Pahlawan negara tidak melulu soal perjuangannya dan gugur dimedan perang, mempertahankan dan mengenalkan aset Negara berupa kekayaan kuliner juga bisa disebut pahlawan.

Di tanggal 17 agustus kali ini Tworubber, memberikan apresiasi kepada para Pejuang Kuliner Nusantara yang meberikan perubahan dalam mepertahankan dan melestarikan kekayaan kuliner Nusantara.
Bondan Winarno, atau yang akrab disapa dengan panggilan Pak Bondan, namanya memang mulai dikenal sejak menjadi presenter kuliner yang mengajak pemirsa berkeliling negeri, bahkan luar negeri, untuk mencicipi sajian khas di tiap daerah. Tagline “pokok’e maknyus” membuat sosok ini makin terkenal.
Wanita berumur 71 tahun ini sudah sibuk malang melintang di televisi Indonesia setiap hari Minggu pagi sejak 1996 lalu. Anak generasi 90-an pasti mengenal sosok Sisca lewat tayangan televisi “Aroma”. Sebuah program masak yang dibawakan Sisca selama 11 tahun di stasiun televisi Indosiar.
Awalnya, ide membuat usaha sambal berasal dari suami, Rudy, yang kerap memancing dan sering membawa ikan hasil pancingan. Sebagai istri, Lanny membuatkan sambal sebagai pelengkap makanan hasil tangkapan suami. Setelah itu Lanny mengundang teman-temannya untuk makan bersama. Setelah dicicipi, ternyata rasa sambal tersebut enak. Banyak kerabat dan teman-teman Lanny yang menyarankan untuk menjual sambal tersebut. Awalnya, Lanny sempat ragu, tetapi akhirnya ia memberanikan diri untuk menjual sambal tersebut. Nama Sambal Bu Rudy diambil dari nama sang suami, Rudy. Biasanya jika pasangan suami istri, teman-teman memanggilnya dengan sebutan Bu Rudy dan menjadi pelopor sambal kemasan hingga membuat tren sambal kemasan yang kini sudah banyak beredar
Menjadi seorang Pakar Kuliner Indonesia dan konsisten mengangkat kuliner Nusantara ternyata tidak terlepas dari pengalaman masa kecilnya. Awalnya, ia bercita-cita ingin berkarier dalam bidang fotografi seperti ayahnya, Soewadi Wongso.
William juga sangat suka mencicipi makanan kaki lima sambil mengunjungi sejumlah pasar tradisional. Dari tempat-tempat tersebut, William dapat memahami khazanah kuliner khas Nusantara.
istilah culinary storyteller diciptakan sendiri oleh Ade untuk menyebut profesinya sebagai pencerita kuliner. Peran ini meliputi kemampuan dalam menulis, memotret, melakukan riset, dan berbicara di depan umum untuk bercerita mengenai makanan.
Dilansir dari Media Indonesia, dorongan Ade untuk menjadi culinary storyteller berasal dari dua komunitas yang aktif melibatkannya sebagai humas/spokesperson, yakni di ACMI dan Co-Founder Beergembira. Dari situ, ia merasa jika cara terbaik dalam melakukan kegiatan dan edukasi kuliner ialah dengan mendongeng (storytelling).
