Konsep yang sederhana dan tempat yang seadanya kadang bukan karena inginan saja, tetapi bisa jadi karena memang begitu adanya. Berawal dari dua teman yang mempunyai latar belakang di dunia yang sama, Sandiyuda yang memilih jurusan Tata Boga dan Taufiq yang memilih jurusan Pariwisata. Tetapi setelah lulus dari Pariwisata, Taufiq lebih tertarik kepada minuman. Dengan memiliki latar belakang yang saling melengkapi, membuat mereka membuat usaha ini bersama.
Berawal membuka restoran di Jl. Riau, bandung, yang diberi nama Gg. Nikmat. Tentu memulai suatu bisnis tidak lah mudah dan membutuhkan waktu untuk berkembang. Sama halnya dengan Gg. Nikmat yang membutuhkan waktu yang akhirnya bisa pindah ke tempat yang lebih besar, tepatnya di daerah Cipahit. Gg. Nikmat menyediakan makanan-makanan yang memang sudah disimpan sejak lama oleh Sandiyuda yang terinspirasi dari makanan yang ia makanan dan memang suka. Sandiyufa dan Taufiq pun berharap dengan membuka Gg. Nikmat ini bisa bertahan lama dan tetap menjadi menjadi sumber penghasilan mereka.
“Ngomongin visi juga pengennya sustain ya, harapan gue. Soalnya bukan kaya di Bali atau di Jakarta gitu, beda banget sama Bandung. Gue pengen makanannya tuh ada tangan gue juga gitu disini, gue bikin sesederhana mungkin tapi bullshit kalo bilang original.”
– SANDIYUDA & TAUFIQ | GG.NIKMAT
Merupakan suatu kebiasaan untuk Sandiyuda dan Taufiq berharap tidak terlalu banyak dan tetap menyiapkan segala rencana untuk kedepannya. Sampai mereka pun tidak menyangka bahwa Gg.Nikmat banyak peminatnya. Dimulai dengan teman-teman dan keluarga yang datang untuk mencoba apa yang sudah mereka buat. Setelah sebulan dibukanya Gg. Nikmat ini, adanya penikatan pengunjung yang memang diluar ekspektasi mereka. Sandiyuda dan Taufiq pun masih tidak tahu pasti alasan utama meningkatnya pengunjung usaha mereka ini.
“Kalo sekarang sih mungkin karena manakannya ya. Tapi kalo dulu mungkin namanya ya. Karena juga ketika orang pertama dateng kan mereka juga gak tau produk kita apa. Karena secara konsep, gedung atau visual gitu , kayanya kita sederhana banget gitu, gak kaya minimalis, instagramable dan sebagainya. Namanya kan agak nyeleneh juga sih.”
– SANDIYUDA & TAUFIQ | GG.NIKMAT
Memiliki usaha dibidang F&B, hal yang paling penting adalah makanan dan minum yang memang cocok dengan lingkungan di mana tempat menjual usaha tersebut. Makanan-makanan yang dibuat oleh Sandiyuda terinspirasi dari beberapa pengalaman dalam hidupnya. Seperti halnya, Ayam Gulung Isi Telur Asin, yang terinspirasi melihat orang Jepang yang sedang memasak Ramen beserta Topping-nya di rumah Sandiyuda dan ia pun tertarik dengan ayam yang menjadi salah satu Topping dari Ramen tersebut. Salah satu menu favorit dari Sandiyuda sendiri merupakan Sidat/Unagi Asap Gulai. Kapasitas dapur dan biaya juga tidak memadai pada saat itu. Karena, untuk Unaginya sendiri memang tidak murah, dan Sandiyuda butuh banyak untuk melatih cara membersihkan dan memotongnya. Tetapi Ayam Gulung Telur Asin dan Spicy Kailan Crispy menjadi menu yang paling banyak penggemarnya.
“Disini gue pengen ada yang nilainya 10, berarti gue mau gak mau bikin menu yang gak banyak tapi gue seriusin. Jadi gue bikin ketergantungan sama Gg.nikmat, gue kan agak males nih. Orang Jepang kalo kerja kan gila-gila kan, disitu yang bisa gue ambil adalah mungkin, kaya gue harus full nih. Harus bisa menghargai profesi ini.”
– SANDIYUDA & TAUFIQ | GG.NIKMAT
Karena Gg.Nikmat ini merupakan hasil perpaduan dari Sandiyuda dan Taufiq, selebihnya pun untuk apapun yang akan diberikan Gg.Nikmat untuk pelanggan pun dari Sandiyuda dan Taufiq. Jika ada yang mereka suka, dipastikan akan dijalanankan atau diolah oleh mereka. Mereka pun akan melakukan seserhana mungkin dan tetap rendah hati. Mereka tidak mau adanya banyak gimmick untuk promosi atau nama menu atau apapun yang berhubungan dengan Gg.Nikmat.
“Karena ada penambahan team juga jadi banyak inside-inside baru kaya, oh kita bisa lakuin ini, kita bisa lakuin itu yang dulu apa-apa cuma kita berdua aja yang mikir, sekarang udah banyak input-nya jadi kita keluarin semua input yang ada. Jadi lah Gg.nikmat yang sekarang. Acong di dapur setiap hari, gue di bar setiap hari, tapi gak kepengen jadi kaya culture nya Indonesia gitu, kita tetep ngikutin culturenya Bandung terutama.”
– SANDIYUDA & TAUFIQ | GG.NIKMAT
Sandiyuda dan Taufiq sudah menerapkan sejak awal mempunyai ide untuk membuka restoran untuk sesederhana mungkin karena adanya batasan pada budget. Hingga sekarang pun, walaupun sudah ada peningkatan dalam pemasukan, mereka tetap tidak mau menambahkan sesuatu yang tidak pelu. Mereka ingin membuktikan teori-terori yang ada seperti membuat tulisan nama restoran harus besar, parkiran harus besar dan letak restoran harus dipinggir jalan itu salah atau tidak sepenuhnya efektif dan membawa hasil yang diinginkan.
Sandiyuda dan Taufiq mengatakan bahwa membangun suatu bisnis, harus bisa mengeluarkan dengan nilai yang bagus dan jalankan terlebih dahulu. Dengan pengalaman dan mempelajari dari buku pun bisa mengembangkan bisnis. Mereka juga mengatakan bahwa mereka tidak pernah berekspektasi apa-apa, hanya menjalani hari saja. Juga dengan hanya memikirkan hal-hal yang tidak diinginkan, Sandiyuda dan Taufiq mempunyai banyak rencena untuk mencegah jika benar-benar terjadi.
“Sebenernya kalo udah nyebur, tenggelem aja deh sekalian, berenang kalo bisa. Masalah ada kalo kita anggep ada masalah gitu dan sombong itu bikin kita gak maju, gak naik level. Jadi buat gue sebenernya ujungnya product and service kalo di F&B. Dan yang penting karyawan ke gaji, sewaan bisa bayar, tahun depan bisa nyewa lagi dan udah sih se simple itu. Dan konsisten.”
– SANDIYUDA & TAUFIQ | GG.NIKMAT


