Aston Ahsani Adiwijaya adalah seorang pengusaha bakery & pastry yang menjadikan baking sebagai hidupnya secara utuh, bukan hanya sekedar bagian dari hidup. Salah satu jenis roti yang laku keras adalah Sourdough. Menjadi perhatian publik karena cara pengolahannya yang berbeda dengan roti biasa. Selain itu juga, Sourdough memiliki rasa asam yang masih asing di lidah consumer Indonesia, namun perlahan diterima dan dicari.
Cita-cita Aston sebenarnya adalah menjadi seorang seniman. Seniman lukis ataupun musisi. Namun pada saat itu, Aston melihat banyak sekali teman dan saudara di lingkungan tersebut yang apabila dijadikan pendapatan utama, menurutnya kurang dapat menjamin kehidupan pada saat itu. Ia juga mengatakan, bahwa mungkin dirinya sendiri lah yang kurang pede. Selain itu, Aston adalah orang yang lemah dalam matematika dan hitung-hitungan. Sehingga pada saat itu, banyak anak muda yang sepertinya menjadikan dunia perhotelan sebagai get away.
“Pas masuk ke dunia perhotelan pun saya pribadi gak tahan sama daging mentah sama darah, mau ke bagian bartender pun gak disetujui karena bermain dengan alkohol kebetulan saya muslim. Akhirnya satu-satunya divisi yang saya tuju yaitu patisserie atau bakery. Management patisserie, waktu itu di SPTB (Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung) atau lebih dikenal dengan Enhai.” Terang Aston.
Masuk dan Kuliah di STPB (Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung) bukan lulusan sana, karena belum sempat lulus, pada semester 5 Aston mendapat kesempatan untuk kerja di Lenotre Paris, dan meniti kariernya di Dubai, di factory baru Lenotre. Setelah itu Aston pindah ke Raffles Hotel Dubai, lalu pindah ke The Edge Fine Dining, mencoba dunia fine dining. Terakhir sebelum pulang ke Indonesia, Aston bekerja di Jumeirah Zabeel Saray. Hotel yang sempat dijadikan lokasi shooting Mission Impossible, dan ikut dalam tim pre-opening yang menyajikan roti untuk Tom Cruise dan kawan-kawan.
Aston akhirnya merubah mindset-nya dari pekerja menjadi pengusaha berkat ayah dan omnya. Dari mencari uang hingga berbagi rezeki untuk orang lain yang butuh pekerjaan. 2012 Aston pulang ke Indonesia, membangun Farel Patisserie Cafe join dengan omnya, lalu 2015 membuat Bellamie Boulangerie, join partner dengan Primarasa Group. 2019 Aston membangun Arturo Bakehouse (ARtisan TUkang ROti) bersama dengan keluarga, setelah itu pada tahun 2020 lahirlah Bakebros Pastry & bakery bersama dengan 2 sahabatnya.
Bake Bros Pastry & Bakery pertama kali tercipta ketika Aston dan 2 orang sahabatnya memberanikan diri untuk berjualan croissant kecil-kecilan dalam bentuk gerobak di pasar Mayestik pada bulan Maret 2020. Lalu berkembang menjadi seperti sekarang dengan outlet dan central kitchen serta baking academy yang akan segera buka di daerah Karang Tengah, Lebak Bulus. “Baking for me is the way I make my living. Karena saya satu-satunya mata pencaharian nafkah saya adalah baking. Dan saya juga gak punya keahlian lain, untuk cara saya mencari nafkah selain di baking. Jadi baking for me udah jelas it’s not part of my life, tapi it’s my life, it’s the way I am living,” tambahnya. Ketika baking, Aston merasa kegiatan itu merupakan terapi untuknya. Di kala dirinya ada masalah di rumah atau dengan temannya, apapun itu masalah kehidupan yang ia hadapi, Aston ngademin hatinya dedngan terjun ke bakery. Karena kalau melakukan baking itu menurutnya harus belajar dan dilatih untuk sabar. Sementara pada saat emosi, kita rasanya selalu in a rush. Ketika baking mau tidak mau harus drop emosi dan mencoba lebih tenang.
Di masa depan, Aston melihat dirinya sebagai pengajar dalam urusan manggang memanggang adonan. Ia akan mulai melebarkan sayapnya, berbagi ilmu dengan semua kalangan yang tertarik dengan baking dan mengejar cuan akhirat bukan hanya cuan duniawi.
“Karena banyak yang bilang ‘lo jual segitu menang cuan apa gak?’ Cuan itu kan ada 2. Cuan dunia sama cuan akhirat. Nah sekarang gimana caranya biar kita seimbang. Ngejar cuan akhirat juga, ngejar cuan dunia juga. Karena yang gak akan habis sebenernya adalah cuan akhirat, yaitu ilmu. Kalau menurut pendapat saya dan 2 sahabat saya, kalau harta setelah dibagikan, pengelolaannya gak baik itu akan habis dengan sendirinya. Tapi kalau ilmu, itu akan terus mengalir, mengalir, mengalir. Kita ajarin ke orang, orang lain ajarin lagi ke orang lain, itu akan terus jariahnya.”
Aston menjelaskan bahwa banyak sekali pengusaha bakery yang tidak suka dengannya. Mereka merasa dirugikan karena Aston mebagi-bagikan ilmu baking secara cuma-cuma kepada banyak orang melalui media sosialnya maupun secara langsung. “Yang pasti kalau yang sudah tau pricingstrategic-nya Bake Bros which is banyak juga bakery-preneur yang benci sama saya, atau gasuka sama Bake Bros, karena kita jual menurut mereka kok murah banget. Padahal kualitas kita, bahan baku yang kita pake juga European standard juga. Sebenernya karena bukan masalahnya saya mau murahin harga, bukan. Tapi tujuan saya, tujuan Bake Bros untuk menjual, juga adalah biar orang terbiasa dengan produk kita. Jadi kita harus memikirkan gimana orang kalau belanja ke kita tuh, gak terlalu terbebani, jadi biar tiap hari belanjanya.”
Selain sebagai terapi, menurutnya baking adalah sesuatu yang magical. Karena, hanya dengan air, tepung dan garam, bisa menciptakan adonan besar yang mengembang dan bisa memuaskan pelanggannya dari 3 bahan baku se-simple itu.
“Jadi pada saat itu saya ngeliat-nya dari kacamata orang awam aja. Karena awalnya basic saya bukan di bakery, di pastry. Lebih di kue-kue awalnya. Pada saat saya kerja saya minta transfer ke bakery karena saya ngeliat, dan khusunya bermain dengan Sourdough itu menurut saya truly magical lah. Karena, seumur hidup itu kita tau memelihara itu kan memang binatang biasanya, tapi ini kok tepung campur air bisa kita kasih makan. Ternyata di dalemnya itu ada billion atau zillion bakteri hidup yang harus kita perhatikan. Dan ternyata bakteri-bakteri itu yang membantu roti kita ngembang. Nah menurut saya sih itu something very magical. Itu yang membuat saya jatuh cinta sama dunia bakery,” ujar Aston.
