Sejak lama Indonesia sudah menjadi negara ter-masyhur karena kekayaan alam dan rempah-rempah yang dimiliki. Maka tak heran, jika Indonesia dilirik oleh banyak bangsa untuk menguasai hasil buminya. Mulai dari penghasil tebu yang melimpah di seluruh tanah Jawa, hingga buah pala dari Kepulauan Maluku yang katanya lebih tinggi mutunya ketimbang buah pala dari tempat lain.
Kekayaan rempah-rempah yang terdapat di tiap penjuru Indonesia inilah yang akhirnya membuat negeri ini kaya akan cita rasa. Tiap daerah menghasilkan rempahnya masing-masing. Maka tiap daerah pula memiliki cita rasanya masing-masing. Negeri ini tak cukup bila hanya disebut negeri yang kaya akan budaya dan hasil bumi, tapi negeri ini juga kaya akan ragam boganya.
Kemeriahan cita rasa ini pula yang akhirnya menggerakan Presiden pertama, Ir Soekarno dalam memasukan keragaman pangan Indonesia menjadi salah satu agenda revolusi politiknya. Beliau merasa makanan adalah persoalan penting dan serius bagi negara ini. Setelah kemerdekaan negeri ini, kuliner menjadi salah satu upaya untuk memperkuat kebhinekaan, maka oleh karena itu Mustikarasa dijadikan album dari tiap potret kekayaan kuliner Nusantara.
Soekarno juga menugaskan para pamong praja untuk mengumpulkan aset berharga di tiap penjuru desa di negeri ini. Kemudian, istri keempat Soekarno yakni Hartini ditunjuk untuk merangkum buku Mustikarasa ini menjadi 1.123 halaman. Dikarenakan pergerakan yang terjadi pada 30 September akhirnya buku ini lahir pada tahun 1967.
Buku ini menyampaikan segala informasi dengan gamblang mengenai kuliner Nusantara mulai dari penggunaan darah, hingga daging babi yang mungkin kini dianggap menjadi suatu yang tabu. Dengan gaya tersendiri membuat buku ini sangat menarik dan patut untuk dijadikan koleksi. Tak hanya kemegahan monumen-monumen yang Soekarno wariskan untuk bangsa ini, melainkan kekayaan dan kemegahaan kebhinekaan negeri ini juga diwariskan ke dalam bentuk buku resep masakan Indonesia.

