Site icon Tworubber

Equal Opportunity Untuk Perempuan dan Laki-laki di Dapur

YouTube Poster

Berkembang bersama dengan Potato Head Family Jakarta, Jessica Eveline kini menduduki posisi General Manager. Pada saat ini, Jessica incharge dalam operasional Three Buns serta Kaum Jakarta. Sebagai seseorang yang bisa dibilang easy going dan suka makan, ia merasa bahwa itulah yang mendorongnya untuk bergerak di bidang food & beverage (F&B). Jessica adalah orang yang suka makan dan masak, sehingga menjadi bagian hidupnya untuk menyalurkan kebahagiaannya melalui makanan yang masuk kedalam bagian dari passion-nya.

Mengambil sekolah culinary arts di Le Cordon Bleu, Amerika, ia memulai karier memasaknya. Mempelajari semua teknik memasak secara teori, Jessica kemudian mengimplementasikannya pada saat ia kerja magangdi Downtown, Los Angeles, di restoran bernama Café Pinot. Disana Jessica mulai mempelajrai mengenai speed, preparation, dan segala macam teknik yang tidak diajarkan pada saat sekolah dulu sampai sekitar 1,5 tahun. Sampai saat itu ada kendala perihal visa bekerja yang sangat susah didapatkan, akhirnya Jessica memilih untuk balik ke Jakarta untuk mencari pekrjaan. 1-2 bulan sempat menganggur, Jessica akhirnya bergabung dengan Potato Head Family Group dan memulai karier sebagai cook pada sekitar tahun 2013 di Potato Head Garage. Luckily, Jessica mendapat kesempatan emas untuk dipromosikan menjadi head chef Three Buns, yang sekaligus merupakan batu loncatan yang cukup jauh. Tidak berhenti sampai disitu, prestasi Jessica bertambah ketika ia diberikan kesempatan untuk dipromosikan kembali untuk posisi Operational Manager. Posisi ini adalah posisi baru yang belum pernah disinggahi oleh Jessica.

Sempet dilema, karena ini sesuatu yang agak berbeda, kalau jadi head chef kan masak, masak, masak. Emang impiannya kan selalu pengen masak ajaPengen ngembangin kemampuan pribadi sebagai seorang chef. Tapi dari satu sisi opportunity ini agak jarang, dimana gue sendiri bisa belajar aspek yang lebih besar lagi. Jadi aspek gak cuma masak dan makanannya doang. Tapi dari aspek bisnisnya juga. Dari food cost lah, dari beverage-nya, barnya, mengembangkan suatu tim yang sukses seperti apa. Akhirnya yaudah mau di ambil challenge-nya.” Terang Jessica.

Arti untuk bekerja di F&B untuk Jessica cukup dalam artinya. Tidak hanya ia bekerja di suatu bidang yang benar-benar ia sukai, dan merasa punya passion di dalamnya, Jessica merasa beruntung karena bisa berada di dalam Potato Head Family. Suatu perusahaan yang besar, namun semua dianggap sebagai keluarga. Jadi bukan hanya passion, tapi lingkungan juga mendukung. Termasuk staff. “Jadi menurut gue, udah gitu F&B bisnis ini kanterus berkembang nih. Banyak hal yang dipelajarin, makin modern, makin banyak influence-influence dari luar dan juga dari Indonesia, yang sebenrnya belakangan ini influence budaya Indonesia ini semakin naik dan semakin dihargai.” Tutur Jessica. Makanan untuk Jessica adalah sebuah simbol kebahagiaan. Ketika seorang Jessica bertemu dengan makanan yang enak, ia bisa langsung berubah menjadi happy dan sumringah. Sama seperti nasi goreng, Jessica yang easy going bisa dibawa kemana saja. Bisa mewah, bisa juga nasi goreng pinggiran yang dua-duanya bisa menjadi sesuatu yang enak. Memiliki value yang berbeda-beda. Ditambah terkadang bisa pedas yang melambangkan mengesalkan, namun friendly.

Hal-hal yang membuatnya kepincut untuk terjun ke dunia F&B pada saat dirinya kecil. “Mungkin ini tipikal cerita semua orang chef atau gak orang-orang di kitchen lah bisa dibilang. Jadi tuh yang membuat gue akhirnya ‘ih kayaknya kepengen nih masuk lebih dalem lagi’, itu kayak waktu lagi kecil ngeliat oma gue masak. Jadi oma gue tipikal oma-oma Belanda, suka masak dirumah, masakan jaman dulu banget sih sebenernya, dan masak, sering banget ngundang keluarga untuk makan bareng dirumah. Jadi tuh kayak kekeluargaan, si oma masak, nyajiin, kita makan bareng di satu meja kita ngobrol, itu tuh satu hal yang membuat menjadi trigger, this is what I aim to do in my life,” papar Jessica. Saat ditanyakan, apa yang akan dilakukan Jessica apabila saat ini ia tidak bekerja di F&B, jawaban Jessica adalah menjadi fotografer. Tetapi sepertinya menjadi hal yang bukan jalan hidupnya, karena sejak SMP pun, Jessica telah membantu tantenya di bakery milik keluarganya untuk membuat kue dan roti, disaat anak-anak lain menghabiskan waktunya di mall.

Sebagai seorang perempuan yang cukup muda dan bekerja di lingkup F&B itu, menurut Jessica cukup keras. Apalagi mengingat persaingan yang lumayan keras. Tidak jarang wanita dikatakan lemah. moody dan banyak menggunakan feeling.

“Tapi menurut gue itu adalah challenge yachallenge yang sebenarnya kita gak boleh asal terima dan akhirnya kita menyerah gitu. Yang harusnya sebenarnya kita terobos terus dan kita belajar kalau sebenernya kita tuh equal, sama laki-laki atau semua chef-chef yang mungkin laki, atau manager yang laki-laki yang bisa sukses juga. Karena I think we have equal opportunity,  untuk menjadi seorang perempuan di bidang F&B yang sukses juga.” Tambah Jessica.

Tujuan Jessica adalah untuk mengeksplor Indonesia lebih jauh lagi, karena menurutnya masih banyak tempat indah yang bisa dijadikan destinasi, namun masih minim masyarakat Indonesia yang menyadari betapa kayanya negri pertiwi.

“Jadi pengen belajar lagi, mungkin aku di Kaum sekarang ini juga pengen lebih belajar ingredients masakan-masakan Indonesia yang orang gak tau bahan-bahan kayak, buah-buah hutan, atau gak seafood Indonesia, sebenarnya banyak yang lebih kaya lagi karena kan kita negara kepulauan nih,” cerita Jessica.

“Kalau dibilang sukanya, setiap hari kita happy, bisa dibilang. Karena F&B itu adalah bisnis yang menyenangkan yah. Bisa dibilang business pleasure juga, memberikan orang kesenangan pada saat makan, minum. Kita bisa punya banyak opportunity untuk kenal banyak orang, networking. Bisa nyobain hal-hal yang baru Kayak ingredients, atau makanan kita mencoba restoran ini, restoran yang disana, gitu loh, dan juga memasak dan akhirnya juga mengeksplor, brainstorming, sama temen-temen gitu loh, mungkin itu sisi menyenangkannya. Kalau sisi dukanya mungkin, waktu ya, waktu abis banget kepake di restoran. Restoran bisa dibilang rumah pertama saya sih, bukan rumah beneran. Jadi banyak banget waktu yang dihabiskan di restoran untuk bener-bener membuat itu semua menjadi kesatuan yang bisa berjalan dengan lancar.” Tutup Jessica.

Exit mobile version