Bali satu-satunya tujuan “short escape’’ yang mungkin paling sering jadi opsi untuk masyarakat urban. Bali menyimpan banyak sekali rayuan keindahaan yang tidak pernah habis, kalau kata banyak orang “langit Bali punya warna yang beda dari Jakarta”. Maka tak heran kita selalu dibuat iri bila ada salah satu teman Instagram kita yang kerap mengunggah liburan Bali mereka di media sosial.
Namun kali kami tidak akan berbagi cerita tentang keindahan alam, bukan juga bercerita tentang bersantai di sunbed di pool bar yang tempohari sempat ramai di media sosial karena oknum pegawainya yang “bikin keki” atau kisah tentang wisatawan asing yang motornya tersungkur ke dalam sawah, ya kali ini saya akan berbagi pengamalan rasa.

Memulai pagi dengan nasi ayam Mek Juwel yang lokasinya sedikit masuk lagi kedalam dari jalan besar. Kedai Mek Juwel ini punya lahan parkir yang cukup luas sebenarnya, mungkin sebelum pandemi ini kedai ini selalu ramai pengunjung, sistem taking order dilakukan seperti warung nasi rames pada umumnya. Dalam satu piring nasi ayam ini terdapat beberapa lauk pauk yakni suwiran ayam panggang, suwiran ayam betutu, sate lilit ayam serundeng, sayur urap, sambal matah dan telur kecap seperempat butir. Terlihat sangat berat menu sarapan kala itu, namun uniknya justru kebalikannya semua elemen tadi seperti saling melengkapi satu sama lain dan terasa sangat pas untuk dijadikan makanan pembuka hari.

Mungkin karena gairah untuk menjajal rasa saya pada hari itu belum terpenuhi selepas menghabiaskan seporsi nasi ayam Mek Juwel kami langsung saja mencari hidangan yang tidak boleh lupa bila sedang berada di Bali. Bagi Guling Putra Celagi bagi saya masih menjadi opsi utama untuk menikmati nasi bigul (babi-guling) bagi saya putra celagi punya rasa yang konsisten meski sudah memiliki beberapa cabang, dengan 15 ribu rupiah nasi campur bigul komplit sudah ada di meja.

Kala pertama menjajal warung ini, babi panggang ala amerika namun dihidangkan bersama nasi putih dengan kentang goreng dan buncis, wortel sebagai pendampingnya, sebuah formula mutakhir untuk orang Indonesia yang belum makan bila belum kena nasi putih. Bumbu barbeque yang rasanya sudah indonesia sekali jadi daya tarik warung ini. Bagi sebagian orang menu babi panggang barbeque jadi makanan wajib ketika berkunjung ke Pulau ini, namun tak sedikit juga yang kada khawatir karena harganya yang terkadang overprice, namun tidak dengan Warung Kayana di daerah Kedawetan Ubud ini.
Teks oleh: Dio Reza
