Uncategorized

DUA COFFEE – Petik Mangga Membawa Rezeki

“Di COVID-19 ini, karyawan malah nambah, gak berkurang dan THR tetep jalan.” – Omar Karim Prawiranegara

Omar Karim Prawiranegara atau yang kerap di sapa Omar selaku Co-Founder dari Dua Coffee, telah sebelumnya berkecimpung di dunia FMGC. Mengaku bahwa kariernya selama delapan tahun pada beberapa brand besar seperti Danone, Unilever, Frisian flag dan Anchor Fontera, membantunya dalam membangun dan menjadi pondasi dalam bisnisnya di bidang kopi. Pengetahuan yang ia dapatkan dalam dunia retail yang ia pelajari memberikan keuntungan menghadapi bisnis food & beverage(F&B) yang sedang mengalami rise & fall di masa pandemik, COVID-19.

Berdiri sejak tahun 2016, Dua Coffee atau yang apabila di artikan dalam bahasa arab adalah doa, menjadi doa atas segala mimpi dan harapan Omar dan partner. Pada awalnya Omar, Aldi, Eky dan Dede tidak memiliki shift sejak mereka menjadi team opening, kini berkembang dengan karyawan yang cukup banyak baik full-time maupun part-time. Ide awal Omar dengan membuka wadah food court untuk teman-teman F&B sebagai wadah agar mereka yang memiliki usaha makanan seasonal ataupun rumahan dapat berkembang dan menjual produknya sehari-hari, kemudian berlanjut kepada konsultasi kepada Agam selaku mentor mereka. Agam adalah salah satu senior di industri kopi. Pertemuan Omar dengan Agam di Anomali Senopati, diawali dengan pengajuan business plan Omar kepada Agam. Agam menyarankan untuk masuk ke dalam dunia kopi. Awalnya, Omar ragu karena mereka tidak punya pengalaman dan pengetahuan yang cukup untuk memulai bisnis kopi. Tetapi setelah beberapa workshop dan pembelajaran, Dua Coffee akhirnya berdiri pertama kali sebagai usaha rumahan di Cipete Dalam, sebelum akhirnya pindah ke Cipete Raya.

Munculnya kasus COVID-19 di awal bulan Februari 2020, berimbas pada banyak aspek. Salah satunya bisnis di bidang F&B. Beberapa fase yang di berlakukan pemerintah membuat beberapa restoran dan bisnis di bidang F&B mengalami gonjang-ganjing. Beberapa terpaksa tutup dan beberapa justru mengalami kenaikan dalam aspek penjualan. Dua Coffee adalah salah satu dari sekian banyak outlet F&B yang dengan strateginya, akhirnya dapat bertahan dan justru sempat mengalami titik teratas pendapatan perhari mereka.

Outlet utama yang sekarang berdiri di lingkungan dengan komunitas yang cukup supportive dan menjadi wadah untuk saling sharing, menjadi pelengkap tujuan awal sang empunya Dua Coffee untuk berikhtiar, memiliki ‘something’ untuk orang sekitar. Lebih dari sekedar gaji bulanan dari perusahaan tempatnya bekerja sebelumnya, Omar merasa fungsi manusia sebagai makhluk sosial lebih terpancarkan, bertemu dengan orang-orang dari titik nol sampai bisa menjadi sukses. Terbukti saat menghadapi COVID-19, Omar banyak berbincang dan berkonsultasi dengan pelaku F&B lain bagaimana untuk survive di masa pandemik. Dua sampai tiga bulan sebelum Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), Dua Coffee belum merasakan adanya pengaruh pada sales mereka. Namun menjelang PSBB, salesmenurun 30% vs. keadaan normal. Keadaan kembali memburuk ketika PSBB resmi diberlakukan.

Dua Coffee Cipete Raya sebagai tulang punggung dari beberapa outlet mengalami penurunan sales hingga 80%. Sedangkan outlet Bintaro dan Bandung mengalami penurunan hingga 90%.

Perbincangan Omar dengan pemilik Tuku, serta terkumpulnya feedback dari customer memebuahkan titik terang. Omar akhirnya memutuskan untuk menjual minuman best seller Dua Coffee dalam kemasan literan dan mulai menjualnya ke teman-teman hingga akhirnya memanfaatkan e-commerce berwarna hijau, Tokopedia. Namun permasalahan belum berhenti sampai disitu. Bulan Ramadhan segera tiba.

Berdasarkan data, konsumsi kopi di tengah masyarakat menurun 30-40% pada saat Bulan Ramadhan. Kembali memutar otak, Omar melakukan reset produk yang akhirnya membuahkan anak baru ‘Petik Mangga’.

Petik Mangga adalah minuman non-coffee yang tercetus karena biasanya di Bulan Ramadhan orang mencari minuman segar untuk buka puasa, sebagai takjil. Ternyata Petik Mangga diterima oleh masyarakat karena rasanya yang cocok di lidah orang Indonesia. Mulai dari sampling ke teman-teman hingga banyak dicari oleh customer Dua Coffee. Petik Mangga bahkan membawa Dua Coffee sampai di titik tertinggi sales mereka, dimana hal tersebut belum pernah di lalui sebelumnya.

Omar mengatakan bahwa yang paling utama harus dilakukan ketika pandemi menyerang adalah financial checking. Prinsip Dua Coffee adalah bagaimana caranya Dua Coffee bisa menyelamatkan teman-teman yang ada di dalamnya untuk tetap gajian normal. “Gimana caranya waktu ada turbulensi pesawat yang di selamatin duluan kita sendiri, baru anak kita, jadi kita juga gitu, sebelum mutusin mau ngapa-ngapain kita selametin internal Dua Coffee dulu sendiri, sehingga roda ekonomi tetep jalan. Mereka tetep bisa jajan ke kaki lima, kita pun mendapat income normal, opex lebih terjaga karena bahan yang dibeli udah pasti, karena sebelumnya lebih banyak menu sekarang lebih mengerucut dan jelas yang dibeli apa aja dan waktunya lebih bisa di predict,” jelas Omar. Selebihnya ia mengatakan bahwa metode yang ia pilih tidak bisa dibilang cukup aplikatif untuk semua jenis usaha,

“Semua balik lagi, fokus ke internal, cadangan uang internal menjadi poin terpenting di awal untuk bisa ngatur seberapa panjang napas kita kalo oksigen ini abis.  Amit amit kecelakaan, CT scan dulu, sama kayak Dua, secara gradually ada laporan p&l. Tapi yang di CT Scan lebih mendetail. Keuangan, SOP kesehatan, cara ngebersihin lebih di pelototin lagi, abis itu breakdown cost apa yang bisa di kurangi. Kurangi shift, dan yang part time di tiadakan dulu, karena biasanya yang part time biasanya yang masih mahasiswa atau kuliah yang gadibolehin lagi sama orangtuanya atau pulang kampung dulu sebelom gak di perbolehkan.”

Dua Coffee memetik apa yang di tanam. Hubungan baik dengan para customer membuahkan sinergi yang baik. Banyak sekali teman-teman yang membantu untuk mempromosikan produk baru dari Dua Coffee ini. Intinya adalah jangan takut untuk berinovasi. “Banyak yang komen kenapa sih kan lo coffee shop kok malah jualan petik mangga yang non coffee? Kalau misalnya gara-gara ngga jualan itu harus tutup, apakah orang lain mau ngebantuin untuk kita tetep berada disini. Jawabannya engga. Lagi lagi yang bisa nyelametin diri kita sendiri adalah diri kita sendiri. Akhirnya survival mode nya adalah menciptakan itu semua, asal selama valuenya baik dan gak terlalu nyebrang, sama aja kayak jual teh, toh sales kopi ikut keangkat naik. Simbiosis mutualisme.”

Kini selain tiga outlet yang berada di Indonesia Dua Coffee telah melebarkan sayapnya, membuka cabang go-international mereka di negri Paman Sam, USA. Outlet mereka yang bhineka tunggal ika dengan karyawan campuran seperti waga lokal hispanic, african american, brunette dan dari Indonesia sendiri. Intinya, dalam membuka usaha menurut Omar “go ahead, lakukan langkah pertama, yuk sama-sama. Langkah pertama paling penting karena percuma kalo punya mimpi banyak tapi kalau langkah pertama gak di jalanin ya gak akan jalan.”

Related posts
ArticleWhat's new

RYOTA: PEMAIN BARU DI LAGA MODERN JAPANESE DI JAKARTA

RYOTA: Restoran yang menawarkan pengalaman kuliner Jepang modern yang menggabungkan konsep robatayaki dan izakaya. Terletak… Share this: Share on X (Opens in new window) X Share on Facebook (Opens in new window) Facebook Like this:Like Loading...
Article

LING LING, RUMAH DIMSUM ORIENTAL TAPI “SELATAN”

Terletak di daerah Cikajang Jakarta Selatan, Ling ling dimsum & tea house sudah ada sekitar… Share this: Share on X (Opens in new window) X Share on Facebook (Opens in new window) Facebook Like this:Like Loading...
Article

GERAI ARTISAN COKELAT  DI KAWASAN OLD MONEY MENTENG

Sebuah destinasi kuliner baru hadir di Jakarta menawarkan pengalaman makan komplet yang memesona dengan sajian… Share this: Share on X (Opens in new window) X Share on Facebook (Opens in new window) Facebook Like this:Like Loading...
Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Leave a Reply

Discover more from Tworubber

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading