Dapur Ruben lahir dari kecintaan Ruben terhadap masak memasak. Hobi memasaknya ini sudah mendarah daging sejak ia masih kecil. Ruben sering kali mem-posting makanan buatannya dengan hashtag #DapurRuben sejak beberapa tahun yang lalu. Sejak pandemi melanda, Ruben terpaksa work from home seperti banyaknya orang lain. Banyak sekali yang request untuk Ruben membagikan video dan resep saat ia memasak. Ketika banyak yang mulai menyukai resep Ruben, ia merasa mendapatkan suatu panggilan dimana waktu awal Covid-19, Kania istrinya, melakukan banyak bakti sosial dan akhirnya dirinya ingin melakukan suatu hal yang sama dengan masakan yang ia masak. Sampai akhirnya Ruben berkomitmen, mulai memasak untuk tenaga medis dan rumah sakit. Dimana dalam satu hari, Ruben menargetkan untuk memasak dan menyalurkan 50 bento boxes yang disebar ke 8 rumah sakit, yang berjalan sampai 10 minggu.
Menarik balik ke belakang, melihat background dari Ruben dan Kania, Ruben dan Kania lahir di Jakarta. Namun Ruben menghabiskan sebagian besar hidupnya, tinggal di luar negeri dari kelas 4 SD – SMA di Georgia, South America. Setelah itu ia pindah ke Sydney selama 10 Tahun baru kembali ke Indonesia. Ruben adalah seorang pekerja di dunia bisnis finance dan ekonomi yang kerjaan sehari-harinya memang di teknologi selama 7 tahun, bekerja untuk bagian yang cukup serius yaitu public policy di salah satu perusahaan media sosial. Sedangkan Kania menghabiskan masa kecilnya dari TK sampai kelas 2 SD di Virginia, Amerika. Kurang lebih selama 4 – 5 tahun. Kemudian pindah ke Indonesia sampai SMA, dan kembali ke luar negri, tepatnya ke Australia untuk kuliah dengan jurusan Media and Communication. Kurang lebih selama 10 – 15 tahun Kania bekerja sebagai produser. Kemudian memilih untuk resign dan membangun bisnis sendiri dibidang fashion, yaitu Chic and Darling.
“Nah setelah itu, kita mikir ini kayaknya bisa juga kalau kita niatin, mulai jualan sedikit-sedikit. Kita iseng, yasudah kita mulai jualan. Eh ternyata antusiasmenya cukup overwhelming. Mulailah kita naikin PO kita, kuantitasnya dan frekuensinya. Sampai sekarang yang tadinya kita masak di dapur sini, di belakang kita, sekarang kita sudah punya dapur sendiri, yang produksinya 6 hari seminggu,” jelas Ruben dan Kania.
Pandemi ini menyadarkan Ruben dan Kania untuk melihat opportunity-nya. Mereka merasa bukan hanya mereka yang mengalami kesuliatan. Banyak sekali teman-teman yang bingung karena banyaknya yang di pecat maupun mengalami penurunan gaji. “Jadi kita waktu itu try to be creative juga. Apa ya yang bisa kita lakukan out of this situation. Karena kalau kita pikirin terus, stress. Kalau kita pikirin kapan things going back to normal, we never know. Maybe we will never go back to that life again, bisa jadi kan. Jadi waktu itu aku berusaha untuk menghibur diri dan menghibur satu keluarga ini, bagaimana caranya kita bisa lebih produktif, kreatif, bisa tetep happy, dan tentunya bisa menghasilkan sesuatu. Walaupun pada saat itu motivasinya bukan uang semata ya. Dan akhirnya aku pikir banyak sekali temenku yang gulung tikar, kedua di layoff dari perusahaan, dan bahkan banyak perusahaan-perusahaan yang kita kira very steady, sudah enterprise, ternyata mereka layoff sangat banyak,” tambah Kania. Belum lagi Kania berpikir bahwa Ruben pun bekerja di perusahaan besar yang notabene siapa yang tau apa yang akan terjadi dikemudian hari.
“Jadi aku pikir, well, you have a gift, I have something, why don’t we kawini. Karena kan aku orangnya suka jualan kan. You have a gift, he is basically talented, he is gifted with all of this crazy idea about food. Dan aku pikir yukkita kawini yuk. Kita kolaborasi, and then make something out of it. Sehingga itu bisa jadi side hassle kita. This pandemic has been a blessing for us as a family and as a human being, kita jadi grow banget ya.” Tegas Kania.
Belum lagi Ruben yang melihat kejadian ini adalah kejadian yang lucu karena sejak dahulu ketika ia bekerja di perusahaan besar, portofolionya adalah bagaimana bisa membantu UMKM. Tapi akhirnya ia yang menceburkan dirinya sendiri di dalamnya, dan membawahnya pada suatu pengalaman baru yang memberikan adrenalin, serta memberikan dorongan semangat untuknya.
Dapur Ruben pertama kali membuka PO pada tanggal 30 Mei 2020. Awalnya mereka hanya ingin membuka PO sebanyak 30 pesanan Buttermilk Fried Chicken, yang mereka pikir jusru apabila tidak laku, akan mereka bagi-bagikan saja kepada tetangga-tetangga mereka. Namun ternyata pada hari tersebut, kuota pemesanan melunjak menjadi 145 pesanan. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Ruben dan Kania membuat waiting list yang dimasukan ke kloter minggu berikutnya. Dari yang hanya memasak pada hari sabtu, kemudian bertambah menjadi hari selasa dan sabtu, kemudian bertambah lagi menjadi selasa, rabu, dan sabtu, sampai akhirnya sekarang setiap hari adalah hari produksi Dapur Ruben. Kecuali di hari senin dimana mereka libur.
Ketika ditanya kenapa Buttermilk Fried Chicken, jawaban Ruben simple “Jujur itu Buttermilk Fried Chicken itu salah satu menu favorite gue dari gue kecil. Mungkin favorite untuk banyak orang terutama orang di Indonesia. Karena kita semua doyan goreng-gorengan, kita semua doyan yang basis ayam. Tapi yang fried chicken yang ada pada umumnya hanya fried chicken yang kita makan biasa di restoran food chain pada umumnya. Jadi gue mungkin mau memperkenalkan Buttermilk Fried Chicken, yang gue waktu kecil pernah makan, itu kok rasanya bisa membawa gue, kembali ke masa lalu. Jadi unsur nostalgic itu sih sangat penting buat gue. Basically I just share what I love, dengan sebanyak-banyaknya orang sih.” Kata Ruben.
Benang merah menu makanan yang disajikan oleh Dapur Ruben tidak jauh-jauh dari hal-hal yang memiliki unsur sentimental untuk Ruben dan Kania, serta anak-anaknya. Rencananya, kedepannya, menu tambahan yang akan disajikan untuk para pelanggan juga akan selalu memiliki unsur sentimental untuk mereka. Contohnya saja pada menu kedua yang mereka jual yaitu Tteok-bokki. Dimana menu ini disajikan karena Ruben sering memasak untuk Kania, ketika malam-malam Kania sedang menonton drama korea. Menu ketiga yang disajikan adalah turunan dari Buttermilk Fried Chicken Dapur Ruben yaitu gourmet burger, dengan brioche, chilli ranch dressing, avocado, caramelized onion dan saus spesial buatan Ruben. Ditambahkan dengan home made chips. “It’s not rocket science juga buat bikin Buttermilk Fried Chicken, tapi his buttermilk fried chicken is completely different. Karena kenapa? Karena resepnya Ruben. Karena Ruben punya cerita tersendiri sama si Buttermilk Fried Chicken itu. Dia hidup, tumbuh, makan, itu dari dia kecil, jadi dia punya specific taste sama the right buttermilk fried chicken, based on his standard,” tambah Kania.
Keduanya melihat Dapur Ruben di masa depan, berbeda. Ruben melihat bahwa ia ingin mulai merambah kepada dispatch kitchen, yang akan memudahkan pengiriman ke titik-titik yang jauh dari head kitchen mereka, dan belum terlalu memikirkan restoran fisik untuk para pelanggan bisa dine-in. Sedangkan Kania justru ingin sekali memiliki restoran seperti bistro ataupun kafe, namun tidak menjadi masalah apabila hanya dengan outlet yang sekarang menyediakan area dine-in. Karena dirinya merasa passion-nya adalah pada melayani customer dan berinteraksi dengan mereka. Namun keduanya sama-sama setuju bahwa mereka tidak ingin terlalu memaksakan terlalu berat bahwa mereka ingin melakukan ekspansi.
“Kita menjalankan bisnis ini sebagai our creative outlet, jadi one of the thing yang mau gue lakukan adalah, jujur gak mau bisnis ini treated as really like a real business. Karena kalau gue nge-treat ini like a real business, gue takutnya it’s not fun anymore. Dan gue juga gak bisa gunakan dapur gue sebagai creative outlet. So I just want to make sure, kita ada balance di keduanya itu sih.” Tutup Ruben dan Kania.


