, lo udah kirim atau terima Hampers belum?

Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Leave a Reply

Discover more from Tworubber

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading