Site icon Tworubber

Menjadi Barista Perempuan itu Banyak Suka Dukanya!

YouTube Poster

Sebagai salah satu barista perempuan Indonesia, Gabriela Karen Fernanda atau yang akrab disapa Gaby tidak sengaja terjun ke dunia barista. Dirinya juga menghadapi rintangan dan tantangan yang tidak sedikit untuk berada di ranah barista. Gaby adalah orang yang berubah-ubah. Ia menyukai tempat yang tidak terlalu ramai dan tidak suka orang yang terlalu banyak bertanya.

Background Gaby sebelum menjadi barista adalah alumni mahasiswi Moestopo jurusan Hubungan Internasional (HI).  Sebenarnya menjadi seorang barista bukan merupakan bagian dari cita-citanya. Sedari dulu Gaby sebetulnya ingin menjadi seorang pengacara. Dirinya mengakui bahwa perdebatan itu seru dan ia tertarik untuk menggeluti dunia pengacara. Namun takdir berkata beda. Awalnya, Gaby hanya coba-coba, “awalnya cuma coba-coba doang, akhirnya udah kecemplung udah suka, emang dasarnya suka minum kopi, yaudah deh sampai sekarang aja gitu belajarnya sambil kerja.”

Gaby adalah bagian keluarga Dua Coffee yang belajar dan tumbuh di dunia barista di Dua Coffee. “7 – 8 bulan awal di Dua, sempet resign setahunan lebih, ini baru masuk lagi, sama, 7 – 8 bulanan lagi di DUA,” jelas Gaby. Kopi untuk Gaby adalah kebutuhan. Gaby biasa mengkonsumsi kopi, setiap harinya. Ia merasa ada yang kurang apabila belum meneguk nikmatnya kopi di pagi hari.

Menurut Gaby, brewing adalah seni. “Jadi orang kalau mau nge-brew, tangannya beda-beda, rasanya juga pasti beda,” tambah Gaby.  Kopi yang sering dibuat Gaby di toko rata-rata espresso based. Tapi sesungguhnya ia lebih suka manual brew. Rasa yang ingin Gaby tonjolkan dari kopi buatannya adalah rasa asam, mengingat dirinya yang menyukai asam. Ia juga cenderung ingin menonjolkan rasa kopinya sendiri, rasa yang bold dan nendang!

“Yang suka aku minum black, aku gak terlalu suka yang pake susu sebenernya,” kata Gaby. Tapi ia beranggapan bahwa apabila dirinya di andaikan sebagai minuman, ia mirip dengan Ice Latte. Walaupun ada rasa pahit yang menyerang, tetapi ada sisi lembut dari susunya dan bisa manis juga. Biasanya Gaby akan bangun jam 5 pagi ketika masuk shift pagi yaitu jam 7 pagi dan bangun jam 11 atau 12 siang apabila masuk shift di siang hari yaitu jam 14.30. “Kebetulan kupu-kupu  jadi kalau misalnya dateng, kerja, selesai kerja pulang. Jarang keluar-keluar, emang gak terlalu suka keluar. Kalo dirumah nonton, baca buku, kayak oma-oma,” tambahnya sambil tertawa manis.

Sebagai perempuan di ranah pekerjaan laki-laki (menurut kebanyakan orang), Gaby mengalami suka dan duka along the way. Banyak sekali suka yang ia lewati. Seperti menambah lingkup pertemanan, keluarga baru, pengetahuan baru dan membuka jalur kepada pekerjaan lain yang baru juga.

“Sebenernya awalnya gak pingin bangetcuma iseng aja. Terus jadi sekarang itu jadi gak pingin keluar dari profesi barista karena udah cinta aja sih sama kerjaannya. Kerjaannya enak, enjoy banget ngejalaninnya, terus banyak hal-hal baru setiap hari, dengan jadi barista banyak pintu untuk hal-hal lain kebuka aja gitu.”

Namun yang menjadi duka Gaby ini juga perlu diperhatikan dan dicamkan untuk para customer di restoran atau coffee shop manapun, mengenai menghargai sosok perempuan sama seperti menghargai pekerja lain.

“Dukanya kalau digodain, apalagi digodainnya sama om-om gitu kan. Yang centil, udah paling gasuka tuh sama customer centil. Yang ngambil duit sengaja megang tangan kan kayak, ‘ngapain sih lo?,’” keluh Gaby.

Dibalik semua itu, Gaby sangat menikmati bekerja sebagai barista. Menurutnya customer itu tamu. “Tamu dalam arti, ini semua tuh aku anggap keluarga, jadi ini rumah. Ada orang dateng ya dia tamu, kita memang harus serve dia dengan baik. Tapi bukan berati, kita harus ikutin semua kemauan dia, dia juga harus ngikutin peraturan dari tuan rumah, jadi gabisa seenak-enaknya juga,” jelas Gaby yang melihat dirinya jika tidak menjadi barista, ia akan menjadi pastry chef ataupun guru TK.

Gaby selalu menganggap teman-teman barista di Dua Coffee adalah keluarga keduanya. Rutinitas mereka yang bekerja bersama, melalui konflik dan baikan, sama seperti di rumah kalian masing-masing. “Berantemnya karena mungkin cara kerjanya beda. Aku suka bersih yang ini anaknya rada teledor, ditegor dikit malah sakit hati, diem-dieman, tapi ujungnya baikan lagi.” Keseruan dibalik bar merangkum pada saat tim sedang men-develop menu baru, karena biasanya mereka akan berkumpul dan mencoba semua minuman mulai dari yang enak hingga tidak enak.

Exit mobile version