Terbentuk karena rasa kekeluargaan, Omah didirikan oleh beberapa pemuda yang memiliki latar belakang berbeda-beda dan saling melengkapi satu sama lainnya. Berasal dari bahasa Jawa ‘Omah’ yang berarti Rumah, memiliki arti Omah sebagai rumah kreatif, rumah singgah, rumah untuk berkembang. Melalui ‘Pelan tapi Gowes’ membuat para pendiri Omah mendirikan sebuah rumah singgah.

‘Pelan tapi Gowes’ merupakan project belajar mulai dari kuliner, kopi, hingga arsitektur yang membuat para pendiri Omah memiliki inisiatif mendirikan sebuah rumah singgah bagi para petualang. Project ‘Pelan tapi Gowes’ yang pertama kali mereka jalani yaitu mengayuh sepeda hingga Sulawesi selama 6 bulan. Dengan menemukan hal-hal baru selama perjalanan, membuat mereka mengadakan pameran Sulawesi dengan yang menghadirkan hidangan khas Sulawesi mulai dari pallubasa, sup konro, kopi tubruk kahayya, dan hidangan lainnya. Tidak hanya hidangan saja, pengunjung juga dapat merasakan sensasi ruang kampung dengan sentuhan arsitektur Sulawesi.

Omah memberikan pengalaman set up menu dengan harga yang terjangkau. Jhon selaku penanggung jawab dapur “meramu cerita” ingin menyampaikan kepada pengunjung bahwa persoalan makan bukan hanya sekedar perut kenyang saja tetapi pengunjung dapat merasakan sensasi proses memasak dan cerita dari masakan tersebut. Dengan cara memasak yang tradisional, Omah ingin memperlebar dan memperkenalkan makanan Indonesia kepada masyarakat baik lokal maupun luar.

Rafii, salah satu member Omah menyampaikan bahwa dengan basic mereka sebagai pejalan, untuk kedepannya Omah akan menyajikan pameran-pameran lainnya dengan melakukan perjalanan baik di Indonesia maupun luar negeri dan masih banyak program lain yang ingin mereka hadirkan kepada masyarakat.
Teks oleh: Sancia Putri
