By Shafira Jumantara

Makanan adalah kebutuhan pokok yang pertama bagi kita manusia. Tanpa makanan, tentu saja kita tidak akan bisa bertahan hidup, alias tamat. Setelah kebutuhan pangan, kebutuhan selanjutnya mengikuti: sandang dan papan. Dua kebutuhan ini tidak terelakkan; dimana kita berteduh kalau bukan di bawah atap rumah; apakah kita bisa hidup dengan semestinya tanpa mengenakan pakaian sehelai pun?
Kebutuhan kita tidak berhenti di pangan, sandang, dan papan. Ada satu kebutuhan lagi yang semakin hari, semakin terasa. Yaitu kebutuhan sosial. Sudah jelas dan tidak terbantahkan ya, kita sebagai makhluk sosial pada dasarnya tidak bisa hidup tanpa kehadiran orang lain. Saking pentingnya kebutuhan sosial, banyak anggapan bahwa sebenarnya kebutuhan sosial tidak kalah penting daripada kebutuhan kita akan makanan.
Makanan merepresentasikan kehidupan, kebiasaan, kebudayaan, dan identitas kita sebagai individu.[1] Cara kita makan, citarasa makanan yang kita konsumsi, bahan bakunya, sampai cara memasak sangat dipengaruhi dan mempengaruhi keutuhan kita sebagai makhluk sosial.
Misalnya, rata-rata orang Jawa, rata-rata ya, lebih suka makanan yang diberi gula sebagai bumbu pelengkapnya. Sementara orang Minang, bisa dibilang sangat anti menambahkan gula ke dalam masakannya. Bisa dibilang, menambahkan gula ke rendang itu bikin naik pitam. Setidaknya, itu yang terjadi di keluarga gue dari sisi Ayah yang ke-Minang-annya masih sangat kental. Sangat berbeda di keluarga dari sisi Ibu, yang selalu menambahkan sedikit gula di setiap masakan, bahkan di sambel.
Tapi anyway, gue sama-sama suka kok masakan Jawa dan Minang. Tapi anyway juga, banyak orang yang lidahnya “menolak” cita rasa yang berbeda dari apa yang dia rasakan sejak kecil, karena cita rasa itu telah menjadi bagian dari identitasnya.
Tidak ada yang salah, berbeda bukan berarti aneh.
Berbicara tentang perbedaan, bagaimana dengan persamaan? Dari yang gue amati, baik keluarga yang dari tanah Minang mau pun tanah Jawa, keduanya sangat memperhatikan cara atau adab ketika makan. Bukan cuma cuci tangan sebelum makan dan makan dengan tangan kanan, tapi terlebih, mulai lah makan ketika semua orang sudah siap makan. Dalam kata lain, kalau makan, bareng-bareng, ya.
Mungkin tidak selalu makan bersama, tapi kalau ketika makan ditemani orang lain, rasanya lebih mantap. Mungkin tidak lebih enak atau lebih lezat, tapi yang jelas lebih nikmat.
Dua momen di hidup yang menyadarkan gue kalau momen makan bersama itu nikmat rasanya adalah ketika mulai ngekos di luar kota pas jaman kuliah dan ketika pandemi ini mulai merajalela.
Ketika mulai ngekos, aduh itu merana rana sekali rasanya. Mahasiswa baru di pinggiran kota Bandung, bulan Ramadhan, belum punya banyak teman, teman satu kost tidak ada yang menjalankan ibadah puasa, wal hasil sahur sendiri. Sahur pertama seorang diri di hidup ini, ditemani tetes air mata. Pilu banget rasanya makan nasi goreng yang sudah dingin karena beli di malam sebelumnya. Bukan cuma tidak enak, tapi juga sama sekali tidak nikmat, mikirin keluarga di rumah sahur bareng. Ya walaupun di rumah paling-paling menunya juga nasi goreng beli di abang-abang yang lewat depan rumah selepas tarawih.
Beda cerita di saat pandemi seperti ini. Adalah Anya Hutabarat, seorang pekerja kantoran usia 26 di Jakarta yang tinggal di Bekasi. Karena Ayah Anya ikut menunaikan ibadah WFH, si Anya juga WFH, dan adik-adik nya dipulangkan dari kampus masing-masing karena kampusnya lockdown, Anya sekeluarga semua kumpul di rumah Bekasi dari pertengahan Maret. Dari pertengahan Maret pula, sekeluarganya selalu makan bersama di waktu makan malam.
Mungkin sepele karena adegan makan malam bersama ini klise sekali, seperti adegan keluarga di kaleng Khong Ghuan. Tapi, buat Anya dan keluarga, makan bersama ini sangat berarti. Pasalnya, ritual ini mempengaruhi psikis sang Ayah yang sedang pemulihan pasca dua operasi kompleks tahun lalu. Proses pemulihannya langsung melesat cepat semenjak kami rutin makan malam bersama. Mungkin karena makannya jadi lebih bahagia, bukan paksaan dokter seperti sebelumnya. Makan lebih bahagia, tentunya lebih nikmat pula kan?
Memasuki bulan ke-empat WFH, rasa jengah mulai datang. Bukan, bukan jengah makan malam bersama keluarga. Tapi jengah makan di rumah terus, di meja makan yang sama, dengan piring yang sama, sendok dan garpu yang sama. Walaupun rajin minta tolong abang-abang delivery buat jajan makanan dari luar, tetap saja, ada yang beda.
Rasa-rasa ingin makan di luar dengan keluarga mulai muncul, tapi biasanya bisa hilang kalau sudah makan bersama di meja makan rumah tercinta. Yang belum bisa dihilangkan itu adalah rasa ingin makan di luar bersama teman-teman sambil bersosialisasi, atau nama gaulnya: nongkrong.
Ini wajar, wajar sekali. Kembali ke pembahasan di awal artikel ini, kita adalah makhluk sosial. Social craving adalah hal yang lumrah. Ditambah lagi, seringnya ritual makan dan ritual bersosialisasi itu saling menggantikan dan juga saling melengkapi[2].
Pernah kan, misalnya ketika menjelang waktu makan, tiba-tiba ditelfon teman lama, akhirnya ngobrol panjang lebar sampai laparnya tidak terasa. Tau-tau ketika selesai telfon, perut sudah keroncongan. Atau ketika sendirian di kost, tidak ada teman, jadinya bosan, ujungnya cari cemilan atau jajan keluar. Nah, ini yang dimaksud dengan ritual makan dan ritual sosial dapat saling menggantikan.
Sedangkan ketika kita menggabungkan kedua ritual ini (alias nongkrong), maka kedua ritual ini sedang saling melengkapi. Ketika kita nongkrong, ada dua hasrat dasar manusia kita yang sedang dimanjakan: pangan dan sosial. Bisa dibilang, ini kenikmatan combo. Mungkin itu kenapa kita semua suka banget nongkrong? Karena ketika kita nongkrong, we double our happiness.
Tapi tunggu dulu, ada satu faktor lagi yang bikin kita suka banget nongkrong, jadi bukan double the happiness lagi, tapi malah triple the happiness. Satu faktor lagi adalah tempat dimana kita makan, atau gaulnya, tongkrongannya dimana. Tongkrongan ini sangat berpengaruh, apakah sebuah restoran, café, bistro, bar, kedai, atau warung. Masing-masing tempat punya efek yang berbeda baik ke ritual makan dan ritual sosial kita.[3]
Misal, ketika kita nongkrong di restoran mewah, tuntutannya kita harus berpakaian dengan semestinya dan menjaga volume ngobrol. Beda dengan kalau nongkrong di kedai, mau ngobrol menggelegar tertawa terbahak juga tidak masalah. Dua situasi ini memang berbeda, tapi, les we agree, nongkrong di restoran atau di kedai, dua-duanya asik, kan? Kangen, kan?
Iya kangen, tapi tahan sebentar lagi ya. Tidak usah dijelaskan lagi kenapa masih harus tahan di artikel ini ya?
Untuk sementara, mungkin ritual makan dan ritual sosial kita belum bisa digabung dahulu in real life. Tapi masih bisa kok, video call sambil order makanan yang sama dengan orang yang kita telfon. Ribet sih, dan mungkin juga cheesy, tapi masih lebih baik daripada tidak sama sekali.
Karena toh ternyata, keinginan kita untuk nongkrong bukan cuma sekadar tentang ingin, tapi juga tentang kebutuhan dasar. Kebutuhan dasar kita kalau tidak terpenuhi, ujungnya akan tidak baik. Kalau tidak makan, ya ujungnya bisa sakit dan akhirnya tamat. Kalau tidak berinteraksi dengan orang lain mungkin tidak langsung bakal tamat, tapi bisa sakit secara sosial atau bahasa lainnya, mental health problem.
Sambil menunggu masa-masa pandemi ini mereda, mari kita renungkan dua hal. Yang pertama, betapa kita dulu menyepelekan waktu-waktu nongkrong dengan teman-teman. Yang kedua, kapan, dimana, dan makan apa nanti kita kalau nongkrong lagi?
[1] Food Culture : Anthropology, Linguistics and Food Studies by Janet Chrzan and John Brett, Chapter 1: The Anthropology of Food and Food Anthropology by Geraldine Moreno-Black
[2] Do Social Activities Substitute for Food in Youth? By Sarah-Jeanne Salvy, Lauren A. Nitecki, &
Leonard H. Epstein on The Society of Behavioral Medicine 2009
[3] The Effect of Meal Situation, Social Interaction, Physical Environment and Choice on Food Acceptability by Silvia C. King, Annette J. Weber, Herbert L. Meiselman, et al on Food Quality and Preference 15 (2004)
