Memang terkadang passion bertentangan dengan background. Indra dahulu sempat sekolah design empat tahun tetapi ia mengundurkan diri karena memang lebih suka beraktifitas diluar kampus. Indra juga sempat kuliah di UMK dan international design school. Dengan ilmu yang dimiliki olehnya, Indra membuat usaha bernama The Dumpling Therapy. Berawal hanya dengan memikirkan namanya saja dan melalukan design untuk membuat logonya sendiri. Indra tidak punya pengalaman masak, hanya suka mengulik-ngulik Youtube.
Berawal membuat company profile dan bantuan temannya dalam hal design untuk menentukan logo dan packaging untuk The Dumpling Therapy ini. Pemilihan untuk membuat dan menjual dumpling berawal dari tahun 2019. Salah satu alasan yang menginspirasi Indra adalah banyak orang yang ingin makan dumpling tapi harus ke restoran Jepang lalu hanya memiliki satu jenis dengan harga yang mahal.
”Karena kalau liat dari bahannya pun sebenernya tuh kurang lebih kayak bahan bikin mie ayam. Kayak cuman beda bentuknya aja sih, pake tepung, pake ayam. Cuman kan kalo mie ayam kan tepung sama mie ayamnya dipisah. Kalo ini kan jadi satu kayak pocket gitu.”
– INDRA | The Dumpling Therapy
Mei 2019 menjadi awal mula jalannya The Dumpling Therapy. Dengan tujuan ingin lebih banyak orang makan dumpling, Indra menginginkan dumpling bisa orang makan seperti memakan mie ayam, tidak susah dicari dan harganya juga terjangkau. Tujuan lain yaitu Indra menginginkan lebih banyak orang memakan dumpling dan membuat dumpling. Indra pun pernah ikut kelas masak dan hanya memperhatikan cara mengajarnya, supaya bisa diterapkan ketika ia mengajar di workshop nya.
”Jadi tuh pas kuliah gue suka iseng bikin dumpling. Bikin gyoza, Japanese style dumpling. Abis itu gue suka bawa ke kampus. Nah terus bikin dumpling dan ngasih ke temen gue, ngeliat temen gue seneng tuh kayak, mungkin bukan theraphy yang beneran ada scientific explanationnya engga. Tapi lebih ke theraputic sih rasanya, seneng.”
– INDRA | The Dumpling Therapy
Lewat The Dumpling Therapy ini Indra juga menginginkan orang bisa membuat dumpling di rumah masing-masing dengan cara mengadakan workshop dan juga jualan dumpling meal kit. Indra menyediakan kulit, isian, bumbu tambahan dan utama bumbunya. The Dumpling Therapy juga menyediakan frozen dumpling. Workshop dari The Dumpling Therapy pernah diadakan coffee shop, tepatnya di coffee shop Jun. Pernah juga diadakan di rumah orang lain dan di Bogor. Biayanya per tiket per individu, tapi berbeda jika diadakan dirumah, hitungannya group dengan isi 4 sampai 6 orang. Indra tidak membuat workshop secara virtual karena susah, tidak semua orang punya dapur yang memadai dan alat-alat masak yang dibutuhkan.
Menu yang dimiliki The Dumpling Therapy sekarang adalah ayam, lemon grass lime beef dumpling, shrimp dumplings, thai wonton yang isinya seperti chicken dumpling tetapi ditambah sambal Thailand. Untuk harga, ready to eat 1 porsi isi 10 dumpling dengan harga 50rb, frozen 300gr dumpling bisa memilih rasa, harganya 70rb, dumpling meal kit yang mendapatkan 60 kulit warna boleh milih, dapet ayam 300gr, bumbu dan instruksi masak 200 rb. Workshopdikenakan biaya 150rb perorangnya. The Dumpling Therapy belum mau membuka outlet, tetapi akan pindah ke lokasi rumah yang baru yang ada dapur multifungsi dan tempat penyimpanan yang memang dibutuhkan. Indra bisa menyelenggarakan workshop disana dan tidak bergantung tempat diluar. Pada bulan ramadhan, ada kenaikan penjualan. The Dumpling Therapy juga pernah ditawarkan beberapa stasiun tv dan mendapan media exposure yang banyak. Semenjak PSBB, peningkatan penjualan pada dumpling meal kit.
Menurut Indra, The Dumpling Therapy itu bagi gue semacam transportasi buat self-development, personal development, bukan harga diri gue atau gue sebagbai orang tuh bukan didefinisikan dari kesuksesan ini, tapi kesuksesan ini bisa gue jadiin untuk kayak memicu diri gue untuk menjadi versi diri gue yang lebih baik setiap harinya.
