The Man Behind

Living Legend di Kanca Dunia Musik, Riri Mestika Ubah Haluan Menjadi Owner FNB

Siapa yang tak kenal dengan Riri Mestika, seorang musisi sekaligus DJ yang sudah kurang lebih 20 tahun berkecimpung di industri musik. Meniti kariernya dari nol, penghargaan yang didapatkannya sudah tak terhitung. Ia merasa sudah cukup mengumpulkan nama baik, respect, dan award. Seiring berjalannya waktu, dirinya selalu berfikir bagimana cara terbaik untuk check out dari dunia permusikan. Sementara hidup terus berjalan. Didukung dengan background Riri yang adalah hospitality dan Food & Beverage (F&B), menurutnya salah satu cara untuk melakukannya adalah dengan membuat outlet F&B.

 Secara akademik, Riri adalah seorang lulusan jurusan hospitality di Centre International de Glion, Switzerland. Pada saat itu, dirinya akan sekolah pada weekdays dan mencari uang dengan nge-DJ saat weekend. Fokusnya saat itu masih lebih ingin lebih banyak mengeksplor dunia musik. Berangkat dari seorang waitress, tukang cuci piring dan bellboy, kini ia menjadi owner dari beberapa outlet F&B  yang tersebar di Jakarta.

Outlet pertama Riri berdiri sekitar 12 tahun yang lalu. Pertama kali ia membuka outlet bernama Barcode dengan luas 1800m2. Karena Riri pada saat itu masih sangat getol dalam dunia DJ, ia mengaku masih gragas. Dibenaknya adalah membuka club atau outlet dunia malam .“Dan memang itu terbukti kalau misalnya kita mau fokus ya kita gabisa ngerjain banyak hal juga gitu, kecuali lo Superman.” Bertahan sekitar 4 tahun, Riri merasa banyak sekali pelajaran yang bisa diambil. Melewati jatuh dan bangun, Riri merasa pada saat itu dirinya belum cukup fokus untuk menjalankan bisnisnya,

As it was only a knowledge dari sekolahan, yang akhirnya berubah jadi pengalaman dan akhirnya try to run our own business. Itu terus terang memang different gain, dan itu tadi gabisa di sambil. Banyak sekali problem dan akhirnya harus tutup dan itu ya tambahan university lagi berarti,” pungkas Riri.

Riri adalah seorang yang pantang menyerah. Dari situ semua tidak mulus baginya, terus mencoba membuat suatu hal yang baru, sampai akhirnya ia menemukan jawaban bahwa coffee shop adalah salah satu pilihan yang bisa bertahan lama. “Jauh lebih tone down. Dalam pengertian kontrol dan exposure-nya juga. Dan itu menurut gue ya kayak oke this is the way that I have to go. Akhirnya mulai fokus lebih banyak di kopinya mulai dari 2019. Dimana di tahun itu di tahun 2019, gue membuat 2 brand. Yaitu Kopi Lima Detik dan Nasi Jeruk Tanggal Tua, yang merupakan item-item terlaris di coffee shop gue yang sudah lebih lama, sudah 7 tahun, yaitu Eightynine Coffee.

Berbicara tentang Kopi Lima Detik, sebetulnya sebagai item Es Kopi Susu, eksistensinya sudah lama. Karena item tersebut adalah item dari Eightynine Coffee. Selain itu disajikan juga bersamaan, Nasi Jeruk Tanggal Tua. “Nah Kopi Lima Detik itu dulu kita buatnya seperti activity mingguan. Kita bikin promo lumaya gila-gilaan aja gitu, buat dapetin exposure dan ternyata memang animonya bagus. Yaudah akhirnya kita bikin outlet yang pertama di Panglima Polim. Dari sejak buka juga lumayan rame dan akhirnya kita berpikir, oke gimana kita mulai scale up dari situ,” tambah Riri. Berkiblat dari filosofi Jepang, Filosofi dibalik nama Kopi Lima Detik cukup simple. Lima detik habis, kalem-nya seharian. Kalau kopinya habis, bandel-nya seharian.

Menjadi tujuan bagi mereka penikmat kopi dan penggemar nongkrong, konsep dari Kopi Lima Detik itu sendiri berangkat dari core value yang adalah kalem dan dalem.

“Jadi kalem itu memang Kalem Lima Detik, terus interiornya juga harus bikin kalem. Kita emang ada identical sama military green, bukan ke militer-militeran tapi memang color scheme kita memang kita mau dapetin vibe yang kalem. Termasuk dari interiornya, termasuk dari simplicity design kita,” jelas Riri.

Dari segi menu, konsepnya adalah coffee shop yang memiliki ghost kitchen yang menjual Nasi Jeruk Tanggal Tua. Dimana tujuannya adalah outlet bisa menetapkan pin point untuk beberapa online delivery, lebih banyak daripada hanya satu coffee shop saja. Fungsinya adalah untuk save cost dan double revenue. Menurutnya yang membedakan Kopi Lima Detik dengan brand kopi lainnya adalah penggunaan arabica pada kopinya. Tagline dari Kopi Lima Detik sendiri adalah ‘Arabicaly Calm.’ Selain itu juga pada saat para customerdatang, mereka bisa merasakan experience tempatnya, “jadi ternyata tempatnya bukan cuma kopi susu, tapi kita juga having a specialty beans karena kita juga roastery dan juga espresso based-nya at the level dimana kita masuk ke coffee shopCoffee shop yang serving specialty beans.” Riri ingin menciptakan brand  yang bukan hanya produk tetapi juga experience-nya. Ia ingin masyarakat melihat bahwa brand yang ia ciptakan adalah F&B company yang orang-orangnya kalem, minumannya juga kalau diminum kalem dan mempunyai skill yang dalem.

Strategi marketing yang dilakukan Kopi Lima Detik sebenarnya tidak jauh berbeda dengan brand lain. Riri menyarankan untuk selalu mengerjakan homework untuk menguatkan brand yang dibangun, supaya marketingnya jalannya akan lebih mudah.

“Kalau kita udah punya visi misi core value yang kuat, pasti nantinya kedepannya lebih flowing aja. Tapi dengan adanya Covid-19 ini memang semuanya gak ada yang normal gitu. Jadi memang kita agaksporadic sih untuk marketingnya sekarang. Bisa dibilang lebih banyak develop new ideasinnovation, selama masa pandemi ini. Daripada yang seharusnya kita lebih ngejagain maksud dari si brandnya.”

Tambah Riri. Hal ini dituangkan dalam produk baru Kopi Lima Detik yaitu Cobra. Hal ini dilakukan untuk emphasize salah satu proposisi Kopi Lima Detik, dimana kopi susu gula arennya menggunakan arabika. Kopi Lima Detik menggunakan Colombia Brazil, dimana diketahui bahwa Colombia Brazil adalah common blend untuk espresso di selutuh dunia.

Tips & trick yang dibagikan oleh seorang Riri Mestika untuk semua owner adalah agar leih bold pada brand yang dibuat. Dalam artian bukan logo, warna, maupun namanya, tetapi lebih ke apa yang mau digambarkan. Bagaimana suatu brand ingin dilihat di mata customer mulai dari produk maupun servis. “Kalau kita bisa mematahkan itu dari awal, pasti kedepannya jauh lebih flowing untuk membuat brand, untuk membuat bahasa yang kita pake untuk customer kita. Itu sih tips dari gue,” tutup Riri.

Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Leave a Reply

Discover more from Tworubber

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading