Gastronusa, media kuliner asli Jakarta atau kami sebut penjaga kubu utara baru saja merampungkan gelaran kopi lokal bertajuk Festival Kopi Tarkam. Tarkam sendiri buat kami punya arti yang sederhana, terkesan kurang mendunia dan kelas teri, tapi justru di situlah menariknya, karena ini memang event kopi dalam negeri! Kopinya juga kopi lokal, cara pengolahannya juga lokal.

Gastronusa sebelumnya sudah melakukan perjalanan sekaligus riset ke Yogyakarta, mendatangi beberapa kedai kopi lokal yang punya cara unik masing-masing dalam mengolah kopi mereka. Misi Gastronusa sendiri, sepertinya, ingin memperkenalkan teknik menyeduh kopi yang cuma ada di Indonesia dan mencoba membawa teknik ini ke kedai-kedai yang lebih bisa dijangkau oleh kebanyakan orang.

Menurut Edwin, si empunya Gastronusa, masih ada banyak sekali cara menikmati kopi yang belum tersorot. Dari kopi talua di Bukittinggi, kawa daun di Payakumbuh, hingga kopi joss dari Jogja dan kopi tahlil di Pekalongan. Ada juga teknik roasting pakai tembikar yang dilakukan oleh Kopi Jo di Jogja, serta kopi rarobang dari Ambon yang disajikan hangat dengan kayu manis dan rempah.
Dari sinilah Festival Kopi Tarkam mengambil bentuk. Beberapa tenant menyajikan kopi klasik seperti Kopi Es Tak Kie yang legendaris dan Turkish coffee dari Djauw Coffee. Tapi yang menarik adalah kehadiran interpretasi modern. Fluffy Rocket Coffee menyajikan kopi talua khas Minang dengan teknik sous vide, serta kopi rarobang dari Ambon. Kame Coffee House mengenalkan lini “Kopi Remang”—seri kopi rempah dari Kalimalang yang menggunakan purwoceng, herbal dari Dieng yang dipercaya bisa meningkatkan stamina. Sementara El Makko Coffee mengangkat kopi tahlil dari Pekalongan dan menghadirkan kopi mesoyi minuman dari kayu mesoyi, tanaman endemik Papua yang aromatik dan khas.

Yang terasa kuat dalam festival ini bukan cuma soal kopi, tapi soal sikap. Sikap untuk merayakan, untuk membuka ruang, bukan menetapkan definisi. Edwin menegaskan, “Kami bukan pemilik kebenaran, kami hanya pemantik diskusi.” Sikap ini juga tercermin dari kehadiran tokoh seperti Bapak Andy Ruswar, Direktur Kuliner Ekraf RI, dan Bapak Soegianto Nagaria dari PT Summarecon Agung, yang hadir bukan cuma sebagai simbol dukungan, tapi benar-benar mencicipi dan berdialog dengan para pelaku.
Bagi kami, gelaran ini bukan ajang pembuktian dari Gastronusa semata, tapi sebuah diskusi santai sambil menikmati kopi—kopi yang selama ini terasa “jauh” dan kurang bisa diakses.
