Nama Toko Kopi Tuku sudah tidak asing lagi di kuping para penikmat es kopi susu. Namun sebelum nama Toko Kopi Tuku melejit, sebenarnya perjalanan Andanu Prasetyo atau yang akrab dipanggil Tyo ini sebagai CEO dan founder, sudah cukup panjang. Tyo membangun Toko Kopi Tuku dengan 2 teman baristanya yang adalah Budi dan Citra. Pada saat itu, semua berkecimpung menjadi barista. Tyo dan Budi yang melakukan proses roasting, kemudian dibantu oleh Irfan dan Mauvi. Toko Kopi Tuku berawal dari 1 Juni 2015. Tokonya kecil sekitar 20-30m2. Mungkin hanya masuk 20 orang dengan 3 barista. Misinya adalah meningkatkan konsumsi kopi supaya bisa menjadi jembaran. Menjadi lokomotif untuk industri kopi dan membuka berbagai kemungkinan pasar.
Berbicara tentang sejarah Toko Kopi Tuku hingga bisa sebesar sekarang, awalnya orang mengenal Toko Kopi Tuku, tanpa nama. Dibanderol dengan harga Rp.5000,- saja dengan coolbox murah, disajikan seperti kopi 3in1,versi Tyo. Setelah itu toko kopi Tyo yang tanpa nama ini, juga dikenal dengan kopi ukuran kecil dengan harga Rp.9000,- sampai Rp.10.000,- yang secara harga sangat rendah. Sampai akhirnya ada request dari pelanggan bahwa mereka ingin minum kopi dengan bentuk dingin. Sehingga 4 bulan kemudian hadirlah es kopi susu, dengan gula aren yang terinspirasi dari tukang cendol di masjid pada saat jumatan. Kemasan plastik panjang dan polos dengan gelas yang polos yang di sealed, sedotan polos yang mendapat branding dari customer sebagai ‘kopi murah di Cipete’. Tidak disebutkan namanya karena pada saat itu Tyo belum berfokus pada brand.
“Aku jembatan dari kopi instan ke coffee shop yang chain dan artisan. Aku ditengah-tengahnya. Itu kenapa aku bilangnya toko kopi gak ada brandnya. Itu jalan, banyak orang mesen lewat online akhirnya mulai lagi dikenal sebagai Toko Kopi Tuku, toko kopi yang go green karena di tokonya hijau semua sama abang-abang ojol.”
Es kopi susu yang tadinya tidak memiliki nama, kini disebut sebagai Kopi Susu Tetangga. Belum lagi nama Toko Kopi Tuku melejit, karena Bapak Presiden Joko Widodo yang datang langsung ke gerai Toko Kopi Tuku. “Nama Toko Kopi Tuku kan dari bahasa jawa. Prinsipnya pengen bahasa indonesia yang mudah diingat. Tapi salah satu misi kita sama temen barista yang dulu adalah ingin meningkatkan konsumsi kopi di indonesia. Caranya adalah mebuat dan menciptakan cita rasa yang digemari tetangga Toko Kopi Tuku, dan mereka bisa beli setiap hari karena harganya yang affordable. Nah, impian itu kita jadikan doa dalam nama kita supaya arti beli dalam bahasa jawa itu, semakin membuat banyak orang yang beli Toko Kopi Tuku bisa menjadi jembatan untuk industri kopi indonesia, sehingga konsumsi kopi indonesia dan industri kopi indonesia semakin meningkat,” papar Tyo.
“To be honest, aku gak tau definisi bahwa aku bisa dibilang barista atau enggak. Tapi kalau dibilang aku bekerja di belakang mesin, melayani tamu, iya aku pernah karena di 2010 aku menjalani cafe Toodz House, dan aku banyak jadi barista disitu. aku sudah kenal kopi dari 2008, jadi so far udah kenal kopi selama 12 tahun,” jelas Tyo.
Di masa itulah Tyo melakukan eksplorasi di Toodz House dan dengan berkunjung ke beberapa coffee shop kawan seperti, Anomali, Bakoel Koffie, Blumchen Coffee, untuk bertanya-tanya seputaran dunia kopi. Tidak hanya Jakarta, Tyo juga mendatangi Yogyakarta dan Melbourne. Sejak itu Tyo mendapatkan insight untuk membuat vibe yang sama seperti di Melbourne. Dimana konsumsi kopi tinggi dengan misi memaksimalkan biji kopi yang ada di Indonesia.
Tyo mengenal kopi awalnya bukan karena ia peminum kopi, bukan karena dirinya adalah pencinta kopi ataupun mengerti industri kopi dan bertemu petani kopi. Tetapi memang pure ia mendapatkan ulham bahwa seharusnya, kopi Indonesia bisa menjadi sumber Tyo mencari nafkah untuk dirinya dan keluarga. Pada tahun 2008 bahkan Tyo hanya bisa meminum kopi cappuccino dengan 2 sachet gula. Namun seiring berkembangnya Toko Kopi Tuku dimana Tyo harus melakukan research & develompent, mencoba berbagai jenis kopi, kalibrasi supaya waktu customer datang tidak ada yang complain, akhirnya Tyo berpindah hati kepada kopi hitam. Bosan dengan kopi hitam lalu berubah lagi menjadi espresso. Baru pada tahun 2019, Tyo mulai membutuhkan kopi sebagai teman untuk mengobrol disaat harus bertemu orang. Bukan pencinta kopi namun pencinta industri kopi, adalah statement yang tepat untuk dilemparkan kepadanya. Ia mencintai positive vibe yang dibentuk dari interaksi melalui kopi.
“Gak usah mikir yang jauh-jauh dulu. Aku harus bisa ngasih impact dulu ke tetangga sekitar. Which yang pada saat itu di Cipete. Yasudah, saat itu aku mencoba jadi barista, jadi roaster, mencari cita rasa yang disenangi oleh tetangga Toko Kopi Tuku di Cipete. Kayak apa sih kira-kira. Dari situ mulai ngobrol challenge-challenge mereka lah yang membuat aku terus mengeskplorasi bagaimana kopi Indoensia harus di olah dan bagaimana aku harus menyeduh kopi mereka, sampai mereka mau membeli setiap hari,” tambah Tyo.
Tyo sekarang memfokuskan, bagaimana membuat produk yang bisa dibeli setiap hari dan terjangkau. Jadi tugas Tyo dan teman-teman Toko Kopi Tuku adalah membuat sistem operasional dan product development yang bisa membuat product tersebut, bisa me-marketing-kan dirinya sendiri. “Kami paham kami sudah di Cipete. Kami tidak fokus kepada sosial media, karena toko kami kecil, kami lebih ingin membangun komunitas di Cipete, untuk ngopi setiap hari, datang bersilahturami, instead of terkenal se-indonesia,” ucap Tyo.
Untuk Tyo, kopi adalah semacam budaya dan pola hidup. Karena dirinya merasa bahwa kopi itu suatu media, membuat Tyo yang introvert jadi bisa berkenalan dengan orang banyak. Tyo yang mungkin tidak memilki cita-cita dan tujuan hidup dan tidak begitu kenal dengan negaranya, jadi bisa lebih mengeksplor dan memahami budaya dari setiap perkebunan kopi yang dipilih. “Kalau mau lebih dalam lagi, kenapa aku senang jadi barista, kenapa aku lebih senang dibalik bar ketimbang dibalik meja komputerku atau meeting di kantor, karena aku senang dengan positive vibe yang terbentuk. Buka toko jam 7 pagi, buka rolling door-nya, ngobrol dengan yang ngantri, sapa-sapaan setiap pagi, tanya apa kabar. Kita bikin kopi terenak, tapi tanpa harus membahas kopi ini akan jadi enak atau enggak. Harus pake kopi apa, harus pake mesin yang seperti apa. Itu just a conversation, silahturami, sosial interaksi yang terjadi. Itu yang aku nikmati.”
Beans specialty yang ditawarkan Toko Kopi Tuku, yang dibentuk oleh warga Cipete itu sendiri adalah, Tetangga Blend dan Cipete Blend. Tetangga blend tugasnya untuk rasa yang diingini tetangga tuku dimana kopinya tidak terlalu asam, karakter kopinya lebih terasa. Enak untuk pagi hari, enak untuk diminum sebagai es kopi dengan gula. Sedangkan Cipete blend adalah sebuah kopi untuk fase kedua setelah orang biasa minum kopi untuk setiap hari. Kenapa demikian, Cipete Blend itu biasanya untuk orang-orang yang biasa memesan cappuccino, latte, piccolo yang biasa ada di coffee shop artisan. Yang menggunakan secara teknis yang bisa dibilang pasca panennya dengan proses tertentu yang akhirnya membuat cita rasanya lebih berkarakter. Nah biasanya di minuman yang menggunakan cipete blend kita tidak menggunakan gula.
Bukan hanya pengalaman baik yang pernah dilalui Tyo. Namun pengalaman burukpun menjadi bagian dari perjalanan Toko Kopi Tuku. Tyo mengaku sangat senang mendapat kesempatan untuk dikunjungi bapak presiden Indonesia. Selain itu ia senang bisa berkumpul dengan tetangga Toko Kopi Tuku. Yang paling menjadi moodbooster-nya adalah ketika melihat tetangga Toko Kopi Tuku dengan baristanya mingle, makan malam bersama, surprisebersama. Ditambah dengan prestasi barista Toko Kopi Tuku yang mendapat penghargaan di kejuaran kopi. Basically semuanya adalah tentang interaksi antar manusia. Tyo akan sedih ketika barista yang sudah sangat dekat dengan Toko Kopi Tuku harus hengkang dan melanjutkan kariernya di tempat lain. Ia merasa bahwa berarti ia belum bisa memberikan rumah yang cukup untuk mereka. Terlebih tetangga Toko Kopi Tuku yang biasanya mampir jadi tidak mampir lagi dengan berbagai alasan. Seperti pindah kantor atau pindah wilayah rumah. Tapi setelah tau alasannya yang jadi kendala dan menjadi problem, Tyo akan segera memutar otak untuk mencari jalan keluarnya.
“Terlalu banyak cerita di dalamnya, yang akhirnya saya dan teman-teman Toko Kopi Tuku paham bahwa, ini kami bukan sekedar jualan kopi. Ini masalah cara hidup yang membuat kami ingin Toko Kopi Tuku tuh, selalu relevan di kehidupan sehari-hari tetangga Toko Kopi Tuku di berbagai daerah. Mungkin kalau kami baru di Cipete dan area Jakarta ya disitu dulu. Tapi syukut-syukut kami bisa bersilahturahmi ke penjuru indonesia yang lebih luas, going international. So, kami ingin bisa membuka silahturahmi menjadi lebih luas lagi,” tutup Tyo.


