Site icon Tworubber

Yuki dan Yuka Memperkenalkan Menu Perpaduan Jepang dan Indonesia Melalui Futago

YouTube Poster

Menginjak tahun 30 tahun di 2020, Yuki dulunya merupakan lulusan sastra Jepang di Bina Nusantara dan sempat bekerja di creative industry, media serta penyiar. Namun akhirnya memilih untuk melanjutkan usaha ibunya dalam bidang F&B, yaitu FUTAGO. Sebagai kembaran Yuki, Yuka juga membantu FUTAGO untuk terus berkembang. Yuka lebih banyak berkecimpung di dapur FUTAGO untuk menyajikan makanan terbaik kepada para customer. Yuka adalah lulusan Universitas Indonesia dengan jurusan advertising. Namun memang ia lebih berfokus kepada olahraga softball dan mengisi waktu luangnya untuk men-design jersey serta selang-seling mengurus FUTAGO.

“Masak tuh kayak menyalurkan cinta, kepada orang-orang yang makan masakan dari gue. Jadi kayak masak pakai hati tuh kayaknya bakal kena banget. Bakal bikin masakan enak kalau menurut gue.”

– Yuka | futago

Yuki adalah orang yang senang untuk berkomunikasi dengan banyak orang, sehingga dengan adanya FUTAGO, ia merasa energinya bisa tersalurkan menjadi hal yang positif. Sedangkan Yuka yang lebih pendiam dan pemalu, memasak di belakang kompor. Ia yang tidak pernah sekolah memasak mencurahkan hatinya kepada makanan yang disajikan, dan selalu merasa senang apabila tamu mereka happy ketika memakan makanan yang ia masak. Yang mendorong mereka untuk berjualan masakan Jepang adalah karena mereka berdua keturunan Jepang. Lalu ibunya mendorong mereka untuk menjualnya.

Konsep dari FUTAGO adalah campuran antara masakan Jepang dan Indonesia. Contohnya saja Creamy Miso Udon yang terinspirasi dari Sop Kaki Kambing. Yang biasanya Sop Kaki Kambing menggunakan susu, FUTAGO menggunakan cream. Lalu juga ada Onigiri yang isinya adalah citarasa Indonesia seperti Cakalang, Spicy Roa dan Tuna Cabai Hijau.

“Kalau gue sendiri, gue nerusin masakan yang dibikin pakai hati. Gue yang menyampaikan ke customer atau orang-orang. Karena biasanya memang, balik yang tadi gue bilang gue suka bersosialisasi, jadi gue bercerita dari masakan itu. Terutama kalau yang saat ini gue jalani mungkin sebutan common-nya hospitality. Jadi part itu yang saat ini bikin gue senang juga untuk bisa menceritakan apa sih background dari FUTAGO itu. Apa sih background dari makanan ini. Karena makanan yang enak itu  belum lengkap kalau misalnya belum ada cerita di balik itu.”

– YUKI | FUTAGO

Berawal dari bekal yang dibawakan oleh eyangnya, Yuki dan Yuka didorong oleh ibunya untuk membuat bisnis F&B. Mereka ingin mengedepankan rasa Jepang yang di fusion dengan rasa Indonesia melalui FUTAGO. Dari yang awalnya hanya berjualan Onigiri, kini FUTAGO juga menyajikan masakan Jepang-Indonesia lainnya seperti Udon dan Gyoza.

“Awalnya sebenarnya memang kita tidak berniat untuk berbisnis. Awalnya banget kita itu memang jadi keseharian kita aja gitu. Start kita bisnis banget itu di 2011 itu, kita punya toko di FX Sudirman. Stall kecil Onigiri Futago. Tapi dari sebelumnya nyokap kita di 2007 itu sudah mulai jual-jualain. Pertama kali 2008 ada di salah satu rumah sakit di Pondok Indah. Dari situ kita akhirnya karena kecemplung juga, yasudah kita terusin. Kita pengen bawa semangat dan pengen bawa masakan-masakan di rumah kita, gabungan Jepang Indoensia ke orang lebih banyak lagi. Kalau Onigiri yang pasti Salmon Mayonnaise yang sangat laku. Kalau di FUTAGO, Creamy Miso Udon, sama yang terbaru itu orang pada kepincut sama Brisket kita. Jadi kita sebenarnya tadinya gak ada menu Brisket Don, kita cuma topping di Creamy Miso Udon. Cuma banyak yang add ons, dan disitu timbul ide, ini kenapa gak coba dibikin menunya.”

YUKI & YUKA – FUTAGO

Mereka berdua melihat dirinya dan juga FUTAGO di masa depan untuk memiliki outlet yang sama dengan antrian yang sama, namun di Jepang. Yuki & Yuka ingin FUTAGO lebih dikenal lagi di seluruh Indonesia, serta Jepang kedepannya. Cita-cita mereka adalah untuk memperkenalkan lebih jauh ke masyarakat rasa yang sudah biasa mereka icip pada saat mereka masih belia.

Menurut mereka bekerja di dunia F&B itu struggling. Walaupun sesungguhnya di semua bidang lainnya juga demikian, tapi Yuki dan Yuka merasa challenge di dunia F&B sangat beragam, terutama karena makan dan minum adalah kebutuhan utama manusia. Apalagi di kondisi pandemi seperti ini yang mana mereka harus bisa beradaptasi dengan keadaan dan mencari jalan keluar tentang bagaimana mereka bisa mengakomodasi perubahan perilaku customer dalam hal membeli makanan di luar. Mereka sempat beradaptasi untuk membuat menu yang delivery friendly, kemudian berubah lagi menjadi dine in dengan protokol tertentu. Kuncinya menurut Yuki dan Yuka asalkan bisa konsisten dan agile, untuk mengikuti kondisi terkini, itu akan membuat bisnis F&B bertahan. Selanjutnya Yuka juga menambahkan bahwa ternyata dirinya yang tidak pernah bersekolah memasak dan belajar langsung di lapangan, menghadapi pressure yang cukup besar ketika ada di dapur. Ia merasa tertolong dari segi endurence, karena ia suka berolahraga. Ia merasa cukup bangga dengan dirinya sendiri sebagai wanita karena ternyata ia bisa melampaui tantangan tersebut. Yuka yang sempat meragukan dirinya, menganggap semuanya berat, ketika dilalui ternyata bisa menjadi sebuah accomplishment baru untuknya. Yuka & Yuki ingin para wanita untuk lebih percaya diri.

Exit mobile version