Lit bake house sebuah gerai artisan bakery yang belum lama ini membuka gerai pertamanya di Glodok, sebuah pemilihan tempat usaha makanan dan minuman yang unik untuk saat ini. Kebanyakan anak-anak muda seperti Lalita Setiandi chef dan owner Lit Bake House ini memilih gerai usaha pertmanya di daerah-daerah yang bisa dibilang “gaul” seperti Senopati, Kemang dan daerah-daerah lain yang kerap di kunjungi oleh muda-mudi ibu kota, melainkan Lit Bake House ini malah membuka gerai pertamnya di tengah-tengah gang sempit Glodok.
Bisa dibilag salah satu alasanya karena ada faktor emosional karena Glodok ini adalah daerah kelahiran si Lalita, namun selain itu ada maksut lain yaitu Lalita bermimpi untuk mengembalikan kaejayaan Glodok.

“Jadi gue pengen balikin Glodok kaya dulu lagi, kaya Glodok yang rame, Glodok yang hidup, karena kalo misalnya kaya gini terus menurut gue F&B di Glodok ya stagnan, bukannya jelek, tapi ya gitu-gitu aja, so I wanna bring a fresh breath juga di market sini” – Lalita Chef & Owner Lit Bake House
Market Glodok juga cukup unik mungkin tretamentnya tidak bisa disamakan oleh outlet-outlet lain, Glodok punya kultur yang berbeda profile marketnya juga berbeda, disini pendekatan yang dilakukan oleh Lalita bisa dibilang tidak hanya customers bayar lalu menjual produk namun harus ada pendekatan yang bisa dibilang “Humanis” yang perlu dilakukan.
“Lucu, kaya orang-orang yang datang ke Lit Bakehouse itu ada yang bener-bener orang tua yang enci enci balik dari pasar, ada ibu-ibu bawa pulang anaknya, anak sekolah TK.” – Lalita Chef & Owner Lit Bake House
Lalita kerap menggunakan bahasa mandarin ketika melayani beberapa tamu yang “telah berusia” namun tergdang ia juga menggunakan Bilingual English bila kedapatan tamu “anak jaksel” unik memang cara Lalita melayani tamu-tamu yang memiliki background demografi dan kultur yang berbeda

Lit Bake House sendiri ingin disebut sebagai Artisan Community Bakery yang bisa dibilang adalah gerai pastry dengan quantity yang terbatas namun dengan qualitas yang baik dan bisa dinikmati di tengah-tengah suasana Glodok yang memiliki daya tarik sendiri, Glodok yang riuh, padat, yang kita bisa mendengar masih banyak warga Glodok yang masih menggunakan bahasa Hokkien, juga masih ada beberapa orang yang menjual VCD Mandarin juga suara penjual Kembang Tahu yang agak mengganggu telinga, namun itu semua terangkum manis kedalam tempat yang bernama Glodok

