Site icon Tworubber

Besar di Italia, Stef Mencoba Peruntungan di Indonesia.

YouTube Poster

Lahir di kota kecil di pinggir laut, Coastal Italy, Northwest Coast, Stefania Vigone atau yang biasa dipanggil Stefie dan Stef, sudah mendedikasikan dirinya untuk melayani customer selama ia hidup. Stef melihat drinya sebagai orang yang kuat. Ia tidak pernah berhenti untuk terus berusaha bagaimanapun kondisinya. Ketika ia merasa tertekan, ketika hidup sedang tidak berjalan sesuai keinginannya, ia selalu mencoba untuk mencari sisi baik dari segala hal. “I always try to see the glass almost full, not empty. So I am quite positive,” tambah Stef.

What I hate is dishonesty and laziness. I don’t like people who are not honest, I don’t like people who are not straight forward. Because even if sometimes is hard, you need to get the truth of everything,” tambahnya.

Ia memulai kariernya sejak ia kecil. Stef bekerja di dunia dapur awalnya, karena neneknya yang memiliki restoran setelah perang dunia ke II pada tahun 1947. Stef melihat neneknya sebagai janda dengan 2 anak yang sangat tangguh. Pada awalnya restoran tersebut dibuka oleh nenek dan ibu stef sebelum akhirnya ia ikut berkecimpung di dalamnya. Konsepnya lebih kepada hotel kecil sekaligus restoran kecil. Tugas pertamanya dalam membantu neneknya didapatkan ketika ia berumur 8 tahun, pada saat dirinya sedang libur sekolah. Stef mendapat tugas untuk mengambil roti yang masih panas dekat dengan hotel neneknya, untuk memenuhi permintaan customer pada saat sarapan. Stef selalu memperhatikan neneknya yang selalu cakatan dalam melakuakn tugasnya sebagai cook. Bahkan Stef bercerita bahwa neneknya mampu melayani 40 customer yang mendadak datang secara bersamaan dalam waktu 5 menit. Menyiapkan appetizer, pasta dan maincourse secara bersamaan. Setelah itu stef yang telah menginjakan kakinya di bangku Sekolah Menengah Keatas, mengambil sekolah bahasa dan telah mempelajari 4 bahasa. Tak lupa ia juga mempelajari bahasa Indonesia, namun ia masih kurang puas dan ingin terus belajar untuk meningkatkan kemampuannya.

Setelah neneknya meninggal dunia, Stef dan ibunya membuka restoran baru di historical center of the city. Menyajikan wine sebagai tradisi dan kebiasaan orang Italia, dan traditional recipe dimana setiap harinya ada menu tersendiri yang disajikan. Sebagai contohnya, di Italia, menu yang akan disajikan dan disantap pada hari minggu adalah Ravioli and Rabbit. Pada hari kamis mereka akan menyantap Gnocchi, dan ikan pada hari Jumat. Setelah semuanya berjalan dengan lancar, dan kebetulan tidak sedikit dari keluar Stef yang sudah berada dan menetap di Indonesia, dirinya memilih untuk ikut tinggal di Indonesia dan membuka restoran baru lainnya, bersama dengan ibunya, saudara kandungnya serta suaminya di bilangan Kemang, Mamma Rosy. Baru pada 3 tahun yang lalu, Stef di hubungi oleh pihak Biko Group untuk ikut bergabung dan berkolaborasi dalam pembukaan Pippo. Sejak saat itu Stef memutuskan untuk bergabung dan ambil andil dalam makanan-makanan yang disajikan oleh Pippo. Ia juga memiliki tanggung jawab dalam mengurus staff dapur Pippo.

“Basically what you see here is a part of me. It’s what I love, it’s what I want to transmit to people,” tutur Stef.

Makanan adalah segalanya untuk Steff. Menurutnya makanan dapat mengembalikan memori lama, bukan untuk disesali, tetapi untuk dipelajari. Mempelajari masa lalu dan bagaimana caranya untuk memperbaiki diri sendiri setiap harinya. Selain itu, makanan juga bisa memperbaiki mood kita sehari-hari ketika kita sedang sedih, untuk membuat diri kita merasa nyaman. “Food is a chain to be attached to the past, and it also can brings you to the future. Cooking and loving to cook is very important, because it allows you to learn about your past but also to try to better yourself every time, and try to find something in the others that can give you inspiration in order to better your skills or also to better yourself. And i think food is a cure, so when you are sad, and you want something comforting, you need to remember what was the past. That why a lot of recipes that I use here, they are from my grandma, my uncle, my aunties. Because every time I cook them they bring me back to the memories. And that is the most important that I think food can give you,” ucap Stef sambil mengingat masa lalunya.

Apabila diartikan sebagai makanan, menurutnya dirinya seperti Penne Alla Pirata. Nama ini diberikan karena dish ini adalah makanan yang mengusung pirate style. Mengapa demikian? Orang asia mungkin akan menyebut nama tersebut ketika mereka harus memasak dengan semua bahan masakan yang ada di dapur. Percampuran antara saus tomat yang asam dan manis, dan saus pesto sebagai campuran dari basil, olive oil, parmesan cheese, serta garlic, dilihatnya dapat merepresentasikan dirinya, “I can be sweet, I can be acid, I can be strong, but at the same time I can be very happy because basils is a herbs that gives good mood. So I think I can be all of them. Be careful if you come in the days that I can be the tomato sauce.” Memasak baginya adalah proses pembelajaran. Pada saat di dapur Stef mengatakan bahwa kita harus rendah hati, tidak perlu memikirkan bahwa kalian baru saja memulai karier kalian, dan tidak perlu berfikir bahwa kalian sudah menjadi yang terbaik. Memang kita harus tetap melihat karya-karya dan prestasi sesama untuk menjadi acuan diri, namun pada saat yang sama, ibu dan neneknya selalu mengajarkan untuk selalu straight forward. Tidak perlu memikirkan komentar buruk dari orang lain, agar apa yang dilakukan bisa mengikuti kata hati dan bukan karena tuntutan orang lain.

You need to be yourself first. And i think that food is a lessons for life, to be in the kitchen, to be in the group of the kitchen.”

Stef selalu merasa bahwa dirinya memang sudah ditakdirkan menjadi seorang cook“I don’t like the word chef, and I appreciate that you call me a cook. I don’t feel myself as a chef. But I was born in the kitchen, I was sleeping in the backyard of the hotel. So the hotel of my grandma’s are the kitchen, the bathroom and the bedroom. And the bedroom was half bedroom and half  was the slicing machine, fridge and whatever was needed by my grandma. So all my life, because i was sleeping there until i was 11. I always think about new recipes. The way I cook is very simple. I think that’s why I don’t like to be considered a chef. I can do things, but I’m not so skilled, I think that my way of cooking is very simple, but at the same time it’s strong. Strong flavours.” Stef merasa tidak ingin pulang ke rumah. Ia senang berada disana. Stef merasa bahwa menjadi seorang cook memang sudah mendarah daging, dan keluarganya yang telah meng-influence­-nya. Ia ingin jujur kepada dirinya sendiri dan dilampiaskan kepada masakannya. Original dan honest.

Stef yang sekarang bertanggung jawab atas dapur Pippo, mencurahkan semua hatinya serta masakannya yang dibuat dengan cinta. Masakan tradisional yang dibawanya, menurutnya tidak akan sama dengan yang lain karena setiap orang yang memasak akan berbeda 1 dengan yang lainnya. “So I cook the same recipe of my mom and my grandma, but always with a different twist. Like the flavors is sometimes a little bit different. I try to keep in simple anyway. I always try to have a straight forward relationship with my staff. So I don’t want them to consider me as a boss, or a head. Of course there’s a references, that’s for sure. But I like to be the same level, like we are on the same pot and we need to cook. So basically that’s my philosophy. You need to be simple, you need to be humble, but you need to go and be honest, especially on the ingredients.” Signature dish dari Pippo adalah Gnocchi Patro Formaggi, Gnocchi Safron with Bacon or Beef. Risotto and Tangliolini and Black Ink. Black Ink yang digunakan di Pippo sedikit berbeda dengan tempat lain di sekitaran Jakarta karena resep ini didapatkan oleh Stef dari temannya dan disempurnakan kembali.

Adrenalin yang didapatkan serta kesempatan untuk bertemu orang banyak hingga kesempatan mengekpresikan diri, menjadi pengalaman yang sangat baik untuk Stef. Ia juga sangat senang bekerja untuk Pippo. Menurutnya Pippo adalah grup besar yang sangat baik, karena ia mendapatkan banyak pengalaman yang banyak. “You never feel alone even if your alone when you work in the kitchen,” kata Stef sambil tertawa. Yang menjadi duka bekerja di dunia F&B menurut Stef adalah waktu dan schedule. Ia ingin keluarga juga memahami, bahwa untuk bekerja di dunia F&B bukan hanya absen masuk jam 8 pagi lalu absen keluar jam 5 sore. Akan ada hari-hari panjang dan melelahkan. Namun semua kembali pada diri sendiri. Harus disiplin adalah salah satu kuncinya untuk bisa bekerja di F&B. 

“I think the excitement is to go home tired, but happy that you have a group that is following you, that supporting you and understands you. And of course the customer. That’s the most exciting thing. Knowing the customer that appreciate your job, and they like you, they like the idea of all the place. The excitement is also when there’s a party, and see a lot of people coming here together. Dance together, because I like to dance. So that’s the excitements. The side area of your job,” tutup Stef.

Exit mobile version