featured

Dropship Membawa Keuntungan 2x Lipat Dimasa Pandemi dan PSBB

Tidak bisa dipungkiri, semua bisnis food & beverage (F&B) terkena dampak yang besar oleh COVID-19. Tidak sedikit yang terpaksa tutup, stabil maupun justru mengalami kenaikan pada penjualan. Belum lagi bukan hanya usaha kecil, brand ternama juga ikut menjadi korban dari situasi pandemi seperti ini. Siapa yang tidak tahu Lawless Burger Bar? Usaha F&B yang diprakarsai oleh pentolan-pentolan Jakarta mulai dari musisi hingga chef ini juga ikut merasakan pahitnya masa pandemi yang masuk ke Indonesia selama kurang lebih tiga bulan kebelakang. Sammy Bramantyo atau biasa yang dipanggil Sam selaku co-founder sekaligus marketing director dari Lawless Burger Bar menceritakan bahwa pada masa ini dibutuhkan putar otak supaya bagaimana caranya menekan cost dengan mempertahankan karyawan supaya tidak harus di layoff. Belum lagi pemenuhan kewajiban untuk membayar gaji karyawan dan Tunjangan Hari Raya (THR) yang pastinya sudah ditunggu-tunggu seluruh karyawan.

Berdiri selama hampir tiga tahun, Lawless Burger Bar terletak di kawasan Kemang sebagai tempat tujuan banyak orang untuk mencari entertainment dan makanan. Sebagai anak termuda dari grup Lawless yang sebelumnya sudah terlebih dahulu mengepakan sayapnya di bidang clothing storetattoo studio, bengkel motor custom, Lawless Records sebagai label rekaman underground,  dan Sekepal Aspal yang memprakarsai acara beberapa custom motor. Sam bersama dengan Medina Purwadi selaku managing partner di Lawless Burger Bar, sedikit flashback ke awal proses terbentuknya Lawless Burger Bar itu sendiri. Memang sedari awal tujuan dari dibuatnya Lawless Burger Bar ini adalah untuk mengakomodir teman-teman sang empunya yang suka main ke tempat mereka,, supaya bisa nongkrong yang proper, untuk makan dan minum. Medi menerima tantangan Sam untuk membuka restoran dengan tema metal, dengan produk burger sebagai menu utama.

“There’s something about Kemang that we love.”

– SAMMY BRAMANTYO

Sam dan Medi memiliki banyak cerita di Kemang termasuk pertemuan awal mereka. Belum lagi Medi yang selalu berpacu kepada Kemang disaat ingin membuka outlet F&B-nya, sehingga Kemang sudah menjadi seperti rumah untuk mereka.

Burger dipilih karena kecocokannya dengan tema yang ingin diangkat. Keduanya mencari bagaimana Lawless apabila diterjemahkan ke dalam bentuk makanan. Burger menjadi salah satu pilihan mereka. “Very simpletapi juga cukup ada bau-bau western american sesuai dengan influence design dan apapun yang kita suka banyak yang asalnya dari sana. Lebih simple dan lebih gampang untuk di nikmati.,” tambah Sam. Konsep yang ingin ditonjolkan dari segi Interior dan image  ditampilkan semua melalui semua channel promosi Lawless Burger Bar. Yang membuatnya berbeda adalah dari segi keunikan look restoran juga produk, kualitas, penamaan produk berdasarkan band dan judul musik, agar inline dengan konsep heavy metal joint yang disuguhkan.

Lalu bagaimana kabar Lawless Burger Bar pada masa pandemi seperti ini? Sam dan Medi mengakui adanya penurunan sales sejak adanya pandemi. Dengan pengunjung yang ingin merasakan vibe dan konsep yang disuguhkan, dilarangnya dine in untuk restoran menghilangkan sales hingga 80% di Lawless Burger Bar yang dalam hal ini porsinya cukup besar. Para owner seolah dipaksa untuk memutar otak, mencari strategi yang cocok untuk menyesuaikan keadaan. Semua harus dihitung ulang. Mulai dari cost operational yang bisa dihemat dan di cut, untuk survival mode. Delivery dan takeaway masih berjalan dengan lancar, namuan dirasakan perlu adanya penambahan strategi. Ide yang muncul dibenak Sam adalah dropship. Sebelumnya, dropship dinilai sudah berjalan di Lawless Burger Bar namun bukan dijalankan resmi dari outlet namun dari pengunjung yang biasanya datang dari luar kota. “Misalnya orang dari surabaya, dia beli banyak ke lawless sebelum balik ke kotanya, terus sampe di kotanya mereka baru kirim-kirim,” jelas Sam. Metode ini sebelumnya belum terpikirkan oleh Sam untuk dilakukan di Lawless Burger Bar, karena terlalu ribet apabila dilakukan dropship luar kota. Sampai akhirnya Sam yang melakukan brainstorming dengan temannya yang punya restoran juga, ia akhirnya memutuskan untuk melakukan dropship untuk area Jabodetabek. Karena menurutnya, ternyata daerah seperti Bogor, Cibubur dan Bekasi sudah terlalu jauh untuk jangkauan Gofood dan Grabfood ataupun untuk langsung datang pickup, ditambah dengan adanya PSBB sebagai peraturan pemerintah. Satu bulan sampai satu bulan setengah dijalankan, secara hasil dinilai berhasil.

“Karena PSBB dan Covid jadi faktor sukses si jastip, ternyata orang gak keberatan, bersedia bayar dan nunggu, bayar gojek ke titik penjemputan, yang mungkin kalo di situasi normal orang gak akan melakukannya. Jadi semacam kesempatan dalam kesempitan buat kami”

Disituasi dan kondisi normal tanpa adanya pandemi, Lawless Burger Bar mangalami peak di weekend. Metode dropship yang dipilih membantu untuk menutup sales di hari weekend yang biasanya melonjak dua kali lipat pada masa non pandemi, menjadi lonjakan sales dua kali lipat nelalui dropship. Metode ini dilakukan setiap satu minggu sekali di sekitar Jabodetabek.

Sam mengatakan antusiasme pengunjung untuk segera dine in sudah cukup banyak“udah banyak yang komen di instagram, whatsapp juga pada nanya, ada yang udah terlanjur dateng akhirnya makan di mobil.” Namun Sam dan Medi sepertinya masih menunggu perkembangan lebih lanjut dari mall dan oulet lain yang sudah terlebih dahulu beroperasi untuk dine in, sebelum akhirnya memutuskan untuk mengaplikasikannya pada Lawless Burger Bar. Untuk mengantisipasi adanya keraguan pada customer pada saat Lawless Burger Bar dibuka kembali untuk dine in, Sam dan team memiliki taktik untuk mendapatkan kepercayaan para customer. Selain protokol sanitasi untuk seluruh outlet terkait handsanitizer dan wajib masker untuk pengunjung dan karyawan, Sam juga sengaja mengunggah video dan foto protokol kebersihan di sosial media Lawless, untuk mendapatkan trust dari para pengunjung bahwa mereka sudah melakukan prosedur yang dianjurkan pemerintah, sehingga pengunjung tidak perlu takut untuk datang. Belum lagi dengan perubahan seating layout  yang dikurangi sebanyak 50%.

Sam dan Medi menganjurkan untuk pebisnis baru yang ingin membuka bisnis F&B untuk selalau mengatur cash flow, jangan sampai besar pasak daripada tiang. Pebisnis baru diharapkan untuk tidak pernah takut dan gengsi untuk beradaptasi dengan keadaan yang selalu berubah, “wah tempat gue udah keren masa harus di sekat? ya lo mau survive apa engga, karena lagi bukan waktunya untuk lo bisa se idealis mungkin.” Sam dan Medi berpendapat agar menahan keinginan untuk buka bisnis F&B baru sampai dengan keadaan membaik dan peraturan lebih pasti. Namun apabila tetep kekeuh, model usaha yang dipilih harus sedikit di switchGoes kitchenbisa menjadi opsi yang baik, menitik beratkan penjualan melalui delivery dan takeaway ketimbang dine in yang agak sulit di masa sekarang ini.

Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Leave a Reply

Discover more from Tworubber

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading