Sate, jagung bakar, adalah dua dari sekian banyak produk makanan yang cara pengolahannya melalui proses pembakaran. Pesta malam tahun baru mungkin gak bakal komplit kalo gak ditemenin sama beberapa makanan tadi. Tapi disini kita gak bakal ngomongin tentang menu makanan yang dibakar, bukan juga tentang party bakar-bakaran di malam Tahun Baru. Melainkan disini kita akan ngebahas tentang “kayu arang” nya sendiri, yap, sumber energi dari kegiatan yang tadi telah disebutkan.

Kayu arang yang kini makin lama makin jarang kita jumpai, apalagi buat yang tinggal di kota besar seperti Jaksel ini. Palingan kita bisa nemuin penggunaan kayu arang ini di tempat-tempat tertentu, seperti kedai bakmi Jawa atau kedai sate seperti Apjay, Sambas. Tempat itu pun kini sudah banyak menggunakan arang dari batok kelapa, bukan menggunakan kayu arang lagi. Tapi sebenarnya arang pernah menjadi raja pada masanya. Tentu itu sebelum banyaknya penggunaan kompor gas, kompor minyak. Penggunaan kayu arang dalam kehidupan sehari-hari pernah jadi salah satu kebutuhan pokok yang mungkin hingga kini masih digunakan dalam industri-industri tertentu yang tetap mempertahankan penggunaannya.

Pada sekitar tahun 2016, pernah di galakkan perihal larangan pengiriman si kayu-kayu arang dengan kualitas ekspor yang akan dikirim ke luar, namun sebenarnya kenapa? Emang kayu arang seberharga itu? Jawabannya adalah iya, kayu arang memang seberharga itu. Karena bahan dasar dari pembuatan kayu arang ini berasal dari batang pohon bakau. Yap, bakau merupakan salah satu tanaman yang bisa dibilang sangat dibudidayakan, karena nantinya pohon ini dapat mengurangi efek rusak dari tsunami atau bahkan menahan gelombang tsunami.

Namun, apakah industri produksi kayu arang sebegitu merugikan? Sebenarnya ini gak dilarang-larang banget sih ada aturan yang mengatur tentang produksi kayu arang. Hanya saja, hingga kini masih banyak oknum-oknum nakal yang masih belum taat akan regulasi-regulasi yang telah diberlakukan. Industri kayu arang ini sebenarnya sudah berusia ratusan tahun dan dijalankan secara turun temurun. Salah satunya oleh masyarakat suku Akit yang bermukim di bantaran sungai Liong, Pulau Bengkalis. Terlebih lagi produksi kayu arang ini memang benar-benar memanfaatkan banyak sekali pohon mangrove untuk diolah. Perbandingannya adalah 1:4 yaitu satu ton kayu arang dihasilkan dari 4 ton pohon bakau hidup.
Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa kayu arang memang banyak manfaatnya, namun pohon bakau jauh lebih punya banyak manfaat bagi kelangsungan dan kesehatan bumi.
