Setelah mengulas banyaknya pebisnis food and beverages (F&B) yang berhasil bertahan di masa pandemi COVID-19, kini tworubber ingin mengulas beberapa bisnis F&B yang terpaksa menutup outlet-nya. Kalau kalian sering melewati jalan Gunawarman, destinasi untuk mencari restoran dan tempat nongkrong, kalian pasti pernah melihat plang merah dengan gambar anak kecil perempuan yang sedang menyeruput ramen. Yak, tepatnya Yoisho Ramen yang berlokasi di sebrang KFC Gunawarman.
Yoisho Ramen adalah kedai ramen yang menyuguhkan hidangan yang berbeda dengan tempat ramen lainnya. Biasanya yang ditonjolkan adalah ramen authentic dari Jepang. Namun Yoisho Ramen justru ingin menonjolkan segi fusion dari ramen yang dihidangkan. Bima Nindra Hartanto selaku pemilik dan chef dari Yoisho Ramen belajar langsung dari chef Jepang, soba, dengan spesialisasi Udon dan Ramen. Ia juga sempat berkeliling, ikut dengan guru chefnya untuk menjadi konsultan di kedai-kedai ramen kecil di New York seperti Jin ramen dan Samurai Papa.
Yoisho adalah kata kerja atau kata yang digunakan sebelum atau saat mau melakukan sebuah tugas. Misalnya saat ingin mengangkat barang, atau saat sedang ingin istirahat. Yoisho sendiri tidak memiliki arti yang konkrit, sesuai dengan brand yang ingin Bima bangun yang mengangkat nilai fleksibilitas dan menjadi brand yang adaptable di segala situasi. Untuk signature dish–nya sendiri, Bima memilih ramen polos atau biasa disebut shio yang mengedepankan rasa asin dan ayam.
Sejak COVID-19 melanda, penurunan sales Yoisho mencapai di atas 70%, karena mayoritas customer Yoisho lebih suka untuk dine in. Otomatis, dikala PSBB seperti kemarin, Yoisho terpaksa beradaptasi kepada sistem delivery. Menurut Bima, Ramen yang di take away sudah cukup aneh, kecuali dry ramen. Sehingga Bima mencoba berkreasi melalui frozen food dan Do It Yourself Kit (DIY) seperti daging vakum, saus vakum sampai sayur. Apapun dicoba oleh Bima untuk dijual.
“Yoisho is pretty much is dead,” jelas Bima.
Sebagai F&B constultant yang membuat produk dan menjual bakmie, tanpa sampingan kerjaan lainnya sulit sekali baginya untuk mengembalikan Yoisho seperti sedia kala. Apalagi dengan lokasi yang di pojok. Dirinya mengaku telah melalui proses pembelajaran. Melalui seluk beluk yang tidak mudah. Pada saat Bima merasa dirinya sudah settle, Yoisho justru dihantam oleh COVID-19. Bima sempat melakukan promo besar-besaran seperti discount, buy on get one, free dessert bahkan sampai apabila menulis review akan mendapatkan free dish. Ternyata usaha melalui platform-platform ternama juga belum juga membantu Yoisho untuk bangkit. Yoisho adalah restoran pertama Bima dan ia mengakui bahwa dirinya adalah orang yang idelais. Bima menyadari bahwa ia harus menurunkan ego-nya karena tidak bisa semuanya selalu sesuai keinginan diri sendiri. Harus lebih fokus kepada customer karena yang ia tekuni adalah bisnis “they pay your bills, they pay your staffs bills.” Bima tidak sabar agar semua situasi kembali normal dan semua bisnis kembali bangkit, “Fuck COVID-19 sih” tambahnya.
Bima akhirnya memutuskan untuk melakukan strategi pivot. Dengan adanya New Normal, dengan kapasitas restoran yang dianjurkan untuk dikurangi 50%, Bima hanya bisa menanmpung 25 orang di dalam, sehingga ia akan memaksimalkan wilayah outdoor untuk ditambahkan seating. Selanjutnya, Bima juga akan mengganti nama Yoisho yang sampai saat ini masih di godok, “mungkin bukan Yoisho Ramen tapi Yoisho something else. Mungkin namanya beda, tapi lokasi tetap sama.” Untuk specialty-nya masih berkutat pada noodles dan Jepang. Bima mengaku ingin lebih bermain ke udon atau soba,
“banyakan restoran ramen dan udon di Jakarta. Tapi banyak tempat yang belum banyak nonjolin how flexible the noodle is. Yang dimengerti di Jakarta lebih ke authentic-nya. Gak salah tapi padahal kalo ke Jepang banyak yang modern dan casual juga,” tambah Bima.
Kalau ditanya 3 tahun yang lalu, Bima berkata ia ingin memiliki 30 cabang Yoisho. Tetapi sekarang, Bima ingin berfokus kepada Yoisho dengan branding barunya, dan hanya berfokus pada satu outlet saja, mungkin dengan menu-menu garapan barunya. Bima ingin membangun bisnis yang positif dengan training ulang terhadap para karyawannya.
Bima berpesan untuk pebisnis baru yang ingin mencoba peruntungan di bidang F&B, agar kalian bertanya kepada diri sendiri terlebih dahulu “first of all, ask yourself why do you wanna open f&b actually. Lo passionate, if you think you’re gonna make a lot of money doing this, just stop, its tough, its not easy. Unless kalo lo punya partner or connections.” Kalian harus tau kemana bisnis kalian ingin dibawa. Yang penting semua diatur dalam planning yang matang. Selain itu research market juga penting. Have a goal, have a plan. Jangan pernah takut untuk bertanya dan meminta bantuan kepada yang sudah lebih berpengalaman dan jangan takut untuk salah. Selain itu berusahalah untuk berani mencoba hal-hal baru agar bisa berbeda dari yang sudah ada.
“at the end of the day, bisnis man harus maju, bikin sesuatu yang produktif, semua orang punya cara untuk menghadapi covid-19 tapi jangan diem aja,” tutup Bima.


