Uncategorized

Seorang Mualam yang Berlayar Menyajikan Sushi Terbaik

Perjalanan menjadi seorang pebisnis yang tahan banting butuh memalui perjalanan mengasah pengalaman. Belum lagi jatuh dan bangun menghadapi banyak rintangan. Sebagai owner dari bisnis di food & beverage (F&B) perlu adanya pengetahuan yang cukup serta keberanian untuk bisa bertahan di saat sulit. Belum lagi perhitungan keuangan untuk bisa tetap berdiri tegak tanpa melupakan karyawan. Sebagian besar bisnis F&B merosot di masa pandemi COVID-19. Tidak bisa dine in, lokasi yang tidak terjangkau ojol, serta restoran yang tidak menyediakan menu delivery menyulitkan semua pihak. Umaku sebagai salah satu restoran sushi di bilangan Jakarta, yang terkena dampak dari masa pandemi. 

Sedikit flashback menceritakan seluk beluk Umaku, Chef Uki sebagai owner, mendirikan Umaku pada tahun 2008 di daerah perumahan Citra Gran, Cibubur. Sebelum mendirikan Umaku, Chef Uki bersekolah di sekolah pelayaran. Menjelang ujian kelulusan untuk mendapat ijazah nahkoda atau mualim, dirinya mengalami kekecewaan karena ia merasa dirinya sudah cukup mumpuni tetapi banyak teman-temannya yang sudah terlebih dahulu lulus. Chef Uki yang pada saat itu terpaksa menunggu untuk ujian berikutnya, memilih untuk bekerja sampingan di sebuah restoran jepang dengan pemilik orang jepang asli. Pada saat itulah Chef Uki mulai jatuh cinta dengan masakan Jepang. Terbilang out of the box karena kecintaan Chef Uki berangkat dari keanehan masakan Jepang yang dimakan mentah. Sempat bekerja di Pullman Hotel Niko pada tahun 2000, Chef Uki yang tadinya kurang suka dengan lomba sushi, justru menjadi finalis yang berangkat ke Jepang langsung, menjadi peringkat 6 melawan Chef dari berbagai negara, di Global Sushi Challenge pada tahun 2015.

Chef Uki mengaku banyak belajar langsung dari chef dari Jepang langsung di tempat kerjanya terdahulu. Dirinya tidak pernah merasa bahwa ia bekerja. Ia lebih berfikir bahwa dirinya belajar namun di gaji. Sampai akhirnya, tamu langganan Chef Uki sendiri, almarhum Gatot Purwoko selaku pilot senior, yang mengajaknya untuk membuka rumah makan sushi.

“Orang bilang usaha itu ‘lokasi, lokasi, lokasi.’ Gak semua berpendapat sama, banyak yang strategis tapi toh gak berjalan juga,” jelas Chef Uki.

Dirinya berpendapat bahwa nomor satu yang paling penting adalah produk, kedua produk, ketiga baru lokasi. Awalnya berat untuk membangun Umaku karena terletak di dekat perumahan yang pada waktu itu rukan sebelah kanan dan kirinya masih kosong. Namun Chef Uki tetap optimis karena konsep dari Umaku adalah neighborhood kitchen, dapur kedua untuk para penghuni. Menurutnya CIbubur juga menjadi daerah penyangga Jakarta dimana banyak orang yang tinggal di sana adalah orang-orang yang kerja di Jakarta. Pada waktu itu masih sangat sedikit restoran sushi di Cibubur sehingga apabila customeringin menikmati sushi yang enak harus jauh-jauh pergi ke Jakarta. Sehingga Chef Uki ingin menjaga para customer Cibubur untuk bisa menikmati sushi buatannya dalam satu langkah.

Yang membuat Umaku berbeda dari restoran sushi lainnya adalah lokasinya yang terjangkau. Lokasi yang dipilih selalu di lingkungan rukan tempat banyak orang beraktifitas seperti bank, kursus anak, salon kecantikan, dan perkantoran. Namun karena adanya peraturan pemerintah Pembatasan Sosial Berskala Besar yang memberikan efek pada ditiadakannya dine in, melainkan hanya take away dan delivery. Chef Uki bercerita bahwa Umaku mengalami penurunan yang cukup signifikan dan ia yakin semua bisnis F&B terkena dampak yang sama.  Tentunya Chef Uki tidak tinggal diam. Step pertama yang ia lakukan adalah membeli handphone untuk kedua outlet-nya yang berlokasi di Cibubur untuk memudahkan pertukaran informasi dengan customer dan pemesanan. Selain itu melalui sosial media Instagram, Chef Uki tidak berhenti mem-posting konten yang menarik supaya customer bisa melihat bahwa Umaku tetap berjalan di masa pandemi. Karena Chef Uki sendiri yang handle sosial media Umaku, ia pun melakukan survey kepada para followers, dan hasilnya banyak yang lebih suka take awaywalaupun menjelang new normal. 

Melalui survey ini Chef Uki juga memutuskan untuk membuat menu khusus yang menarik, walaupun sebetulnya semua menu yang ada di Umaki bisa di take away. Sushi platter menjadi pilihan Chef Uki untuk ditawarkan kepada para customer. 

“Di waktu covid seperti ini banyak yang berdiam di rumah, otomatis ibu anaknya berapa, kalau suka sushi pesen ini ini ini, kan lebih hemat kalau satu tray, udahnya lebih hemat saya kasih potongan harga lagi,” kata Chef Uki.

Semua yang disajikan pada sushi platter Umaku ini dibuat matang untuk menghindari beberapa customer yang tidak bisa memakan bahan mentah. Didalamnya terdapat banyak varian sushi seperti Cheesy Aburi, salmon dengan keju mozarella yang di bakar. Tuna, swordfish, gindara yang di pan grill dan di roll. Harga yang dibandrol untuk 50 pcs sushi dalam satu sushi tray ini adalah Rp. 516.000,-. Namun Chef Uki memberikan potongan harga menjadi Rp. 350.000,- di masa pandemi ini. Chef Uki menerapkan metode pre order dan penjualan sushi tray ini hanya dilakukan pada weekend saja, karena dirinya tidak mau hanya sushi tray saja yang laku. Ia ingin customer juga mencoba menu lain yang tidak kalah enaknya. Berkat sushi tray ini, banyak yang mulai mem-posting sehingga kemudian banyak yang ikut membeli produk Chef Uki ini. Selain itu dirinya juga bercerita, berkat sushi tray yang masuk ke lidah customer, mereka jadi ingin mencoba menu lain, sehingga berpengaruh kepada kenaikan sales. Chef uki juga membagikan masukan untuk para pebisnis F&B lainnya,“Kuncinya menghadapi situasi seperti ini, kita gaboleh berenti. Walaupun merangkak dan tertatih-tatih, tetap harus berjalan, karena situasi seperti ini gak akan selamanya.” Berkat strateginya, Chef Uki tidak melakukan pengurangan karyawan, pengurangan gaji, maupun pengurangan THR. 

Antusiasme customer Umaku untuk dine in tidak terlalu signifikan. Mayoritas 65% melalui survey Umaku masih memilih take away. Umaku kini hanya membuka dine in untuk kurang lebih 25 orang, 50% dari kapasitas sesungguhnya. Saran untuk para pebisnis yang baru mau memulai di bidang F&B dari Chef Uki adalah untuk mencintai produk yang ingin dijual. Harus tau secara detail dan seluk beluknya. Selain itu harus selalu studi banding ke restoran milik pebisnis lain yang ramai pengunjungnya. Terakhir, jangan terlalu berpikir tentang keuntungan. Cobalah untuk mulai berpikir bahwa untung itu menyusul. Bisnis di bidang F&B dan hospitality harus selalu mengutamakan kepuasan customer. Customer yang happy akan memberikan keuntungan seperti loyalty dan promo gratis melalui world of mouth. Ketekunan Chef Uki dalam belajar secara terus menerus membantunya untuk survive. Perjalanannya ke Jepang untuk belajar setiap dua tahun sekali membuatnya tegar dan lihai dalam menghadapi masalah.

Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Leave a Reply

Discover more from Tworubber

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading