Articlefeatured

Feast’s Last Decision – Ray Janson

Sejak kecil, Ray Janson sudah memiliki ketertarikan dalam memasak. Berawal dari kedua Oma Ray yang sangat berperan dalam perjalanan kariernya, Ray sering ikut Oma ke pasar sebelum pulang sekolah dan main di dapur Oma serta dapur bakmi kedai Oma setelah pulang sekolah. Cita-cita Ray untuk menjadi seorang koki perlahan terbentuk melalui studinya di Le Cordon Bleu, Paris. Meskipun sempat mengalami kerampokan di Perancis dan sempat patah semangat, Ray berhasil lulus dan mendapatkan pekerjaan di beberapa restoran ternama seperti L’Atelier Perancis dengan Award Winning Michellin Star terbanyak, Hotel Mulia Jakarta, Quay Australia, Noma Denmark dan Kado Denmark. Belum cukup sampai di situ, impian Ray untuk membangun restoran pertamanya terwujud melalui restoran Indonesia di bilangan Gunawarman bernama Feast, kemudian Pho Noodle bar di Jokosutono dan Cheers di Puri yang menyuguhkan minuman beralkohol.

“I want people to have a Feast, Feast itu kan related to good time, to good food, good music,”

rAY Janson

            Feast terletak di lokasi prime Gunawarman dan sudah berdiri selama hampir tiga tahun, dengan tema makanan moderen Indonesia yang pada saat itu sedang Ray explore. Nama Feast muncul dari kultur Indonesia yaitu makan meja atau makan tengah dengan porsi sharing. Makanan Indonesia biasanya langsung dihidangkan secara bersamaan tanpa susunan menu pembuka dan menu utama. “I want people to have a Feast, Feast itu kan related to good time, to good food, good music,” jelas Ray. Bekerjasama dengan sang empunya Kokiku TV sebagai salah satu Youtube channel terbesar di Asia, Feast hadir dengan interior yang instagramable dengan harga yang cukup terjangkau dibandingkan dengan restoran-restoran sekitar.

            Namun Feast menjadi salah satu restoran yang merasakan dampak yang besar dari hadirnya virus COVID-19 di Indonesia. Perkembangan Feast sebelum munculnya pandemi dijelaskan oleh Ray mengalami masa jatuh dan bangkit, “perkembangannya fine, as in any business atau resto pasti setiap resto ada tai-nya.” Ia mengatakan bahwa pasti setiap hari ada masalah, tapi yang paling penting adalah bagaimana menyelesaikan sebuah permasalahan dan mencari jalan keluarnya. Feast diterpa masalah yang cukup besar sejak awal tahun 2020. Dirinya mengatakan bahwa hujan non-stop dan banjir badang yang melanda di Jakarta sempat menggenang basement Feast. Masalah yang datang belum berhenti sampai disitu. Sejak Gym di daerah tetangga dinyatakan sebagai suspect corona, keriaan di Feast melalui Pop Up Kitchen ‘Feast Me Up’ dengan Chef Saskyra Rosano yang full book, mendadak sunyi di hari setelahnya. Sales Feast menurun dratis di angka 70%-75% dan sebulan setelahnya para pemilik memutuskan untuk menutup Feast untuk memotong kerugian yang lebih jauh. Penjualan melalui ojek online, promo, pembuatan menu khusus delivery juga tidak banyak membantu memperkuat keuangan Feast. Cadangan uang Feast juga sudah digunakan cukup banyak untuk menanggulangi banjir yang datang di awal tahun, sehingga mereka sudah kehabisan dana untuk bertahan.

“yang bayar gaji kalian bukan kita (Feast), tapi orang yang makan, kalau gak ada yang makan ya gak ada uang untuk bayar gaji kalian, itu penting dan harus diingat”

Ray janson

            Sebenarnya pada saat itu untuk bayar gajipun Feast sudah tidak mampu, bukannya tidak mau atau memang menutupi keuntungan. Ray mengatakan bahwa Feast selalu mengedepankan kultur transparansi pada omset dan jumlah staff service. Karena prisnsip mereka adalah mereka mencari uang sama-sama, dan yang selalu ditekankan pada karyawan Feast adalah “yang bayar gaji kalian bukan kita (Feast), tapi orang yang makan, kalau gak ada yang makan ya gak ada uang untuk bayar gaji kalian, itu penting dan harus diingat,” tambah Ray. Namun sebagai bentuk pertanggung jawaban dan keperdulian terhadap karyawannya, para pemilik Feast memberikan injeksi dana, untuk membayar gaji karyawan serta meminta maaf kepada para karyawan setelah keputusan untuk tutup selamanya, demi kebaikan seluruh pihak.

            Ray mengaku tidak kapok untuk membuka kembali restoran sebagai bagian dari mimpinya sebagai restauranteur. Ia berharap segera menemukan partner dan investor yang cocok dengan dirinya. Feast adalah restoran pertama yang mengandalkan Ray sebagai Chef sekaligus owner yang menyadarkan Ray bahwa perjalanan menuju sukses itu tidak mudah. Ia sempat medapatkan petuah dari Chef yang pengalamannya sudah jauh melampaui dirinya, “restoran pertama ini buat pembelajaran. Kalau punya restoran pertama sukses, mledak nama lo, omset milyaran sebulan ya bagus, tapi itu mungkin 5%, bahkan statistik 80% resto gak survive sampai 2 tahun. Jadi jangan sampe putus asa, karena ini pembelajaran yang mahal.” Seiring berjalannya waktu Ray yang mempelajari keuangan lebih dalam, menyadari bahwa dirinya salah, dalam mengeluarkan semua tabungannya untuk Feast karena ia terlalu bersemangat untuk restoran pertamanya. Ia mengatakan kalau saat itu seharusnya ada cara lain untuk mengatur investasinya.

            Beberapa tips & trick diberikan oleh Ray untuk para pebisnis baru yang mau membuka restorannya di masa pandemi. Pertama, tunggu sampai situasi dan  keadaan membaik. Kedua, pastikan di grup atau partner di bisnis yang ingin dijalankan sudah memiliki pengalaman dibidangnya, yang pada hal ini food & beverage (F&B). Supaya uang yang dikeluarkan untuk usaha yang dijalankan tidak menjadi sia-sia dan waste of money. “You have to know what you’re doing!” tutur Ray. Terakhir, apabila kalian tidak punya pengalaman tetapi mempunyai dana yang cukup hire the right people. Cari chef yang berpengalaman, yang cocok dengan visi misi kalian serta konsep dari bisnis F&B yang ingin kalian buat dan pekerjakan dirinya sebagai konsultan dari bisnis kalian untuk merancang menu, tata letak dapur dan karyawan.

            Ray mengaku sedikit khawatir dengan konsep new normal yang akan segera diterapkan di Indonesia karena peraturannya masih silih berganti. Tetapi untuk perasaannya terhadap F&B tidak akan pernah berubah kaerna dirinya mengaku mencintai bisnis ini, bukan hanya gemar memasak tetapi semua yang ada di dalamnya, even the lame complains. Terbukti melalui usaha rumahan Ray ‘Wok From Home’ yang menjual bakmi ayam dan bakmi non-halal yang dijual melalui sistem pre-order. Namun seiring berjalannya waktu, banyak sekali permintaan mendadak untuk hari yang sama sehingga membuat Ray harus masak secara dadakan. Ia sempat menerima order 50 porsi untuk lokasi cempaka putih, bahkan ada yang memesan dari daerah Surabaya. Selain itu Ray juga membuat Youtube channel-nya sendiri berjudul Ray Janson Podcast yang mengulas tentang dunia F&B bersama dengan teman-teman pelaku bisnis F&B. Kini Ray sudah memiliki 1315 pengikut dan mencapai 71 episode.

Related posts
ArticleWhat's new

RYOTA: PEMAIN BARU DI LAGA MODERN JAPANESE DI JAKARTA

RYOTA: Restoran yang menawarkan pengalaman kuliner Jepang modern yang menggabungkan konsep robatayaki dan izakaya. Terletak… Share this: Share on X (Opens in new window) X Share on Facebook (Opens in new window) Facebook Like this:Like Loading...
Article

LING LING, RUMAH DIMSUM ORIENTAL TAPI “SELATAN”

Terletak di daerah Cikajang Jakarta Selatan, Ling ling dimsum & tea house sudah ada sekitar… Share this: Share on X (Opens in new window) X Share on Facebook (Opens in new window) Facebook Like this:Like Loading...
Article

GERAI ARTISAN COKELAT  DI KAWASAN OLD MONEY MENTENG

Sebuah destinasi kuliner baru hadir di Jakarta menawarkan pengalaman makan komplet yang memesona dengan sajian… Share this: Share on X (Opens in new window) X Share on Facebook (Opens in new window) Facebook Like this:Like Loading...
Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Leave a Reply

Discover more from Tworubber

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading