Perempuan terbukti mampu untuk menghadapi segala situasi dan kondisi, sama seperti pria. Paquita Genushka atau yang sering dipanggil Genush oleh para Kawula Muda Prambors, juga memiliki bisnis di bidang Food & Beverage (F&B) loh! Sebagai chef dan Owner dari Bansan, Genush mengaku dirinya adalah seseorang pekerja keras yang tidak suka dibohongi dan sangat suka makanan. Sempat mengikuti short course dan bahkan menjalankan magang di hotel, justu itu yang meneguhkan hati Genush untuk menjadi seorang chef.
Sedikit banyak cerita mengenai latar belakang Genush, dirinya adalah lulusan SMA Labschool Jakarta dengan jurusan IPA. Yang kemudian melanjutkan pendidikannya dengan mengambil jurusan DKV di Binanusantara. Namun ternyata, sedari kecil Genush sangat suka berada di dapur, bersama dengan neneknya yang gemar membuat kue. Walaupun pada akhirnya Genush tidak bisa baking, tapi memang dirinya sudah terbiasa untuk masuk dapur. “Sampai gue sekolah pun, waktu masih SMA sampai gue kuliah gue adalah orang yang diandalkan kalau misalnyalagi bikin acara dirumah sama temen gue yang judulya ‘ayo nanti kita masak-masak,’ padahal gak ada kita tuh, gue yang masak sendiri. Jelas Genush. Genush bisa dibilang sedikit perfectionist. Ia tidak ingin dirinya menjadi seorang yang mediocre.
“Gue mendapati bahwa kalau menjadi designer gue akan menjadi orang yang mediocre, yang biasa aja dan gue gak mau jadi orang yang mediocre. Gue masak enak, itu one thing for sure. Jadi akhirnya gue waktu itu kuliah dan kerja di Prambors juga, jadi produser pagi, dan memutuskan untuk resign untuk bisa short course masak. Abis itu baru deh kebayang kedepannya mau ngapain aja.”
“Gue mendapati bahwa kalau menjadi designer gue akan menjadi orang yang mediocre, yang biasa aja dan gue gak mau jadi orang yang mediocre. Gue masak enak, itu one thing for sure. Jadi akhirnya gue waktu itu kuliah dan kerja di Prambors juga, jadi produser pagi, dan memutuskan untuk resign untuk bisa short course masak. Abis itu baru deh kebayang kedepannya mau ngapain aja.”
Makanan untuk Genush adalah kebahagiaan, yang bisa menentukan mood melalui makanan yang kita makan. Makanan yang enak bisa mencerahkan hari sedangkan makanan yang tidak enak akan membuat moodberantakan alias bete. Karena menurutnya, makanan itu mempunyai nilai memori yang amat sangat kuat, “lo udah lama gak makan satu makanan a, terus bertahun-tahun kemudian lo makan lagi tuh makanan a, langsung memorinya balik lagi. Jadi makanan seharusnya bisa bikin lo happy.”
Lalu apa yang membuat Genush ingin menjadi seorang chef ketimbang menjadi seorang penyiar? “Mungkin hal yang membuat gue ingin menjadi chef ya karena itu, gue high banget. Kalau misalnya orang bilang masakan gue enak. Instead of dipuji ‘ih kamu cantik banget hari ini. Kamu kamu kamu,’ sampe bayaran gak kelar-kelar cantikan siapa. Gue akan jauh lebih happy dan appreciate ketika orang bilang ‘Gen makanan lo enak,’” tambah Genush. Memasak untuk Genush adalah memberi. Ia akan sangat senang ketika memasak untuk orang-orang disekitarnya. Menurutnya, masakannya adalah bentuk kasih sayang Genush ke semua orang. Karena dengan memberikan makanan yang enak kepada orang lain, dan mereka bisa senang karena makanan buatan Genush, ia sangat bahagia untuk bisa melihat feedback dari mata penikmat makanannya. Sesuai dengan kata-kata ‘mata gak bisa bohong.’
Jenis makanan yang Genush buat adalah makanan yang comforting. Dirinya suka membuat orang nyaman dengan makanan yang ia buat dan berharap bisa menjadi higlight ketika sesorang sedang menghadapi bad day. Ayam goreng adalah salah satunya. Ayam goreng dan nasi dinilai Genush sudah menjadi kultur kita, sebagao orang Indonesia, sedari kita kecil. Kemudian melalui kultur tersebut, Genush mencurahkannya melalui menu andalan Bansan yaitu OG Chicken Nanban. Se-simple nasi ayam tepung atau biasanya orang familiar dengan chicken karage, yang dibalur dengan saus asam manis, tartar sauce dan disempurnakan dengan tobiko. Untuk semangkuk OG Chicken Bansan dibanderol dengan harga Rp.40.000,-. Maka, Genush mengatakan bahwa Bansan adalah salah satu penyedia comfort food.
Kalau diartikan sebagai makanan, Genush meng-claim dirinya mirip dengan steak. “Gue akan menjadi steak karena juicy of course! Gue suka banget daging. Gue lumayan bisa diandalkan kalau untuk masalah membakar steak. Pede kesalahan dalam membakar daging itu cuma 1% lah, pasti sempurna. Sombong dulu buktinya belakangan,” canda Genush. Siapa sangka chef bukanlah cita-citanya sedari kecil. Karena dahulu, ia sangat ingin menjadi Astronot. Setelah mengurungkan niatnya menjadi Astronot, ternyata Genush juga sempat bercita-cita menjadi dokter gigi, mengikuti jejak ibunya. Tetapi ia menyerah karena ketidaksukaannya pada pelajaran IPA yang menurutnya sangat sulit. Genush sempat berfikir, apabila ia tidak menjadi seperti sekarang, mungkin ia akan menjadi penyanyi!
“Sering banget ditanyain, gue beberapa kali pernah jadi pembicara, orang yang punya start up makanan, dan itu pertanyaan wajib. Gue gatau dan gaboong juga gak naif tapi gue gatau dukanya apa,” sambil memasang muka bingung.
Tapi untuk sukanya, karena memasak itu membuat Genush bahagia dan orang lain bahagia, jadi ia merasa tidak ada yang harus dibenci dari proses memasak itu. Terlebih, Genush merasa bahagia karena staff-nya adalah keluarganya. Tidak mungkin menjadi seperti sekarang apabila tidak ada mereka, jelasnya. Dia merasa sangat beruntung menemukan staff Bansan yang sekarang. Ia bisa mempercayai rekan kerjanya dan menurutnya mereka semua jago masak!
Kalau ditanya pilihan, Genush yang memilih menjadi seorang chef ketimbang penyiar menyarankan bahwa lingkungan kerja yang baik itu harus dihasilkan dari pribadi yang baik. Akrab dengan rekan kerja, mau mendengarkan keluh kesah mereka dan memastikan bahwa komunikasi yang terjadi lancar. Ia selalu menerapka, bagaimana caranya untuk sesama rekan kerja apabila ada masalah lebih baik dibicarakan. Kemudian memberikan reward kepada mereka yang sudah berhasil menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Genush berharap akan melihat akan ada banyak Bansan di masa depan. Selain itu ia juga ingin membuka tempat makanan lainnya yang diharapkan bisa menjadi comfort food bagi khalayak banyak.
Selebihnya, ia selalu melihat dirinya menggunakan apron dimasa depan. Saat tua nanti, ia ingin mengajarkan masak. Tidak ada spesifikasi, bisa orang tua atau anak kecil. Tapi karena memasak untuk Genush itutherapeutic, ia ingin membagikannya kepada orang banyak.
“Do what you love and the rest will follow. Intinya kaya kalau lo taro cinta & passion di hal apapun yang lo lakuin, lo pasti jadi sesuatu. Dan lo akan happy kedepannya.”
