Resmi dibuka pada tanggal 1 July 2020, Journey to the South (JTTS) hadir di Jl. Kemang Raya No.10, menyajikan kopi pilihan dan Chinese cuisine yang dikawinkan untuk memberikan pengalaman berbeda kepada customernya. Kemang menjadi pilihan berdirinya JTTS karena Aang Sunaji dan Kiki selaku owner merasa trenduntuk bergaul di Kemang sudah lewat masanya. Banyak sekali yang sudah mulai berpindah ke kawasan Senopati dan Gunawarman untuk hangout maupun ngopi. Namun Aang dan Kiki justru melihat situasi ini sebagai opportunity untuk mengembalikan trend Kemang sebagain destinasi.
Sejarah terjadinya JTTS dimulai dari Aang Sunaji yang adalah pebisnis sekaligus barista yang sudah 6 tahun berkecimpung di dunia kopi. Awalnya, Aang memiliki warung kecil di salah satu pasar moderen. Kemudian berkembang dan berpindah ke ruko dengan konsep full manual brew. Tapi ternyata, banyak orang belum terbiasa dengan konsep ini, sehingga mengharuskan Aang untuk menutup kedainya dan memutar otak tentang apa yang harus ia lakukan setelahnya. Tidak lama setelahnya dengan kecintaannya terhadap kopi, Aang kembali membuka A Tale of Two Coffee Beans. Belum cukup puas dengan kesuksesan kedainya yang terletak di kawasan Serpong, Aang lalu bekerjasama dengan teman kecilnya, Kiki, yang memiliki background branding dan marketing, untuk membuka Journey To The South.
“Sebenarnya ada satu media majalah, membahas A Tale of Two Coffee Beans. Dia bikin artikel namanya fine dining shop. Kita bangga dan merasa, orang melihat bahwa lo serve kopi mahal tapi dengan rasa yang fife stars. Dan barista kita salah satunya juara Indonesia Brewers Competition tahun 2020. Jadi memang pakem-nya sudah segitu. Banyak temen-temen yang minta buka dong di jakarta. Walaupun setengahnya basa-basi, tapi kita melihat bahwa ada tawaran dan opportunity, dan tempatnya juga bagus, kenapa enggak. Dengan adanya dukungan atau ngomporin, tapi ya sekarang kita ada disini,” jelas Aang dan Kiki.
Nama Journey To The South sendiri sebenarnya lahir dari perjalanan Aang dan Kiki ke selatan. Selatan pada konteks ini adalah bagaian selatan Jakarta. Karena selama ini, mereka lebih banyak beraktifitas di daerah Tangerang. “Cari nama dan branding ke kiki, sampe ended up, kenapa gak namanya Journey to the South. Tohemang bener-bener perjalanan pertama ke selatan. Kalau sungokong journey to the west, kita Journey to the South. Beralih kepada logo, logo JTTS dibuat simple dengan dua warna yaitu magenta ke cayenne yang melambangkan dua gender, perempuan dan laki-laki. Kebetulan JTTS juga menjadi salah satu tempat dimana orang bertemu, sampai-sampai Kiki sebagai owner pernah menjual sepeda disana. Keduanya ingin JTTS menjadi salah satu tempat yang bisa membuat opportunity apapun untuk siapapun, mau itu bisnis maupun pertemanan.
Mengusung konsep high ceiling, serta mengulik unsur natural dari kopi yang di implementasikan melalui bahan-bahan furnitur yang terbuat dari kayu. Aang dan Kiki ingin memberi kesan clean melalu desain moderen yang dituangkan melalui modern curve berbau retro sertawarna coklat dan putih yang membalut ruangan JTTS. Untuk konsep menunya sendiri, Aang dan Kiki mengawinkan JTTS dengan FUFUFU, makanan Chinese yang menyuguhkan berbagai macam pilihan. “Berangkat awalnya lebih ke Asian. Jadi biasanya coffee shop itu western, nah kalo kita Asian cuisine. Jadi ada Dimsum, Sop Buntut, ada Nasi Goreng Sambal Matah. Kita ingin sesuatu yang berbeda aja. Ngopi pagi, kalo temen-temen yang Tionghoa tuh yamcha yuk. Jadi mereka bisa keisni dengan kopi yang specialty tapi dengan Dimsum, Ngeliat pasar Asia kenapa kopitiam naik, karena itu adalah nilai history dari warga Singapura. Terbentuk orang ngopi pingin jajanan manis. Kebetulan disini dipertemukan Asian dan Coffee itu pas banget. Jujur aja cari makanan enak di selatan yang berbau-bau Chinese dan halal susah banget di cari. No pork no lard, kita coba survive dan bikin itu untuk customer,” tutur Aang dan Kiki.
Uniknya, keduanya membiasakan waitress untuk menanyakan kepada customer makanan dengan rasa seperti apa yang sedang diinginkan. Apakah sweet, asam atau pedas, atau mungkin yang lainnya. Hal ini dilakukan untuk mengarahkan orang yang bingung hendak menyantap makanan apa.
“Sehingga namanya Journey. Journey itu sebenarnya di menu kita bisa path journey orang. Mau apa? Mau dessert di arahkan journey-nya kemana, kalau main course mau kemana. Whole concept, kemanapun harus ada journey-nya. Harus mancing orang untuk membuka journey-nya. Tapi setelah dikasih 2 pilihan, first response orang, ‘oh iya mau coba deh menu baru.’ Jadi jangan takut, kita journey bareng,” jelas Aang dan Kiki.
Seiring berkembangnya tren kopi di Indonesia, menurut Aang, semua jenis kopi memiliki peminatnya sendiri, yang sudah berkembang sampai specialty coffee. “Dimana specialty itu orang lebih memperhatikan kayakorang tua jaman dulu itu, bibit bebet bobot. Kita jadi kayak pendekar. Kopi lu pake apa sih? Kopi lu rasanya apa sih? Jadi yang specialty coffee itu kalau ditanya kopi rasanya apa dan ketika jawabannya simple ‘jeruk dan coklat’ justru malah gak mau itu orang-orang. Karena kurang menantang. Maunya ada peachnya, manggo, stroberi ada vanilla, diakhiri dengan dark chocolate. Trennya kesitu. Kopi tersebut di proses dengan sangat detail yang ditanam dengan sangat diperhatikan. Jadi specialty coffee itu gak perduli kuantitasnya, tapi kualitasnya luar biasa.” Untuk ciri khas JTTS, untuk beans, menggunakan People Temple Roastery yang nama blend-nya adalah Love Story. Karena espresso-nya manis seperti kisah cinta seseorang. Sedangkan untuk filter, yang spesial di JTTS dan telah menjadi cinta sejati Aang adalah Geisha. Harganya termasuk mahal, berkisar sekitar Rp.1.500.000,- sampai Rp.2.000.000,- untuk 100 gram Geisha. Belum lagi asal muasal Geisha yang ditanam langsung di Panama. Hal inilah yang membuat orang ingin mencoba dan penasaran.
Beberapa strategi yang dilakukan Aang dan Kiki untuk membedakan JTTS dengan coffee shop lainnya, selain daripada konsep makanannya adalah dimana JTTS dibangun bukan dengan orang yang asing di dunia kopi. Disitu mengapa coffee bar JTTS dibuat cukup panjang, clean dan luas, untuk menjaga hubungan customer dengan barista JTTS. Sehingga customer bisa langsung berbincang dan bertanya-tanya dengan barista tanpa mengganggu tamu lain, sehingga tidak ada batasan dan halangan. Hal yang tidak lazim yang dapat di temukan di JTTS adalah mesin kopi yang justru diletakan dibagian belakang station. Keduanya mengaku banyak sekali yang bertanya mengapa mesin mahal dan bagus seperti itu harus diletakan dibelakang. Namun keduanya tidak mau ambil pusing, karena jawaban mereka justru dengan adanya bar yang clear dan clean, customer bisa menjadi lebih nyaman karena bisa melihat secara langsung apa yang dilakukan oleh baristanya. Bagaimana kebersihan dan Standard Operational Procedure dijalankan. Tidak hanya berhenti sampai disitu, Aang dan Kiki juga membuat gimmick event dimana founder coffee shop bisa melakukan bar takeover. Semacam guest barista.
“Karena coffee shop itu butuh ngobrol. Kopi identik dengan ngobrol. Kalau kita lihat budaya ngopi di Indoensia udah jauh banget. Dan semuanya related dengan komunitas obrolan. Itu yang mau dijaga. Barista disini bukan cuma harus jago bikin kopi, tapi juga harus ngobrol. Supaya berasa ini rumah lo,”
